Noam Chomsky Membongkar Dua Wajah Amerika

Serangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Suriah tak terlalu mengejutkan. Serangan itu mengukuhkan paradoks lama: negara yang paling getol mengklaim peduli perdamaian  adalah yang paling kecanduan perang.

Paradoks itulah yang dibongkar Noam Chomsky dalam buku Who Rules The World.

Selama ini Chomsky memang dikenal sebagai kritikus utama dalam kebijakan luar negeri Amerika. Sejak Perang Vietnam, penjajahan Panama, hingga Perang Irak pengajar MIT menunjukkan ketekunan luar biasa untuk menunjukkan kemunafikan Amerika.

Betulkah Amerika munafik? Memiliki dua wajah?

Jika tuduhan Amerika munafik dilontarkan kalangan Islam, lazimnya itu ditanggapi sebagai ketakutan berlebih. Umat Islam – bahkan oleh sesama umat Islam itu sendiri – dianggap melebih-lebihkan.

Tetapi tuduhan dari Noam Chomsky rasanya tidak demikian. Chomsky patut dipercaya. Bukan hanya karena dia seorang akademisi yang memiliki dedikasi, tetapi juga karena kritiknya dilengkapi dengan data.

Dalam buku ini Chomsky membongkar doktrin Daerah Utama yang menjadi landasan kebijakan luar negeri Amerika. Dalam doktrin itu, Amerika mempercayai bahwa dunia adalah wilayah kekuasaannya. Anggapan inilah yang membuatnya merasa berhak menerabas batas teritori negara dan membuat onar negara lain yang berdaulat.

Misi utama kebijakan luar negeri Amerika bukanlah menjaga dunia, melainkan menjaga stablibitas kekuasaannya sendiri. Sejak Perang Dunia II, Amerika memang menjadi negara paling kuat yang tanpa tanding. Kondisi adidaya itu akan dipertahankan Amerika dengan melakukan berbagai cara.

Dulu Amerika menyeponsori pemberontakan-pemberontakan di negara “kiri/komunias” seperti Nikaragua. Dalilnya bisa macam-macam. Tetapi intinya, Amerika ingin kekuasaan mutlak atas dunia tetap berada di tangannya.

Saya sendiri yakin, kekacauan 1965 di Indonesia juga bagian dari usaha Amerika untuk tetap berkuasa. Dia akan menghabisi tokoh-tokoh yang berpotensi menjadi lawannya, termasuk tokoh seperti Soekarno.

Nah, kecanggihan Amerika terletak pada kemunafikan kebijakan luar negerinya. Pada satu sisi dia menawarkan konsep-konsep humanisme, penghargaan terhadap perdamaian, hak asasi manusia. Tetapi konsep-konsep itu hanya akan digunakan sejauh menguntungkan mereka. Sebaliknya, kalau nilai-nilai itu justru merugikan mereka,mereka tidak segan-segan melanggarnya dengan tingkat pelanggaran yang keji dan menjijikan.

Bayangkan saja, Amerika adalah negara yang mempelopori ditandatanganinya jaminan hak asasi manusia, tetapi Amerika pula yang melakukan kekejian di Guantanamo dan Abu Ghraib. Dan apakah kekejian itu disikapi sebagai kekejian yang serius? Tidak.

Chomsky menunjukkan, kalau Amerika dan sekutunya diserang lawan, dia akan katakan pelanggaran kemanusiaan. Tetapi jika yang dia serang adalah lawannya, bahkan dengan jumlah korban yang jauh lebih banyak, dia buat argumentasi yang menunjukkan bahwa serangan itu dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar.

Dan, mengapa orang-orang prcaya dengan alasan Amerika itu, sekalipun konyol? Karena Amerika tidak hanya menguasai dunia dengan militer. Ia juga menguasai dunia dalam ilmu pengetahuan, akses informasi, bahkan kebudayaan.

Dia memiliki agen ideologis yang tersebar di seluruh dunia, yang bisa digunakan untuk mendukung kebijakan luar negerinya. Intelektual-intelektual yang “segaris ideologi” bahkan banyak yang tampil sebagai intelektual “utama” yang dipercaya, diidolakan, dan ditunggu-tunggu fatwanya.

Amerika juga memiliki akses kepada lembaga kebudayaan yang bisa digunakannya untuk menabur doktrinnya melalui seni. Dengan seni, Amerika mendidik warga dunia bahwa apa yang dilakukannya adalah hal-hal baik. Kalaupun ada kesalahan, ya harus dimaklumi, karena kesalahan itu terjadi demi kepentingan yang lebih besar.

Membaca kebijakan luar negeri Amerika dari kacamata Chomsky benar-benar membikin bulu kuduk saya berdiri. Sebab, bahwa ada satu negara yang dengan kekuatan (baik hard maupun soft) bisa berbuat seenaknya tanpa harus menanggung hukuman moral bahwa perbuatannya secara keliru. Dengan dua kekuataan yang dimilikinya itu, Amerika bisa membunuh ribuan orang dalam waktu singkat sekaligus meyakinkan – dalam waktu singkat pula – bahwa pembunuhan yang dilakukannya mulia.

Di tangan orang seperti George W Bush Jr, senjata bernama Amerika terbukti telah menghabisi beberapa negara Islam: Irak dan Afganistan, menjadikan dua negara itu sebagai halaman belakangnya yang siap dikeruk kekayaan minyaknya. Kebijakan ini didukung oleh negara-negara “bermoral”, “berpendidikan”, dan “berkebudayaan tinggi” seperti Perancis, Inggris, Kanada, Jerman, bahkan Arab Saudi.

Tetapi, sekali lagi, itu bukan bagian yang paling mengerikan dari Amerika. Yang paling mengerikan darinya adalah: setelah mengobrak-abrik negara Islam itu, ia sekaligus berhasil meyakinkan orang Islam bahwa serangannya ke negara Islam bisa dimaklumi.

Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, oenulis buku Politik Bahasa Penguasa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.