Tantangan Terkini Pesantren Salaf

Pesantren salaf

Berhadapan dengan modernisasi, eksistensi pesantren tradisional (katakanlah pesantren salaf) kini diuji. Dengan segala keterbatasan konsisten pada satu tujuan: menjadikan santri sebagai muslim yang baik. Akankah bertahan atau harus melakukan banyak perubahan?

***

Matahari baru meninggi pada Minggu pagi pertengahan Juni. Ribuan orang berjalan kaki menuju bangunan tiga lantai bercat abu-abu besar di Kelurahan Koripan Magelang. Mereka adalah jamaah pengajian Ponpes An-Najach. Begitu banyaknya jamaah yang hadir, mobil seorang pejabat yang memasuki kompleks harus berhenti beberapa kali.

Pengajian pada Minggu pagi yang hangat itu dimulai dengan bacaan ayat Al-Quran. Jamaah, baik yang duduk di masjid maupun menggelar koran di halaman, diam tertunduk. Suasana mulai sedikit ramai ketika Kyai Abdul Mukti, pimpinan pesantren itu, mulai berceramah. Suaranya tegas, diperlantang dengan beberapa toa sekaligus. Jamaah bisa mendengarnya dari jarak 1 kilometer.

Pesantren An-Najach punya seribuan santri. Sebagian mondok (tinggal) di asrama, sebagian lainnya nglaju. Tidak hanya dari Magelang, santrinya datang dari Temanggung, Wonosobo, Batang, dan beberapa daerah lain. Meski terletak di desa kecil, jauh dari jalan raya, kegiatan keagamaan di pesantren ini sangat dinamis. Selain pengajian Minggu, An-Najach juga punya agenda manakiban tiap Selasa. Meski jamaah yang hadir tak sebanyak pada pengajian Minggu, jumlahnya tak kurang dari seribu.

Tak semua pesantren bisa terus berkembang. Di Cianjur, sebagimana diungkpan Heru Yuninato, beberapa pesantren gulung tikar. Pontren Al Irfan, di Desa Peuteuycondong, Kec. Cibeber misalnya, jumlah santrinya terus menyusut hingga sekarang tak seorang santri pun yang masih bertahan. Bangunan ponodok tidak terawat lagi. Padahal, sebelumnya aktivitas santri di pontren yang diasuh K.H. Achyad ini sangat dinamis.

Nasib serupa dialami Pontren Gelar, Kec. Cibeber, yang dulu termasyhur di Cianjur. Pamor pontren ini kini kian meredup. Begitu pun pontren lainnya, seperti pontren Ciharashas, Kec. Cilaku atau pontren Darul Fallah, Desa Jambudipa, Kec. Warungkondang. Animo masyarakat untuk menjadi santri potren yang dulu terkenal itu kian turun. Malah ada pula yang kemudian pengasuh pontren menyengketakan lahan pontren.

Pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro Prof Mudjahirin Thohir berpendapat, peran pesantren di masyarakat mengalami sejumlah perubahan dewasa ini. Dulu ponpes pernah menjadi pusat kegiatan spiritual sekaligus pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa, katanya, pesantren dulu berperan membangun ghiroh kehidupan berbangsa. Pesantren menciptakan ikatan batin nasionalisme  melalui dua kesadaran batin yang ditularkan kepada santrinya, yakni pentingnya kemerdekaan dan multikulturalisme. Menurut Mudjahirin, jauh hari sebelum pluarisme barat masuk ke Tanah Air, santri sudah memiliki kesadaran hidup di tengah keragaman.

Menurutnya, seiring perubahan kondisi masyarakat peran-peran itu ada yang bertambah tetapi ada pula yang berkurang.  “Sebagai lembaga agama, yang tetap dilakukan pesantren adalah membentuk santri menjadi muslim yang baik. Yaitu muslim yang tidak sekadar tahu ilmu agama, tetapi bisa nglakoni dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Relasi pesantren salaf dengan dunia di luarnya juga diindikasikan berubah. Sebagai subkultur, dulu pesantren mengambil jarak dengan dunia luar. Tapi jarak itu belakangan menjadi lentur. Mudjahirin mencontohkan, ada pesantren yang kyainya juga memiliki hubungan dekat dengan tokoh politik, pejabat, bahkan menjadi pengusaha. “Inilah perubahan yang mengaburkan ciri khas pada pesantren itu sendiri,” katanya.

Tantangan Modernitas

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama mencatat, jumlah pesantresn salafiah mengalami penurunan akibat timbulnya keinginan pihak pengelola pesantren untuk mendirikan madrasah atau sekolah yang diakui pemerintah. Sehingga, jumlah model kombinasi tradisional-modern meningkat.

“Meski demikian, jumlah pesantren salafi di Tanah Air masih dominan. Dari sektar 24.000 pesantren di seluruh Indonesia 13.477 di antaranya masih bertahan sebagai pesantren salaf. Adapun pesantren modern (‘ashriyah) yang menekankan pendidikan formal, jumlahnya sekitar 3.166,” kata Koordinator Bidang Informasi dan Data RMI Muhamad Agus.

Data lain menyebut, pada 2011 terdapat sebanyak 13.446 (49,4%) pesantren Salafiyah, dan 3.064 (11,3%) Khalafiyah/Ashriyah, serta 10.708 (39,3%) pesantren kombinasi. Populasi Pondok Pesantren terbesar berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten yang berjumlah 78,9% dari jumlah seluruh pesantren. Dari jumlah pesantren tersebut, terdapat setidaknya 3.642.738 santri. Santri laki-laki lebih banyak, yakni 1.895.580 orang (52,0%) dibanding santri perempuan yang jumlahnya sekitar 1.747.158 orang (48,0%).

Mudjahirin berpendapat, perbedaan ponpes dan salafi bisa ditengok dari berbagai aspek. Di pesantren salafi proses pengajaran sepenuhnya bersumber pada kitab-kitab klasik atau yang kerap disebut kitab kuning. Adapun di ponpes modern, selain menggunakan kitab kuning juga digunakan sumber yang lebih baru, baik berupa kitab maupun buku lain. Selain itu, pesantren modern juga mengembangkan pendidikan formal seperti tsnawiyah dan aliyah. Jika pesantren modern mengeluarkan ijazah yang diakui negara, salafi tak pernah mengeluarkan dokumen semacam itu.

Meski berbeda, salaf dan modern punya titik temu. “Pada batas-batas tertentu, pesantren salaf dan modern punya persamaan yaitu tafaqifidin atau mengajarkan tentang agama dan semangat keberagaman. Hanya tekanan pada masing-masing pesantren sangat diwarnai oleh keahlian dan interest oleh stakeholder,” katanya.

Jumlah pesantren dan santri bisa menjadi indikator kauntitaif untuk mengukur eksistensi pesantren belakangan ini. Diakui, peminat pesantren salaf mengalami penurunan akibat sikap hidup masyarakat yang berubah. Ketika pendidikan dipahami semata-mata sebagai strategi mencari pekerjaan, pesantren mulai ditinggalkan. Jumlah masyarakat yang belajar di pesantren salaf pun terus berkurang.

Di Sukabumi, Jawa Barat, sejumlah pesantren salaf juga krisis santri. Ketua Majelis Silaturahmi Pondok Pesantren (Pontren), Majelis Taklim dan Madrasah Sukabumi, K.H. R. Abdul Basith menganlisis, salah satu faktor penurunan jumlah santri terkait ini dengan kesadaran masyarakat untuk mendidik anaknya dalam memperoleh ilmu agama di pontren. Kondisi sosiologis masyarakat, terutama akibat beridirnya banyak perusahaan asing di SUkabumi, jadi salah satu penyebab dominan.

“Kini banyak orangtua memilih mempekerjakan anaknya di pabrik ketimbang harus menimba ilmu agama di pontren,” katanya sebagimana diberitakan Galamedia, 12 Juli 2012 lalu. “Warga Sukabumi beralih “mesantren” di pabrik korea,” lanjutnya merujuk pada sejumlah pabrik asal Korea yang menjamur di daerahnya.

Di Pekalongan, kota yang dijuluki sebagai kota santri, juga terdapat beberapa pesantren yang mengalami kemunduran signifikan. Dari 44 pesantren yang teregistrasi di Kantor kementerian Agama, hanya beberapa yang santrinya bertambah dari waktu ke waktu, yakni PP Ribatul Mutaalimin, PP Ar-Rifiyyah, PP Syafii, PP Tahfidz Al-Quran Buaran, dan PP Tahfidz Al-Irsyad. Adapun pesantren Al-Islah sudah 4 tahun terakhir tidak beroperasi karena kehabisan santri.

“Indikator lain tidak berkembangnya pesantren di Pekalongan adalah pertumbuhan kelembagaan di pesantren. Hampir semua pesantren tidak dapat mengembangkan institusi sayap sebagai pengembang pesantren,” tulis Aris Nurkhamdi, peneliti Universitas Pekalongan.

Mudjahirin berpendapat, pesantren memang tak pernah menjanjikan pekerjaan nagi santri dan alumninya sebagaimana dilakukan lembaga pendidikan formal. Di kalangan santri, pekerjaan dan kemandirian ekonomi menjadi problem internal. Secara keilmuan santri dan para alumni pesantren adalah elit baru karena mengerti agama. Namun secara ekonomi, dia belum tahu apa-apa. Kondisi ini membuat santri kerap berada pada posisi yang dilematis. “Kalau mau jadi pekerja kasar dia tidak nyaman (karena orang pintar), tapi untuk menjadi pekerja kelas tinggi dia tidak punya ruang,” katanya.

Kondisi ini coba diatasi oleh sejumlah pesantren dengan membekali keterampilan wirausaha kepada santri. Tujuannya, ketika lulus mereka memiliki bekal menjadi pribadi yang mandiri. Ikhtiar ini selaras dengan seruan Rasulullah supaya umat muslim selain memiliki ilmu agama juga mandiri secara ekonomi. Rasul sendiri seorang pedagang. Ia pernah bersabda bahwa kefakiran dekat dengan kekafiran.

Meski tak sedikit santri yang sukses secara ekonomi sepulang ngaji, kajian tentang bisnis dan kewirausahaan di pesantren tidak cukup operasional. Pembahasannya berkutat pada persoalan etika dan moral. “Kalau ada santri yang sukses berbisnis itu karena talenta bisnis yang dimilikinya, bukan karena hasil pendidikan yang sistemik,” pungkas Mudjahirin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.