Connect with us

Pelajar Asia di Amerika biasanya menerima strerotipe sebagai jagoan matematika. Bagi Amerika, sebutan “Asia” biasanya merujuk ke China dan Asia Timur: Korea dan Jepang.

Ada penjelasan ilmiah yang menunjukkan itu bukan sekadar stereotip. Penulis Outlier Malcolm Gladwell menguraikan, bangsa China memang memiliki keuntungan alami yang membuat mereka memiliki kemampuan matematis lebih baik dari bangsa lain.

Angka dalam bahasa China diberi nama dengan nama yang sangat pendek, yaitu satu suku kata. Satu, yi. Dua, er. Tiga, san, dan seterusnya.

Nama angka yang pendek membuat orang China bisa lebih cepat ketika melakukan hitung-hitungan imajiner dalam kepala. Sebab, ketika seorang melakukan penghitungan, otak bekerja dengan membahasakan angka-angka yang dipikirkannya.

(Bandingkan dengan angka dalam bahasa Jawa: setunggal (3suku kata), kalih (2), tiga (2), sekawan (3). Orang Jawa perlu waktu dua atau tiga kali lipat untuk menyebut angka-angkanya).

Dalam terminologi sosial, keuntungan “alamiah” yang dimiliki bangsa China itu disebut dengan keuntungan kultural. Keuntungan seperti itu biasanya dimiliki oleh bangsa tertentu, diwariskan, sehingga menjadi karakter kolektif yang bertahan cukup lama. Karakter semacam itu bahkan tak hilang meski orang itu berdiaspora ke berbagai negara.

Orang Indochina (Vietnam dan sekitarnya) memiliki keuntungan kultural lain. Mereka memiliki semangat juang atau determinasi luar biasa tinggi.

Simpulan ini saya ambil bukan semata dari pertandingan sepak bola Indonesia versus Vietnam yang baru saja berlangsung. Tapi juga berdasarkan peristiwa sejarah yang melibatkan bangsa Viet di masa lalu.

Bangsa Viet barangkali satu-satunya bangsa Asia yang memenangkan dua peperangan sekaligus saat berhadapan dengan bangsa Barat. Pada Perang Indochina I (1954) pasukan Viet Minh membuat Perancis menderita kekalahan yang memalukan.

“Kemenangan” yang ajaib juga diraih Vietnam dalam Perang Indochina II. Meski dikeroyok raksasa seperti Amerika dan Australia, Vietnam berhasil menjaga kedaulatannya. Amerika harus mengalami luka finansial dan politik yang parah karena perang itu.

Salah satu strategi perang yang dianggap jadi kunci kemenangan Vietnam adalah gerilya. Dengan penguasan medan yang lebih baik, mereka menerapkan strategi hit and run. Seperti tak punya lelah, gerilyawan Vietnam biasa melintasi hutan dan gunung. Dalam beberapa kesempatan, perjalanan di medan yang berat itu harus dilakukan dengan membawa senjata rampasan perang.

Daya juang itulah yang agaknya jadi karakter nasional bangsa itu. Mereka mendidik anak-anak mudanya menjadi pemuda yang tangguh, memiliki daya juang baja.

Dalam pertandingan tadi, karakter itu sangat mudah ditemukan. Sejak menit pertama, pemain Vietnam langsung menyerang dengan penuh semangat. Mereka tidak memainkan sepak bola indah, juga tidak memainkan sepak bola dramatik. Tidak ada adegan cengeng pura-pura dilanggar seperti sering diperagakan pemain di liga Eropa. Mereka fokus meraih kemenangan dan mengerahkan sebanyak-banyaknya energi, di seluruh waktu yang mereka miliki, untuk mewujudkan itu.

Determinasi itulah yang membuat Vietnam jadi salah satu tim paling tangguh dalam Sea Games 2017.

Saya menduga, determinasi itu pula yang membuat Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling mengejutkan di Asia Tenggara. Dalam berbagai bidang Vietnam lebih maju dari tetangga-tetangganya yang lebih tua dan besar: Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Pertanyaannya, darimana determinasi itu mereka peroleh? Apakah karakter itu turunan dari sosialisme atau kultur agraris mereka? Variabelnya cukup banyak. Kita akan membahasnya di lain kesempatan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending