Bisakah Menghentikan Perkembangan Bakat Mengolok-olok Kita yang Telanjur Berkembang Pesat?

BAKAT mengolok-olok manusia Indonesia tampaknya berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Itu tampak dari berbagai jutaan pernyataan publik yang diproduksi orang tiap hari: status Facebook, komentar, komentar berita, berita itu sendiri, dan analisis.

Bakat ini terekplorasi hingga pada kemampuan yang mencengangkan karena senantiasa dilatihkembangkan. Dukungan moril dan infrastruktur untuk bakat itu juga tersedia dalam jumlah yang melimpah.

Dukungan moril itu, terwujud antara lain, berkat semakin mapannya konsep “Saya komentar maka saya ada” pada para pengguna internet.  Konsep itu dibarengi dengan berkembangnya berita online yang propageview yang atraktif dan interaktif. Juga tentu saja: kebebasan berpendapat.

Adapun dukungan infrastrktur mengolok-olok tersedia dalam bentuk ruang komentar yang tersedia di mana pun, juga akses internet yang semakin murah dan mudah.

Kadang saya kagum dengan kemampuan mengolok-olok yang telah diraih manusia Indonesia. Perkembangannya benar-benar mencengangkan. Variasi mengolok-olok bisa berjumlah puluhan, dari bentuk yang halus sampai bentuk yang vulgar, dari yang reflektif sampai yang kocak.

judge

Dari berbagai variasi itu, dapat diamati adanya pola. Pertama, olok-olok hampir selalu berawal dari terpeyorasinya sosok tertentu. Peyorasi, dalam pengertian sederhana saya, adalah teknik mengungkpkan sesuatu agar tampak buruk. Sosok-sosok yang baik dapat dipeyorasi sedemikian rupa.

Misalnya, banyak orang mempersepsi Prof Dr Marwah Daud Ibrahim semata-mata sebagai “orang tersesat” dan goblok karena ia mengikuti Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Kiprah intelektual dan sosialnya hilang begitu saja, dilesapkan, sehingga tidak ada hal yang tersisa di mata publik selain keburukannya.

Anies Baswedan dipeyorasi sebagai sosok bodoh hanya karena ia menyampaikan sungai di Jakarta bersih dirancang Foke. Kiprah intelektual, gebrakannya menginisiasi Gerakan Indonesia Mengajar, juga sejumlah inovasinya selama menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hilang. Yang tersisa: Anies bodoh. Itulah proses peyorasi.

Kedua, proses peyorasi itu menghasilkan sikap merendahkan orang lain. Ini sebuah skema psikologis dan kognitif yang berjalan dengan sangat cepat. Ketika kita (atau cuma saya?) termakan oleh proses peyorisasi di tahap pertama tadi, saya akan merasa Marwah Daud atau Anies Baswedan adalah benar-benar sosok yang sebagaimana saya persepsikan. Perspsi yang abstrak dan imajiner berkuasa sehingga yang aktual diabaikan.

Ketiga, dari kecenderungan merendahkan tadi, akan muncul sensasi glory, yaitu sensasi merasa diri lebih unggul dari subjek yang telah diseting untuk diolok-olok itu. Fokus pada kejelekan orang lain melahirkan kejumawaan baru, yaitu perasaan lebih baik. Ini perasaan yang muncul, kerap kali tanpa kendali.

Ketiga proses ini melahirkan sikap angkuh yang tinggi, mengabaikan bahwa sosok yang kita olok-olok memiliki rekam jejak baik, sementara kita cuma kelas menengah baru pecandu internet.

Dari sinilah muncul pertanyaan: bisakah perkembangan bakat mengolok-olok dalam masyarakat kita dihentikan? Saya berhipotesis, olok-olok bisa berjalanan dengan dua kemungkinan. Pertama, sebagai kebutuhan kognitif-psikologis. Kedua, industri.

Sebagai kebutuhan psikologis, aktivitas mengolok-olok bermanfaat untuk menutupi kekurangan (lack) pada orang-orang yang minim prestasi. Karena minim prestasi, pengakuan terhadap keunggulan diri dibangun dengan merendahkan orang lain. Dari situ akan muncul kenikmatan, pengkuan bahwa dirinya hebat.

Sebagai industri, olok-olok adalah aktivitas yang menghasilkan uang miliaran rupiah. Siapa yang menikmati uang itu? Para blogger, para content writer, publisher, agensi iklan, dan mungkin saja para praktisi humas dan marketing comunication (marcom).

Olok-olok, mungkin sebagaimana kemarahan dan kegembiraan, menggerakkan orang untuk beraktivitas di internet. Dan aktivitas di internet (kerap kali disebut trafic) adalah sumber pendapatan yang sangat-sangat-sangat menjanjikan.

Dari skema itu, aktivitas olok-olok dimainkan oleh tiga pihak yang memiliki peran berbeda. Pihak pertama, yaitu mereka yang menikmati peran sebagai pengolok-olok dengan gratisan. Mereka inilah kelompok konsumen isu, yang begitu melihat berita langsung membuat simpulan, siap memuntahkan labrakan dalam bentuk olok-olok.

Pihak kedua adalah para industriawan yang memetik uang jutaan rupiah dari indutri olok-olok. Mereka adalah pemilik media online.

Di antara dua pihak itu ada satu pihak yang menjadi perantara. Mereka adalah orang-orang yang memproduksi olok-olok untuk memancing olok-olok pihak pertama sehingga semakin semarak agar bisa memperoleh sejumah bayaran (yang biasanya kecil) dari pihak kedua.  Peran inilah yang dimainkan para blogger, analis, kolumnis, dan wartawan nyinyir. Mari lanjut membaca Trust Me, I’am Lying karya Ryan Holiday. (gambar: annida-online.com)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Sedang berdisposisi dari peran pertama ke peran kedua

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *