News
Dari Bosan di Masa Pandemi, Dewi Menemukan Dunia Baru Lewat Buku
Reporter: Shofi Nurul Aini
Bagi sebagian orang, buku mungkin hanyalah Kumpulan halaman yang berisi tulisan. Namun, bagi Dewi, buku adalah pintu menuju dunia lain. Dari halaman-halaman novel, ia merasa dapat berpetualang, mengenal berbagai kehidupan, bahkan membuat film sendiri di dalam pikirannya,
Kegemaran Dewi membaca bermula saat pandemi Covid-19 melanda. Saat duduk di bangku SMP kelas 2, aktivitas yang terbatas membuatnya merasa bosan di rumah. Di Tengah kejenuhan tersebut, ia mulai mencari kegiatan baru dan memilih membaca buku.
Buku-buku fiksi menjadi bacaan pertamanya. Novel karya Tere Liye menjadi beberapa buku yang menarik perhatiannya. Ia juga sempat membaca buku bertema misteri dan teka-teki detektif.
“Baca buku itu bagi saya seperti kitab isa membuat film sendiri di otak kita, di imajinasi kita,” ujar Dewi.
Baginya, membaca tidak hanya berarti mengikuti cerita yang tertulis. Ketika sebuah novel mengisahkan petualangan, Dewi merasa seolah ikut berada di dalam cerita. Ia dapat membayangkan perjalanan para tokoh dan merasakan berbagai situasi yang mereka alami.
Perasaan yang muncul saat membaca pun beragam. Ia dapat merasakan senang, sedih, terharu, hingga gemas saat konflik dalam cerita berada pada puncaknya. Bahkan, beberapa cerita pernah membuatnya menangis karena merasa tersentuh dengan kisah yang dibacanya.
Dewi mengaku salah satu buku yang paling berkesan baginya adalah Hujan karya Tere Liye. Ia turut menyukai karya milik Tere Liye lainnya karen cerita yang termuat tidak hanya hiburan saja, namun juga menyelipkan pembelajaran mengenai kehidupan.
Menurut Dewi, buku dapat memberikan pengaruh terhadap cara seseorang memandang kehidupan. Ia mencontohkan cerita tentang perjalanan seorang tokoh yang harus melewati kehidupan penuh lika-liku dan pengorbanan. Dari cerita tersebut, ia mendapatkan pesan untuk tidak mudah menyerah dan tetap memiliki semangat ketika menghadapi kesulitan.
Pesan dari buku tersebut terkadang ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak selalu disadari.
“Kadang terlaksana satu, dua,” katanya ketika ditanya mengenai penerapan pesan moral dari buku yang dibacanya.
Kebiasaan membaca Dewi pun menyesuaikan dengan kesibukannya. Jika sedang memiliki banyak waktu dan menemukan buku yang menarik, ia dapat membaca hingga setengah hari. Ia bahkan baru berhenti ketika mendengar azan.
Namun, tidak semua buku mudah dinikmati. Dewi mengaku pernah kesulitan memahami buku dengan penggunaan bahasa sastra yang menurutnya cukup rumit. Hal tersebut membuatnya menyadari bahwa selera membaca setiap orang berbeda.
Karena itu, ia tidak memandang ada buku yang benar-benar kurang baik. Menurutnya, ketertarikan terhadap buku sangat bergantung pada minat masing-masing pembaca. Ia sendiri lebih menyukai fiksi dan tidak terlalu tertarik dengan cerita yang terlalu berfokus pada romansa.
Bagi Dewi, membaca juga menjadi cara untuk melepas penat. Ketika kesibukan terasa monoton, buku dapat menjadi selingan agar pikiran tidak terlalu jenuh. Membaca membuatnya dapat berimajinasi sekaligus mengetahui berbagai hal yang tidak selalu ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegemarannya membaca bahkan memengaruhi kebiasaannya dalam menjelajahi lingkungan sekitar. Ketika melihat gang atau jalan yang belum pernah dilewati, rasa penasarannya muncul. Ia membayangkan ke mana jalan tersebut akan membawanya, seperti ketika mengikuti sebuah petualangan dalam buku.
“Kayak, ‘Oh ternyata ini kalau kita mau lewat situ bisa ke sini’, jalan pintas, menemukan jalan pintas,” tuturnya.
Untuk mereka yang baru ingin mulai membaca, Dewi menyarankan agar tidak memaksakan diri membaca setiap hari atau setiap bulan. Menurutnya, pembaca perlu terlebih dahulu mengetahui minatnya, apakah lebih menyukai buku fiksi, nonfiksi, novel, atau jenis bacaan lainnya.
Membaca, menurut Dewi, bukan tentang seberapa banyak buku yang mampu diselesaikan. Yang lebih penting adalah menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan menikmati prosesnya.
Dari kebosanan selama pandemi, Dewi akhirnya menemukan kebiasaan yang terus terbawa hingga sekarang. Buku bukan hanya menjadi teman di waktu senggang, tetapi juga ruang untuk berimajinasi, berpetualang, dan memahami kehidupan melalui kisah-kisah yang dibacanya.
Bagi Dewi, satu buku dapat membuka dunia yang berbeda—dunia yang tidak harus didatangi secara langsung, tetapi dapat dijelajahi melalui imajinasi.
-
Muda & Gembira12 years agoKalau Kamu Masih Mendewakan IPK Tinggi, Renungkanlah 15 Pertanyaan Ini
-
Lowongan11 years agoLowongan Dosen Akademi Teknik Elektro Medik (ATEM), Deadline 24 Juni
-
Muda & Gembira11 years agoSMS Lucu Mahasiswa ke Dosen: Kapan Bapak Bisa Temui Saya?
-
Muda & Gembira11 years agoSembilan Kebahagiaan yang Bisa Kamu Rasakan Jika Berteman dengan Orang Jepara
-
Muda & Gembira12 years agoInilah 10 Sifat Orang Ngapak yang Patut Dibanggakan
-
Muda & Gembira12 years agoInilah 25 Rahasia Dosen yang Wajib Diketahui Mahasiswa
-
Kampus13 years agoAkpelni – Akademi Pelayaran Niaga Indonesia
-
Kampus14 years agoUnwahas – Universitas Wahid Hasyim
