19 Tahun Nasima Mencerdaskan Bangsa

Jauh hari sebelum pemerintah memunculkan terma “pendidikan karakter” sebagai aras pendidikan nasional, Nasima telah memulainya. Awalnya adalah Taman Kanak-kanan (TK) yang pada  7 Januari 1994 didirikan H. Yusuf Nafi. Bersama keluarga dan pengurus yayasan, ia berkunjung dari rumah ke rumah untuk mengajak mengajak anak-anak usia 4 tahunan agar mau sekolah di TK Nasima. Angkatan pertama, 12 anak menjadi murid pertama Nasima.

Kini, 19 tahun sudah Nasima berkiprah mendidik anak bangsa. Selama 19 tahun berkiprah, selama itu pula Nasima teguh mengembangkan dan menerapkan pendidikan karakter dengan menerapkan nilai nasionalisme dan agama. Jika November 2012 lalu Nasima memperoleh penghargaan sebagai sekolah dengan karakter berkebangsaan, itu hanya tetenger dari sebuah proses panjang.

Secara konseptual, Nasima didirikan di atas dua beton yang kokoh: nasionalisme dan agama. Maka, proses pendidikan Nasima sejatinya adalah pengejawantahan, pemahaman, penghayatan, dan penerapan dua nilai itu. Nasionalisme Nasima merujuk pada pemikiran pendiri bangsa, sedangkan nilai agama disarikan dari ajaran moral agama. Perpaduan keduanya dijadikan spirit untuk mewujudkan karakter anaka bangsa yang paripurna. Nilai-nilai itu kami sebuat sebagai ke-Nasima-an.

Aplikasi

Ke-Nasima-an sebagai nilai dimanifestasikan dalam proses pembelajaran, kultur sekolah, dan kegiatan-kegiatan insidental. Tujuannya, menegaskan keberadaan peserta didik sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang patuh pada syariat-Nya serta mencintai tanah airnya. Akidah dan aklak Islami dikokohkan supaya siswa menjadi warga negara yang dipadukan dengan eksistensi bangsa yang multikultural.

Semangat ke-Nasima-an tergambar dalam aktivitas siswa. Siswa, dari Kelompok Bermain sampai SMA, selalu disambut dengan senyum, salam, dan jabat tangan dari guru-guru. Pengibaran bendera Merah Putih di halaman oleh Tim Paskibra dan kumandang lagu “Indonesia Raya” selalu dilaksanakan setiap jam 07.00. Sementara itu di ruang-ruang kelas peserta didik didampingi wali kelasnya bermujahadah Asma’ul Husna, taddarus Al-Qur’an, doa sebelum belajar, curah ekspresi, sampai pembukaan kelas oleh wali kelas.

Curah ekspresi adalah “ritual” penting bagi guru dan teman sekelas menjadi pendengar yang empatik terhadap kondisi beberapa siswa yang mungkin “bermasalah” atau “survive”. Kelugasan mengungkapkan perasaan, merasa didengarkan, dan mendapatkan support dari teman atau guru menjadi energi positif untuk belajar giat di hari yang bersangkutan.

Bagi kelas III SD sampai SMA, pada siang hari ada rutinitas makan siang bersama dan shalat zuhur berjamaah. Menjelang pulang kelas ditutup dengan shalat asar berjamaah, merapikan kelas, conclusion dipandu wali kelas, dan doa sebelum pulang.

Secara insidental ke-Nasima-an dipupuk lewat kegiatan edukatif pada hari besar nasional dan hari besar keagamaan. Dari aneka lomba sampai pentas lintas budaya, dari ziarah ke makam pahlawan, sampai parade kostum pejuang berkeliling Semarang. Dari kegiatan bersedekah sampai silaturahmi dengan veteran pejuang. Dari eksplorasi lingkungan sampai live in di tengah masyarakat. Tujuannya tak lain adalah semakin memperkuat aqidah akhlak sekaligus kecintaan pada Indonesia.

Terpadu

Untuk membangun karakter siswa, pendidikan tidak dapat dilaksanakan secara parsial. Pendidikan harus berkesinambungan dan terpadu. Oleh karena itu, Nasima menyelenggarakan pendidikan di berbagai tingkat usia.

Secara tahap lembaga pendidikan mereka bisa dibagi menjadi usia kelompok bermain atau toddler (2-4 tahun), taman kanak-kanak atau kindergarten (4-6 tahun), dan kelas I-II SD (6-8 tahun). Usia dini merupakan fase yang fundamental dan menentukan bagi perkembangan individu dan kehidupannya. Di masa inilah setiap anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan secara luar biasa. Para ahli menggambarkan masa usia dini dengan istilah “golden age”.

Pada masa ini anak memiliki potensi yang sangat besar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Anak di usia dini berada pada masa super peka. Panca indera dan segenap aspeknya bekerja laksana kamera dengan pixel dan memori tertinggi. Semua peristiwa dan instruksi yang lewat di sekitarnya akan ditangkap dan diingat dalam memorinya.

Dasar yang koko ketika di PAUD dan TK dilanjutkan di SD, SMP, dan SMA. Selain materi-materi belajar berstandar nasional, Nasima melengkapinya dengan pendidikan agama, baca tulis Al Qur’an, program pengenalan lingkungan dan profesi, bahasa Inggris, dan komputer. Khusus bahasa Inggris dan komputer, Nasima mengoptimalkan peran guru internal sinergi dengan pihak ketiga yang kompeten, yaitu Smart English dan Komputertots.

Untuk mewujudkan model pendidikan tersebut, dukungan manajemen layanan mutlak diperlukan. Pengakuan terhadap nilai layanan pendidikan datang dari pemerintah dan lembaga internasional. Dari pemerintah misalnya, TK dan SD Nasima telah memperoleh akreditasi A (Sangat Baik). Adapun dari lembaga internasional, sertifikat ISO 9901: 2008 telah digenggam SMP dan SMA sejak tiga tahun lalu dan kembali berhasil dalam audit renual Desember 2012 lalu. Sertikasi yang sama telah diperoleh TK dan SD Nasima sejak setahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.