Connect with us

News

Kenalkan Tradisi Budaya, Ratusan Pelajar SMPN 16 Semarang Jelajahi Tiga Destinasi Sejarah

Published

on

PORTALSEMARANG.COM, SEMARANG – SMP Negeri 16 Semarang mengawali kegiatan kokurikuler tahun ajaran ini melalui outing class bertema Tradisi Budaya Nusantara. Kegiatan yang diikuti siswa kelas 7, 8, dan 9 tersebut mengunjungi Museum Ronggowarsito, Kota Lama Semarang, dan Lawang Sewu untuk mengenalkan sejarah serta keberagaman budaya Indonesia.

Kepala SMPN 16 Semarang, Purnami Purnami Subadiyah, S.Pd, M.Pd. menegaskan bahwa kegiatan kokurikuler tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa, tetapi juga menguatkan kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman. Menurutnya, lingkungan sekolah menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal berbagai perbedaan bahasa, budaya, dan suku sekaligus belajar menghargai satu sama lain.

“Kegiatan ini diharapkan semakin menguatkan semangat anak-anak dalam membangun kebersamaan dan persatuan. Berbagai perbedaan yang ada di sekolah harus kita hadapi sebagai instrumen pemersatu, yaitu dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain,” tegasnya saat diwawancarai di lapangan SMPN 16 Semarang, Kota Semarang, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, kegiatan kokurikuler menjadi salah satu upaya sekolah untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara melalui pengenalan serta apresiasi terhadap berbagai budaya yang ada di Indonesia. Nilai tersebut juga diarahkan untuk membentuk karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kebesaran Indonesia bukan dibangun dari persamaan, melainkan dari berbagai perbedaan yang berhasil disatukan,” lanjutnya.

Koordinator Kokurikuler SMPN 16 Semarang, M. Muhibbun, S.Pd.I, menjelaskan bahwa kokurikuler memiliki pendekatan yang berbeda dengan P5 yang sebelumnya dilaksanakan dengan pembelajaran berbasis proyek.

“Kegiatan kokurikuler ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau pada tahun sebelumnya kita melaksanakan project atau P5 yang pembelajarannya berbasis project, tetapi ini adalah kokurikuler, di mana kokurikuler ini adalah menunjang untuk pembelajaran secara intrakurikuler,” jelasnya.

Menurutnya, pengenalan tradisi budaya Nusantara tidak berhenti pada aspek pengetahuan. Siswa diarahkan untuk memahami budaya sebagai bagian dari akar sejarah, kekayaan, dan kebanggaan bangsa sehingga dapat mengenali jati dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Tradisi budaya Nusantara itu bukan hanya sebuah pengetahuan, tetapi bagaimana kita membawa pemahaman kepada peserta didik bahwa tradisi budaya Nusantara itu adalah akar sejarah anak-anak bangsa, kemudian kekayaan, kebanggaan yang lebih prioritasnya adalah mereka dapat mengenali jati dirinya sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.

Kegiatan outing class menjadi rangkaian pertama dengan tema “Kenali Budaya, Lestarikan Tradisinya”. Melalui kunjungan ke Museum Ronggowarsito, Kota Lama Semarang, dan Lawang Sewu, siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung mengenai sejarah dan kekayaan budaya yang berada di lingkungan sekitarnya.

Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan “Sinema Budaya Nusantara”. Siswa akan diajak menyaksikan film-film bertema budaya dan tradisi yang mengenalkan berbagai legenda, mitos, serta cerita Nusantara. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pembentukan karakter siswa melalui pemahaman terhadap nilai dan batasan perilaku.

Selanjutnya, siswa mengikuti “Racik Nusantara” dengan mengeksplorasi berbagai provinsi di Indonesia. Siswa akan menggali informasi mengenai makanan khas, pakaian adat, desain rumah tradisional, dan berbagai kekayaan budaya dari daerah yang dipelajari.

Hasil eksplorasi tersebut akan dituangkan dalam “Parade Budaya Nusantara”. Siswa akan mempresentasikan budaya daerah melalui pakaian adat, tari tradisional, lagu daerah, dan bentuk ekspresi budaya lainnya. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan Grebeg Maulid sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi di SMPN 16 Semarang.

Pada rangkaian terakhir, siswa akan diperkenalkan dengan “Dolanan Nusantara”. Kegiatan tersebut mengangkat kembali berbagai permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan di tengah perkembangan zaman.

Ahmad Muhib berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat membuat siswa semakin mengenal dan memiliki kepedulian terhadap keberagaman budaya Indonesia.

“Harapannya mudah-mudahan dari tradisi budaya Nusantara ini, anak-anak dapat kembali mengenal sehingga tradisi yang kita miliki dengan berbagai macam ragamnya itu tidak musnah ditelan arus zaman,” ungkapnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending