Unnes atau UNNES? Sebuah Tawaran Jawaban…

Melalui fanpage resminya Universitas Negeri Semarang mengumumkan bahwa penyingkatan (singkatan/akronim?) nama lembaga itu harus ditulis dengan huruf kapital semua. Pengumuman itu, agaknya, ditujukan secara internal untuk keperluan surat menyurat, penulisan judul karya ilmiah, tema kegiatan dan sebagainya.

Tapi karena disampaikan secara terbuka melalui Facebook, tentu saja itu menjadi perhatian publik. Perhatian publik itu, terutama, terjadi karena substansi pengumuman itu berbeda dengan aturan formal yang selama ini jadi pedoman.

Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015, khususnya huruf H nomor 7 mengatur bahwa “Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.”

Sebagai penulis, selama bertahun-tahun saya menggunakan pedoman itu saat menulis. Sebagai pengajar bahasa Indonesia, saya juga menyampaikan ketentuan itu kepada mahasiswa.

Karena itulah, setelah Universitas Negeri Semarang itu mengumumkan itu secara resmi, banyak kawan dan mahasiswa yang meminta penjelasan. Mereka menghubungi saya melalui berbagai saluran komunikasi.

Untuk memahami perilaku bahasa, baik individu maupun lembaga, kita bisa menggunakan sudut pandang strtuktural dan kontekstual. Ini dikotomi yang tidak tepat-tepat amat kalau digunakan dalam kajian linguistik. Tapi saya menggunakannya untuk memudahkan penjelasan.

Pendekatan struktural mengedepankan penggunaan bahasa secara benar, sesuai struktur dan kaidah kebahasaan yang telah jadi konsensus bersama. Sejauh bentuk tuturan sesuai dengan kaidah, maka tuturan itu benar.

Tapi bahasa adalah gejala yang hidup di masyarakat pada konteks sosial tertentu. Selain “kebenaran” berdasarkan kaidah  formal, penggunaannya juga perlu memperhatikan kebaikan.

Kalau rujukan kaidahnya adalah Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015, bentuk singkat Universitas Negeri Semarang mestinya adalah Unnes. Sebab, bentuk singkat itu adalah gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata.

Meski demikian, pilihan lembaga itu untuk berbeda dengan aturan formal sebenarnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademik jika mempertimbangkan konteksnya. Di sini, penilaian terhadap pilihan lembaga itu tidak lagi terikat hanya kepada aturan formal, tetapi aspek lain yang bserifat pragmatik.

Dalam pragmatik, pelanggaran terhadap aturan formal bahasa adalah gejala yang lumrah demi tercapaian tujuan komunikasi. Dalam pragmatik, yang jadi pertimbangan bukan kebenaran berdasarkan kaidah, tetapi kebermanfaatan yang lebih besar.

Melalui akun resminya, Universitas Negeri Semarang menyampaikan bahwa salah satu manfaat penulisan dengan huruf kapital adalah branding. Apa itu branding? Saya tidak bisa mempersoalkannya secara detail, tapi itu berkaitan dengan kesan yang ingin ditanamkan dalam ingatan publik.

Dalam komunikasi kelembagaan dan korporasi, branding adalah aspek yang sangat penting diperhatikan. Sebab, komunikasi kelembagaan tidak berorientasi pada tersampaikannya informasi, tetapi juga berorientasi pada munculnya kesan positif tertentu.

Nah, apakah menggunakan huruf kapital semua akan memunculkan persepsi positif? Pertama, tulisan huruf kapital cenderung akan membuatnya tampak menonjol ketika disandingkan dengan teks lain. Karena tampak lebih menonjol secara visual, tulisan akan relatif lebih teringat. Nah, pertanyaannya: apakah dengan begitu lembaga ini bisa menanamkan persepsi positif kepada orang yang membaca teks itu? Itu yang musti dijawab dengan riset berpendakatan reseptif.

Dalam banyak kasus, banyak pihak yang mempraktikkan strategi deviasi berbahasa semacam ini. Iklan-iklan rokok sengaja menyimpang supaya pesan komersialnya menimbulkan kesan afektif lebih kuat. Komedian menggunakan kecenderungan deviasi untuk membuat kejutan yang berefek lucu. Politisi juga kerap sengaja menjadi devian untuk menciptakan pembeda dengan politisi lainnya.

Dengan argumentasi kebermanfaatan itu, pilihan untuk menulis Unnes atau UNNES tidak lagi memadai kalau hanya diskusikan dengan aturan formal.  Pilihan bahasa itu perlu dipahami dengan perspektif yang lebih luas, yaitu strategi komunikasi.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Catatan:
Sejak dulu menulis PORTALSEMARANG.COM dengan huruf kapital semua,  supaya terkesan gagah ;-). Kalau ditulis portalsemarang.com kelihatan inferior. Kalau ditulis PortalSemarang.Com terkesan tidak konsisten.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *