Chloe, Tentang Pelacur, dan Caranya Menghormati Orang Lain

Setelah beberapa kali bertemu, Catherine (Juliane Moore) akhirnya berani juga menyampaikan pertanyaan itu kepada Chloe (Amanda Seyfried).

“Bagaimana kamu bisa melakukan itu?” tanya Catherine dengan sedikit ekspresi heran.

“Itu” yang Catherine maksud adalah “melayani secara seksual laki-laki yang tak pernah dikenalnya”.

Pertanyaan itu jelas berkaitan dengan profesi Chloe sebagai lady escort papan atas di New York. Sebagai lady escort, Chloe piawai melayani para pelanggannya. Yang membikin Catherine heran barangkali, kemampuan Chloe untuk bahagia menjalani pekerjaan yang bagi sebagian orang justru menjijikan itu.

Jawaban Chloe menarik. “Saya berusaha melihat kebaikan dari diri mereka. Sekecil apa pun. Saat saya tidak menemukan itu, saya akan terus berusaha mencarinya.”

Meski ini Cuma ada dalam film, dialog ini menurut saya keren. Chloe, pelacur dalam tokoh itu, memberi pelajaran penting soal bagaimana cara menaruh hormat dengan orang lain.

Selain mata Amanda Seyfreid yang aduhai (hahaha…), dialog ini adalah yang paling berkesan. Dialog ini mengajak saya berefleksi.

Sebagian besar ketidakbahagiaan yang saya rasakan bermula dari cara saya memandang dunia dengan murung dan penuh curiga.

Saat bertemu orang, kadang muncul prasangka. Saat orang lain bicara, kadang saya tersinggung. Saat orang lain menyampikan kritik, saya kadang menerima itu sebagai hinaan.

Keleliruan memandang dunai benar-benar bisa membuat dunia jadi tempat yang buruk, atau tampak buruk. Persepsi itu membuat membuat seseorang murung, marah, bahkan terjerembab kebencian.

Dulu saya suka gondok melihat pengendara motor yang ngebut. Itu tindakan yang selain membahayakan, juga menunjukkan rasa kurang hormat terhadap pengguna jalan lain. Kecenderungan gondok itu kemudian reda ketika suatu hari mendengar istri nyeletuk “Istrinya mungkin mau lahiran”.

Aha!

Orang-orang yang saya anggap berperangai buruk, mungkin saja tidak buruk sebagaimana saya melihatnya. Kalaupun itu tampak buruk, mungkin saja dia punya alasan yang masuk akal. Saya tidak pernah tahu alasan-alasan itu karena hanya fokus pada tindakannya, bukan pada latar belakangnya.

Bagi guru seperti saya, itu cara yang cukup membantu dalam menghadapi siswa atau mahasiswa. Saat melihat mahasiswa kantuk di kelas, saya mereka-reka cerita dalam pikiran: mungkin semalam dia menunggui temannya di rumah sakit.

Begitu pun dalam bertetangga. Saat ada tetangga bakar sampah sehingga asapnya masuk ke rumah, saya mereka-reka cerita: mungkin beliau tidak tahu kalau angin mengarah ke rumah saya.

Intinya, temukan kebaikan dalam diri orang lain. Mereka mungkin saja buruk, tapi mungkin saja mereka juga baik. Pilih saja kemungkinan kedua. Dengan focus ke kemungkinan kedua, kita bisa bersikap hormat kepada orang lain. Sikap hormat itu, siapa tahu, bisa mengurangi beban prasangka sehingga kita menjadi lebih bahagia.

Bagi saya pribadi, eksperimen seperti ini perlu terus diulang. Bukan karena punya watak mulia. Jelas bukan! Tapi justru untuk mengurangi beban yang mungkin tak perlu saya tanggung.

Buat orang  lemah seperti saya, potensi beban sosial dan psikologis memang musti dikurangi. Prinsipnya, jangan bebani diri mengurus keburukan orang kalau energi untuk memperbaiki perilaku sendiri saya belum memadai.

Salam super!
Rahmat Petuguran

Gambar: spiegel.de

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.