Benarkah Madrasah Diniyah Terancam Lima Hari Sekolah?

Madrasah Diniyah

Pendidikan Indonesia berkembang berkat kerja sama berbagai lembaga. Lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan lembaa informal seperti madrasah diniyah mmemiliki peran yang sama-sama besar. Berbagai lembaga itu harus terus bekerja sama mencerdaskan anak bangsa.

***

Pengakuan bahwa madrasah diniyah penting tertuang dalam Undang-Undang Nomro 20 Tahun 2003. Pasal 8 dan 9 undang-undang itu menyebut, masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Adapun pada pasal masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya, pada pasal 13 disebutkan “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.”

Madrasah Diniyah (Madin) dapat dianggap sebagai hak sekaligus kewajiban masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan. Lembaga informal itu memiliki sejarah panjang, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Diinisiatori, dilaksanakan, dan diawasi sendiri oleh masyarakat, Madin memiliki peran besar dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia. Di madin mereka mempelajari agama, membangun relasi sosialnya, juga membentuk kepribadiannya. (Baca: Tantangan Terkini Pesantren Salaf)

Sejumlah ahli berpendapat, pendidikan di sekolah dengan pendidikan di madrasah diniyah saling melengkapi. Keduanya mmiliki keunikan yang sama-sama berguna. Sekolah formal mengadopsi aliran positivisme yang mengasumsikan pengetahuan secara formal. Karena itulah sekolah mengajarkan siswa berpikir logis, akademis, dan ilmiah dalam pemecahan masalah.  Pengetahuan dan keterampila di sekolah harus terukur dan terbuktikan. Sementara madrasah diniyah mengajarkan pendidikan agama yang menekankan pada penghayatan nilai. Kedua jenis pengetahuan itu sama-sama diperlukan untuk mengembangkan diri siswa menjadi pribadi yang utuh.

Sumber kepustakaan menyebut, madrasah diniyah mulai dikenal di Indonesia sejak 1908. Pada tahun itu sudah dikenal salah satu madrasan tertua bernama Madrasah Adabiyah yang dimotori Abdullah Ahmad. Dua tahun berikutnya didirikan Madrasah Schoel di Batusangkar oleh Syaikh M. Taib Umar. Berikutnya, M. Mahmud Yunus pada 1918 mendirikan Diniyah  Schoel sebagai lanjutan dari Madrasah Schoel. Madrasah Tawalib didirikan Syeikh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang (1907). Adapun Madrasah Nurul Uman didirikan H.  Abdul Somad di Jambi.

Berbagai organisasi kemasyarakat Islam mendirikan madrasah diniyah untukmendidik kader-kadernya. Nadlatul Ulama, Perhimpunan Umat Islam, Persatuan Islam (Persis),  Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan   Al-Jam’iyatul Washiliyah memiliki peran  yang besar mengembangkan Madin pada masa itu.

Madrasah diniyah sendiri  terdiri dari tiga tingkatan.  Madrasah Diniyah Wusta ialah madrasah diniyah tingkat pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai kelas II dengan jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.  Madrasah Diniyah Wusta ialah Madrasah Diniyah tingkat pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai kelas II dengan jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Adapun Madrasah Diniyah Ula ialah madrasah diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar 2 tahun dari kelas I sampai kelas II dengan jumlah jam pelajaran 18 jam pelajaran dalam seminggu.

Sejumlah riset membuktikan, madrasah diniyah menjadi sarana yang efektif dalam pembentukan karakter peserta didiknya.  Lembaga pendidikan ini memiliki keunggulan dalam pengelolaan, metdologi pembelajaran, orientasi tujuan.

Keunggulan Madrasah Diniyah

Peneliti UIN Sunan Ampel Ripin Ikwandi (2013) mengungkapkan setidaknya ada tiga hal yang membuat madrasah mampu eksis hingga kini. Pertama, Madrasah Diniyah lazimnya dikelola dengan spirit tanpa pamrih oleh para pendidiknya (asatidz-asatidzah). Spirit inilah yang menjadi motivasi utama para asatidz-asatidzah tidak kenal lelah memberikan dedikasi dalam mencerdaskan masyarakat, melakukan transfer nilai-nilai ke-Islaman dan mengembangkan karakter anak-anak didiknya. Karena spirit inilah problem kecilnya kesejahteraan atau upah mengajar tidak menjadi hambatan bagi para pengelola.

Kedua, adanya kultur dalam masyarakat yang meyakini bahwa pendidikan agama adalah sesuatu yang sangat urgen dan esensial baik bagi kehidupan dirinya dan anak-anaknya. Pendidikan Agama masih diyakini menjadi kekuatan yang ampuh untuk membekali anak-anak untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan asusila yang kini semakin memprikhatinkan. Di satu sisi, karena tuntutan zaman, orang tua semakin percaya bahwa pendidikan formal penting untuk meraih ksuksesan karier. Di sisi lain, kesuksesan karier itu harus diimbangin dengan kesuksesan spiritual.

Ketiga, madrasah diniyah bersikap independensi dalam menyelenggarakan manajemen dan kegiatan pembelajarannya. Pengelola tidak menjadi bagian dari institusi negara, sehingga tidak ada yang mendiktenya. Dengan independensi itu, madin bersifat lebih dinamis dan fleksibel dalam menghadapi tantangan zaman.

Bagi pendidikan nasional, madrasah diniyah memiliki peran yang besar karena jumlahnya besar dan persebarannya luas. Dalam statistik yang diterbitkan Kementerian Agama, tercatat ada setidaknya 73.081 madin di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 60,834 adalah madin tingkat Ula, 9,759 tingkat Wustha, dan 2,488 adalah madin tingkat Ula. Jika dibandingkan dengan jumlah desa dan kelurahan di seluruh Indonesia yang 83.184, setidaknya ada 0,87 madin di setiap desan dan kelurahan di Indonesia.

Dengan jangkauan hingga kampung-kampung, madin dapat menjangkau 4.405.993 santri tingkat Ula, 43.912 santri tingkat Wustha, dan 94.272 santri tingkat Ulya. Total, madin dapat menjangkau 4.544.177 santri di seluruh pelosok Nusantara.

Madrasah Diniyah Mulai Tutup

Meskipun memiliki sejarah panjang dan jumlah besar, madrasah diniyah menghadapi tantangan serius. Sejumlah madin dilaporkan tutup karena berbagai alasan. Di Surabaya, sebagaimana dilaporkan Surya, selama lima tahun terakhir dilaporkan ada 100 madin yang tutup. Madin yang berdiri tanpa didampingi ponpes kebanyakan gulung tikar karena peminatnya semakin berkurang. Serta tidak ada perkembangan dari sisi kelembagaan. Ada tren, ketika dihadapkan pada pilihan,masyarakat lebih menyekolahkan anak-anaknya daripada memasukkan mereka ke madin.

Kondisi itulah yang membuat banyak kalangan khawatir program full day school akan membuat semakin banyak madin tutup. Jika siswa pulang sekolah pukul 16.00, mereka sudah kehabisan energi. Ketika sampai di rumah mereka tidak punya energi lagi untuk beraktivitas di madin. Bukan hanya madin, sanggar-sanggar kesenian dan klub olahraga juga dikhawatirkan tergilas oleh kebijakan ini.

“Bisa dibayangkan jika gagasan sekolah full day diterapkan secara masif di seluruh Indonesia, maka madrasah diniyah yang sudah teruji dengan sistem pendidikan moral keagamaannya ini, akan bubar seketika. Anak-anak didik akan disibukkan dengan materi umum, sedangkan materi keagamaan dan materi pembinaan budi pekerti akan terabaikan,” kata Khozanah Hidayati, anggota DPRD Jawa Timur.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan pengurus madin di Kota Semarang, Jawa Tengah.  Madrasah Diniyah (madin) dan TPQ Masjid Al Barokah di Kelurahan Tambakaji Kota Semarang mulai kekurangan murid sejak sekolah menerapkan 8 jam pelajaran sehari. Berkurangnya siswa madrasah tersebut bermula dari sosialisasi dari SD Negeri Tambakaji 05 tentang pelaksanaan program sekolah lima hari sekolah. Sosialisasi itu diselenggarakan pada Rabu, 2 Agustus 2017.

Ketua Takmir Masjid Al Barokah, Ary Sumari mengeluhkan adanya kebijakan pemberlakukan sekolah lima hari yang seakan diam-diam itu. Ary menilai, penyelenggaraan program sekolah lima hari telah mengancam kelangsungan pendidikan TPQ dan Madin yang telah dirintis bertahun-tahun.

”Di wilayah RW 1 Kelurahan Tambakaji Kota Semarang telah menyelenggarakan pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyah sejak lama dengan rincian di Masjid Al Barokah berjumlah 124 anak dan di Mushola Baiturridwan ada 65 anak. Total ada 189 anak. Tapi ketika delapan jam sekolah berlaku, anak-anak tidak ngaji lagi,” katanya sebagaimana dikutip situs NU Jateng.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *