Dari Istar, Untuk Lelaki yang Kini Terasa Sulit Dijangkaunya

Menulis catatan ini bukanlah sebuah keberanian, justru kelemahan karena terasa berat untuk mengomunikan langsung kepadamu. Sungguh, seandainya kita dapat berbicara dari hati ke hati tanpa prasangka dan penyangkalan, aku akan memilihnya.

Akan tetapi, jarak yang cukup panjang dari hati kita masing-masing tak dapat lagi dijembatani. Mungkin, kamu menganggapku tak dapat diajak bicara, begitupun aku. Bagiku, atas alasan apa aku harus selalu menjawab pertanyaanmu dengan gamblang? Sementara kamu selalu menjawab pertanyaanku dengan sangat halus dan tersirat, hingga pikirku terkadang tak mampu menyambungkannya.

Namun demikian, aku selalu merasa, kamu adalah sosok yang cerdas dan cakap. Kamu akan bercerita hal lain, bila tak mampu untuk mengakui kesalahan. Mungkin, itu lebih menguatkan kecerdasanmu, bila tak mampu mengakui kebenaran, alihkanlah perhatian. Hal itu, juga semakin membuatku sadar, tak seharusnya dalam hubungan sosial, aku selalu menginginkan hal yang hitam-putih, salah-benar, baik-buruk, singkatnya tak seharusnya aku menakar. Namun, izinkan aku bercerita, mungkin untuk terakhir kalinya, tentang masalah yang belum terselesaikan.

Ada Sisi dari Dirimu yang Membuatku Bahagia, tetapi Ada Sisi Lain yang Membuatku Prikhatin

Aku selalu diajari, setiap hal buruk ada hal baik mendampingi, atau sebaliknya. Aku pun juga mengakui, banyak cerita yang membuat aku bahagia mengenalmu. Kestabilan emosimu yang cukup membuatku tenang, pemikiran-pemikiranmu yang tak biasa, dan kebaikan-baikanmu yang mengejutkan. Kakak, mungkin kita sama-sama tahu, kamu spesial.

Kakak, tidak ada seorangpun yang menginginkan membagi rahasianya secara detail, apalagi terbuka di depan umum. Aku memilih ini, agar aku tidak bisa menyangkal kata setelah kuucapkan. Tentu saja ini semua beralasan. Kak, tentu kamu berhak bercerita, tetapi mencampurkan harapan dan kenyataan, dapat jatuh pada fitnah. Terlebih, bila hal tersebut untuk membanggakan diri semata. Semua orang, tentu boleh khilaf, permasalahannya, khilaf yang tak dapat ditoleransi, butuh kata maaf.

Celakanya, setelah delapan jam perjalanan yang kau tempuh dan mengucap maaf, kau malah bercerita pada temanmu, tentang hal buruk yang ada didiriku. Aku yang tidak memiliki jiwa yang cukup luas, tentu tak ambil diam. Selanjutnya, aku selalu memancingmu untuk meminta maaf kembali, untuk mengaku salah. Akan tetapi seperti biasa, dengan keangkuhanmu, kamu selalu berbelit. Kamu dan aku sama-sama menuntut jawab, tapi tak ada yang mau memverbalkan secara jelas. Kita sama-sama membuat perumpaan entah pada permintaan atau pertanyaan.

Kita Sama-Sama Menyukai Cerita

Salah satu dari sekian banyak yang kusuka darimu, kita sama-sama menyukai cerita. Bahkan mungkin, kita merangkainya, hingga tak seorang pun pandai mendeteksi. Kak, kamu bisa mengatakan itu hanya ilusiku, tapi bukankah di saat kamu memutuskan untuk berhenti berbicara padaku kamu mengakuinya bila itu bukan ilusi. Kak, secara real, kamu tak pernah memberi komentar di statusku, karena secara nyata, kita lebih suka berbalas pesan singkat dan WA.

Kamu banyak menyangkal hal yang kamu bicarakan, tapi untuk terakhir kalinya kamu mengakui. Oh itu tentu saja tak penting. Akan tetapi, hal-hal yang kamu ucapkan kepada temanku merupakan penyangkalan-penyangkalan dari yang sering kita bicarakan. Temanku adalah orang yang selalu menjadi pendengar setiaku.

Tuntutan maafku, lebih pada pembuktian bahwa aku tidak membohongi temanku, karena diapun kini sering meragukan ucapanku. Aku hanya sedikit berduka, bila jarang sekali aku melakukan kebohongan, dan karena data yang diingkari oleh yang lain, aku menjadi diragukan.

Mungkin ini Terkesan Konyol

Maafkan aku yang terkesan konyol mengharuskanmu meminta maaf padaku. Meskipun aku sadar hak setiap orang untuk menilai dan percaya, ternyata aku juga semakin sadar akan diriku. Diriku yang ternyata belum siap dengan penilaian negetif. Kakak, atas kesadaran ini, saya berterima kasih. Ada yang lebih jauh lagi tentunya aku sadari, terima kasih selalu berbicara dengan simbol, kode, ataupun indeks, karena dengan menggunakan hal tersebut, seseorang akan mudah untuk menyangkal makna.

Kak, kau pernah berkata padaku,”Hidup kita bukan seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir menurut hukum gravitasi Tuhan. Hidup kita juga tidak seperti ikan Salmon yang selalu menentang arus dan selalu menentang keputusan-keputusan Tuhan. Hidup kita harus seperti kapal yang berselancar di lautan, kita harus tahu irama angin yang membawa kita, dan kapan kita harus menerjang ombak yang menghalangi tujuan kita.”

Aku akan menambahkan, ada hal lain yang belum kau sampaian. Tanda akan memudahkan kita mencapai tujuan atau menerjang ombak.

Kakak, salam hormatku,
Dari adikmu bernama Istar.

Sumber foto: wallpaperhd.pk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.