Connect with us

Kampus

Perkuat Citra Batik Patron Ambarawa, UNS Dorong Branding Digital Berbasis Kearifan Lokal

Published

on

Batik Patron Ambarawa tidak hanya menyimpan keindahan motif, tetapi juga sejarah, teknik membatik, dan cerita para perajin yang berada di balik setiap kain. Kekayaan tersebut kini didorong untuk hadir lebih kuat di ruang digital melalui strategi digital branding berbasis kearifan lokal.

Upaya tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) yang memberikan pelatihan digital branding dan strategi pemasaran kepada Komunitas Batik Patron Ambarawa di Dusun Poncol, Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Program bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Batik Patron Ambarawa melalui Inovasi Digital Branding Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Citra Produk” ini dilaksanakan pada Juni–Agustus 2026 melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan tim pelaksana dari UNS.

Ruang lingkup kegiatan meliputi peningkatan keterampilan digital branding, kemampuan merancang strategi pemasaran melalui media sosial, serta revitalisasi pameran berbasis digital branding produk.

Tim pengabdian diketuai Figur Rahman Fuad, S.Pd., M.A., bersama Esterica Yunianti, S.Pd., M.Pd., Anesa Surya, M.Pd., dan Rony Kurniawan Pratama, S.Pd., M.A. Tiga mahasiswa, yakni Saskiyatun Solikhah, Gesit Sehardyon, dan Mirna Ayu Setyo Dewi, turut dilibatkan sebagai asisten pelaksana.

Pelatihan menyasar 10 anggota Komunitas Batik Patron Ambarawa yang diketuai Desi Deria Ari Novitri. Pemetaan kebutuhan yang dilakukan sebelum program menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh anggota komunitas belum memiliki keterampilan digital branding, khususnya dalam membangun identitas produk, kemasan, narasi budaya, dan pengelolaan media sosial.

“Kami belum bisa digital branding,” ujar Desi, menggambarkan tantangan yang selama ini dihadapi komunitas.

Padahal, Batik Patron Ambarawa memiliki kekayaan cerita yang dapat menjadi bagian penting dari identitas produknya. Komunitas yang aktif sejak 2020 tersebut tidak hanya memproduksi batik, tetapi juga melakukan kajian sejarah dan arsip motif, mengadakan pelatihan membatik, seminar, hingga pameran.

Upaya tersebut menjadi bagian dari usaha menghidupkan kembali Batik Patron Ambarawa yang jejak sejarahnya sempat tersimpan dalam arsip Tropenmuseum Leiden, Belanda.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pendekatan program. Tim UNS tidak menempatkan kearifan lokal sekadar sebagai ornamen promosi, tetapi sebagai sumber utama dalam membangun identitas dan citra produk.

Sejarah Motif Menjadi Bahan Branding

Program diawali dengan sosialisasi kepada komunitas dan pemerintah setempat pada Juni 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pada Juli 2026 yang berlangsung di Sanggar Batik Trustha Wasis, Ambarawa.

Dalam pelatihan, anggota komunitas diajak menggali tiga lapisan cerita yang dapat menjadi materi digital branding, yakni sejarah dan arsip motif, proses serta teknik pembuatan batik, dan sosok di balik proses pembuatannya.

Sejarah motif, teknik pewarnaan alami, proses nglorod, penggunaan canting cap tembaga, hingga kisah para perajin dapat diterjemahkan menjadi materi komunikasi produk.

Pendekatan ini sekaligus menekankan pentingnya akurasi dalam membangun narasi budaya. Peserta diarahkan untuk mencantumkan sumber ketika mengutip informasi sejarah motif dan menghindari penciptaan cerita yang tidak memiliki dasar hanya demi menarik perhatian calon pembeli.

Dengan demikian, strategi branding tidak hanya mengejar daya tarik visual, tetapi juga membangun kepercayaan melalui cerita yang dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah mengidentifikasi sumber cerita, peserta belajar menerjemahkan kekayaan tersebut ke dalam berbagai bentuk konten digital, mulai dari fotografi produk, video pendek, caption, desain kemasan, hingga pemilihan kanal komunikasi.

Satu kain, misalnya, tidak hanya difoto secara keseluruhan. Peserta diarahkan mendokumentasikan detail motif dan tekstur, kain ketika dikenakan, proses pembuatannya, hingga kemasan dan label produk.

Video pendek juga diarahkan untuk mengangkat proses membatik, cerita perajin, maupun penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan telepon pintar dan perlengkapan sederhana.

Untuk menjaga konsistensi produksi konten, peserta dikenalkan dengan kalender konten selama satu bulan yang terdiri atas empat pilar utama, yaitu edukasi, proses, produk, dan apresiasi.

Pada sesi kerja kelompok, peserta menghasilkan sejumlah bahan yang dapat langsung dikembangkan komunitas, antara lain pernyataan positioning, palet warna, narasi tiga motif, dokumentasi foto dan video satu kain, serta kalender konten selama satu bulan.

Branding Berlanjut hingga Pameran

Strategi digital branding tidak berhenti pada pengelolaan media sosial. Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam revitalisasi pameran agar produk, cerita, dan identitas visual Batik Patron Ambarawa dapat hadir sebagai satu kesatuan.

Dalam pameran, setiap produk dapat dilengkapi label dan narasi yang memberikan konteks mengenai motif serta proses pembuatannya. Kode QR juga dapat digunakan untuk menghubungkan pengunjung dengan katalog digital sehingga informasi mengenai produk tetap dapat diakses setelah pameran berakhir.

Dokumentasi pameran selanjutnya dapat diolah kembali menjadi materi konten digital. Dengan cara tersebut, satu kegiatan pameran dapat menghasilkan berbagai aset komunikasi yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk memperkuat kehadiran digitalnya.

Peserta juga dikenalkan pada pemilihan kanal berdasarkan fungsi. Instagram dan TikTok dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan proses membatik serta cerita motif, sedangkan WhatsApp Business dan lokapasar dapat digunakan untuk katalog dan pemesanan.

Komunitas diarahkan untuk tidak sekadar hadir di banyak platform, tetapi memilih kanal yang realistis untuk dikelola secara konsisten.

Seperti dirangkum dalam materi pelatihan Rony Kurniawan Pratama, “Mereka tidak dibangun oleh satu unggahan yang ramai, melainkan oleh keterangan yang sama, warna yang sama, dan cerita yang sama, diulang dengan sabar.”

Melalui program ini, digital branding ditempatkan bukan untuk menggantikan karakter tradisional Batik Patron Ambarawa, melainkan sebagai sarana untuk membawa sejarah, proses, identitas, dan cerita di balik produk kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi komunitas, transformasi digital membuka peluang untuk memperkenalkan batik tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai warisan pengetahuan dan kebudayaan yang memiliki cerita.

Pendekatan tersebut diharapkan membantu Komunitas Batik Patron Ambarawa memperkuat citra produk, meningkatkan kemampuan pemasaran digital, sekaligus menjaga agar kearifan lokal yang melekat pada setiap motif tetap hadir dan dapat dikenali di tengah perubahan ekosistem pemasaran.

Dengan demikian, kain yang sebelumnya hanya hadir sebagai produk dapat memperoleh ruang baru sebagai cerita budaya yang hidup di ruang digital.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending