Day dan Salmon – Catatan ke-5 Harjanto Halim

Saya keluar ke halaman belakang sambil membawa makanan. Saya memanggil Day kucing kami. Saatnya memberi makan. Day hanya diberi makan sehari sekali, seperti yang pernah diajarkan seorang teman.
“Only feed once a day, so you know whether the cat is sick…,” ujar teman yang telah berusia hampir 80 tahun dan tinggal di San Mateo, Amerika. Ia seorang penulis, juga seorang pelatih dan penyayang hewan.

“What do you mean?,” tanya saya. Masak memberi makan cuman sekali?
Si teman mengangguk, lalu menjelaskan, “If you feed more than once a day, you don’t know whether it is sick or full when it doesn’t eat…” Kalo ngasi makan lebih dari sekali (dalam sehari), kita tidak tahu apakah ia sakit atau wareg saat ndak mau makan. Hmm…
“But if you feed only once, if it doesn’t eat, for sure it is sick…”
Wah, hek-eh, bener, kalo cuman dikasi makan sekali, dan tidak dimakan, pasti ia lagi sakit.

Saya menuang makanan berupa sisa lauk semalam yang sudah saya campur dengan sekepal nasi panas dan sesendok makanan kucing kaleng ke dalam wadah. Day mengendus sebentar, lalu malah berlari ke sebuah kolam di sisi halaman. Lho, piye sih? Biasanya ia langsung melahap makanan yang saya tuang, karena sudah kelaparan berpuasa semalaman. Ini kok malah mblandhang? Saya mengikuti dari belakang.

Nampak Day sliwar-sliwer di tepi kolam setinggi setengah meter. Sebuah kolam pendek yang hanya berisi tanaman air. Ekor Day tegang.
“Day!,” panggil saya.
Si Day menoleh sebentar, lalu kembali sliwar-sliwer. Saya mendekat dan melongok ke dalam kolam. Dan mak-deg!!, jantung saya meh copot. Saya melihat Salmon, kelinci yang barusan saya beli, yang bulunya putih berbelang coklat kayak karpet, mengambang di permukaan air. Walah, kok isa kecemplung ki piye??? Rupanya Day hendak memberitahu – teman barunya sedang dalam kesulitan. Pinter yo. Tapi saya heran, kelinci kok bisa melompati dinding setinggi setengah meter?

Saya segera mengangkat tubuh Salmon yang basah-kuyup kedinginan. Air menetes membasahi rerumputan. Saya pikir ia sudah jadi bangkai, tapi ternyata ia masih bergerak. Saya langsung berteriak memanggil si Sulung.
“Ambilkan anduk! Dua!!! Cepet!!”
Si Sulung yang sedang ngopi bersama Isteri membuka pintu, dan matanya terbelalak melihat pemandangan di hadapannya.
“Cepet ambilkan anduk!!!,” ulang saya.
Si Sulung mbalik ke dalam dan segera muncul dengan dua handuk.
“Dan hair dryer…!!,” seru saya.
Si Sulung masuk lagi dan muncul dengan hair-dryer di tangan.
“Cepet, cepet bawa sini!!”

Saya membungkus tubuh Salmon yang menggigil dengan handuk ‘good-morning’ made in China, lalu melapnya hati-hati. Salmon diam saja. Si Sulung menghidupkan hair-dryer dan mengarahkan udara kering-hangat ke tubuh Salmon. Saya membalik-balik bulu Salmon dengan handuk, membantu mempercepat pengeringan.

Salmon diam saja. Saya khawatir ia akan mati karena kedinginan. Takutnya sudah semalaman terendam.
“Tapi bisa juga barusan (kecemplungnya)…,” celetuk si Sulung.
Saya mengangguk. Mungkin saja. Si Sulung terlihat khawatir. Ia mulai menyukai Salmon. Salmon memang lucu dan manja. Kalau dipanggil, ia akan langsung mendekat, hidungnya mengendus-endus, tubuhnya telentang, “Aku siap di’blay’…” Terus matanya merem-melek. Hehehe, lalu Day pun ikut mendekat, mengeong dan menggosokkan tubuhnya ke kaki, “Aku juga mau dooonggg…”

Perlahan Salmon mulai siuman. Kakinya menendang saat saya membalik tubuhnya. Hidungnya mengendus-endus. Saya kembali melap dan mengeringkan tubuhnya. Perlahan bulunya mulai mengering dan tubuhnya mulai menghangat. Tau-tau Salmon menjilati tangan saya. Lho kok kayak kucing? Saya merasa geli. Ini kucing apa kelinci, ya? Saya membiarkan Salmon menjilati jari-jari saya. Mungkin itu cara dia berterima-kasih.

Akhirnya tubuh Salmon kering dan hangat. Saya membawa Salmon ke halaman. Nampak Day tengah melahap sarapannya.
“Day pinter ya…,” ujar saya pada si Sulung.
Si Sulung mengangguk. “Ya. Ndak pake meyang-meyong…, langsung ngasi tau…”

Saya meletakkan Salmon di atas rerumputan. Ia langsung melahap kangkung yang disediakan si Sulung. Saya dan si Sulung menatap dua ekor hewan yang imut dan manja. Yang satu telinganya panjang, yang satu barusan jadi ‘pahlawan’. Mereka sedang sarapan bersama. Mereka saling menjaga dan saling mengasihi. Mereka juga tahu cara berterima-kasih.

September 2015

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *