Angka dan Prasangka

Calon kepala daerah tampak gembira mendapat nomor urut undiannya. Kegembiraan itu tampaknya berasal dari tafsir bahwa angka yang diperoleh akan membawa kebaikan bagi dirinya.

Dalam berbagai tradisi, angka memang bukan Cuma lambang bilangan. Ada berbagai makna yang digali dan dilekatkan kepadanya, baik secara semantis maupun semiotis.

Makna yang melekat pada angka bisa sangat personal-subjektif, karena dibangun dari prasangka pribadi orangnya. Tapi prasangka yang personal itu bisa menjadi prasangka bersama melalui mekanisme sosiokognitif yang oleh Yuval Harari disebut sebagai para-subjektif.

Meski begitu, makna terhadapnya bisa saja suka-suka. Orang bisa menolak prasangka lama dan membuat prasangka baru versinya.

Mengapa angka satu (yang dilambangkan dengan garis lurus seperti ini: 1) adalah angka sakral? Apakah karena bagi umat agama tertentu melambangkan ketauhidan?

Mengapa angka dua (yang dalam huruf latin dilambangkan dengan garis lengkung dan patah seperti ini: 2) adalah perlambang keseimbangan dan harmoni? Apakah karena 2 melambangkan bersatunya unsur-unsur yang berbeda dalam wadag yang sama?

Mengapa pula, angka tiga (3) melambangkan kehidupan? Apakah karena banyak konsep agam yang menggunakan konsep trinitas/trimurti?

Di luar matematika dan statistika, tidak pernah ada teks yang cukup legitimate untuk menahbiskan bahwa secara objektif angka satu lebih baik dari angka lainnya. Makna angka adalah tafsir semata, lahir berkat kecanggihan imaji manusia.

Pada mulanya, angka-angka dicipta untuk memudahkan manusia mengelola benda-benda di sekitarnya. Kalkulator paling tua adalah jari manusia. Namun jari Cuma 10 jumlahnya, sehingga – untuk kebutuhan hitung yang lebih besar – diperlukan simbol-simbol yang lebih kuasa.

Bangsa Sumeria mengembangkan simbol berupa batang jelai untuk menghitung utang pajak kepada raja. Lantaran banyak fungsinya, ia dipakai dalam sistem perdagangan.

Saya menduga, bias budaya adalah awal paling mula dari lahirnya tafsir terhadap angka yang beraneka.

Orang China boleh saja menganggap angka 9 sebagai angka raja, karena merupakan angka tertinggi dibanding lainnya.

Orang Jawa juga leluasa menganggap angka tujuh atau pitu seabagi pertanda pertolongan. Makna ini lahir dari permainan bunyi belaka.

Umat Islam juga boleh menggunakan angka satu sebegai tanda katauhidan. Tapi itu tak akan menghalangi Chacha Handika dan jomblo militan lainnya untuk memaknai angka 1 sebagai lambang kesendiran, kesepian, dan rasa merana yang menggila.

Hidup serasa kaku
Bagaikan angka satu
Meranalah… kini merana

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *