Tak Punya Biaya, Warga Deliksari Bertaruh Nyawa

WAJAH Jumadi memerah. Ia tampak tegang. Tangannya masih memagangi sebuah palu yang digunakannya untuk memperbaiki rumah pada Sabtu siang akhir Januari 2011 lalu.

Rumah  Jumadi di RT 03 RW 06 Dusun Deliksari Kelurahan Sukorejo Kota Semarang rusak parah. Bagian belakangnya nyaris ambruk ke jurang. Kamar tidur miliknya dan putrinya ikut terbawa longsor sehingga ia harus menggelar kasur di lantai untuk istirahat.

Ketika hujan turun Jumadi selalu didera gelisah. Ia khawatir sisa rumahnya akan kembali terbawa longsor. Karena itu jika turun hujan, ia akan segera lari untuk melihat pohon randu raksasa di belakang rumahnya. “Kalau hujan angin seperti kemarin tanahnya mbukak seperti ini, biasanya diawali pohon-pohon yang bergerak mau tumbang” kata Jumadi sambil membuka dua telapak tangannya.

Rumah Jumadi memang terletak persis di pinggir jurang. Ada rimbun pohon bambu di belakangnya. Sementara di samping kanannya pohon randu raksasa berdiri.

Jumadi masih terhitung beruntung. Tetangganya, Januri, bahkan kehilangan rumah sama sekali. Rumahnya rata dengan tanah. Hanya puing-puing yang tersisa. Sejumlah perabot rumah tangga yang rusak berserakan di antara tanah lonsoran yang belum kering benar.

Meski tahu bahaya mengancam diri dan keluarganya, Jumadi belum berpikir pindah. Ia mengaku tidak punya biaya. Bahkan sekalipun pemerintah meyediakan lahan, ia mengaku tidak akan mampu membiayai jasa angkut dan tenaga kerja untuk mendirikan rumah kembali. Penghasilannya sebagai tukang batu sangat kecil.

“Sebulan biasanya saya dapat Rp100 ribu. Itu buat makan. Kalau harus ngangkut bahan-bahan bangunan, apa cukup segitu?” katanya.

Selain alasan biaya, menurutnya, relokasi akan sangat merepotkan. Di lokasi baru ia akan kesulitan mencari pekerjaan di lokasi yang baru. Terlebih, anaknya kini sekolah. “SMP, sudah kelas tiga lagi,” katanya. Karena itulah ia akan bertahan. Ia akan tetap tinggal di separuh rumahnya yang masih tersisa sekalipun sangat berbahaya. “Mau bagaimana lagi Mas,” ungkapnya pelan.

delik2

Tidak jauh dari rumah Jumadi, Ny Slamet duduk di sebuah kursi kayu di depan rumahnya yang berantakan. Kasur, ember, dan beberapa helai pakaian menumpuk tak tertata. Ia menggendong bayi berumur sekitar 1 tahun. Wajahnya tidak terlalu segar. Matanya kemerah-merahan karena beberapa malam terakhir tidak bisa tidur nyenyak.

Ny Slamet mengaku selalu was-was setiap turun hujan. Ketika gerimis mulai turun ia akan keluar dan berjaga di depan pintu. Ia berjaga jika sewaktu-waktu tanah bergerak sehingga sempat untuk lari mencari tempat yang aman. Rumahnya yang telah miring dikhawatirkan bakal ambruk. “Di sini ada anak kecil. Saya harus jaga-jaga kalau terjadi apa-apa,” katanya, Kamis kemarin.

Meski tidak sampai ambruk, kondisi rumah Ny Slamet sangat memprikhatinkan. Lantai tanahnya retak, sebagian sudah ambrol. Kamar belakang yang biasa digunakan anaknya untuk istirahat bahkan tidak bisa digunakan. Lantainya ambrol sehingga salah satu tiangnya menggantung. Sebagian atap asbes hilang terbawa angin sehingga rangka atap rumah kayu itu terlihat.

Kondisi lebih parah dialami Ny Ira, tetangga Ny Slamet di RT 6 RW 06. Rumah miliknya hilang nyaris tidak bersisa. Ketika longsor terjadi ia tidak sempat menyelamatkan harta bendanya. Akibatanya, seluruh perabot rumah tangganya hancur.

“Ada tivi, kompor. Saya cuma sempat ngamankan anak,” kata Ira. Dua anaknya masih kecil. Salah satunya bahkan belum bisa jalan sehingga harus selalu digendong.

Ira hanya seorang pemulung. Ia bekerja memungut sampah dari tong satu ke tong lain. Suaminnya bekerja sebagai buruh tani. Ia mengaku tidak punya uang untuk pindah. “Saya ngenteni rejeki, kalau ada. Tapi kalau tidak ada ya mau bagaimana lagi, saya tetap di sini,” katanya.

“Saya ngenteni rejeki, kalau ada. Tapi kalau tidak ada ya mau bagaimana lagi, saya tetap di sini,”

Ira, korban tanah longsor di Deliksari

Sementara ini ia menumpang di rumah orang tuanya yang juga rusak parah. “Mau numpang di tempat tetangga, wong tetangga juga kondisinya sama,” lanjutnya. Ira mengaku sudah tidak tahan. Rumahnya yang kini telah rata tanah membuatnya ingin segera pindah. Ia mengaku selalu ketakutan. Terlebih dua anaknya masih kecil. Namun ia juga tidak bisa pindah membangun rumah baru. “Buat beli kayu saja tidak mampu. Kalau dibantu pindah ya kami pindah,” kata Ira.

Menurut sejumlah ahli tanah, daerah Deliksari di Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, memang daerah patahan, sambungan dari patahan Ngaliyan, Untag hingga Tembalang. Tanah di sana berjenis regosol. Sementara kemiringannya lebih besar dari 40 persen. Karena itulah tanah di sana diprediksi akan terus bergerak sehingga tidak layak dijadikan daerah pemukiman.

“Mestinya memang menjadi sabuk hijau. Kalaupun akan dihuni mestinya dibangun dengan konstruksi khusus. Tapi cost untuk itu sangat mahal,” kata dosen Geomorfologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Catur Rahono.

“Mestinya memang menjadi sabuk hijau. Kalaupun akan dihuni mestinya dibangun dengan konstruksi khusus. “

Catur Rahono, dosen Geomorfologi Unnes

Menurutnya, daerah tersebut juga endapan marin yang sangat tebal dengan kembang kerut yang besar. Jika kandungan airnya melebihi ambang batas akan terus longsor. Terlebih, tanah di daerah tersebut memang labil. “Itu sulit dicegah, akan terus menerus terjadi,” katanya. Bahkan, jika kondisi tersebut terjadi terus-merus akan berisiko memutus jalan Raya Trangkil yang terletak di bagian igir.

Hal sama diungkapkan dosen Hidrologi Jurusan Geografi Unnes Dewi Lisnursetyawati. Menurutnya, tanah di daerah Trangkil adalah jenis regosol dengan lapisan batuan di bawahnya. Struktur demikian membuat air hujan tidak dapat diserap tanah, tetapi justru mengendap, menyatu dengan tanah dan memicu gerakan. “Karena itulah, tanah di daerah itu juga akan merekah setiap musim kemarau,” katanya.

Menurut Dewi, longsoran di daerah Deliksari dapat dicegah dengan menanam tanaman kuat dengan kerpatan tinggi. “Jarak antar pohon harus rapat, sekitar satu meter,” katanya. denganc ara itu akar dipperkirakan akan bertalian satu sama lain sehingga menghambat gerakan. Menurutnya, jenis tanaman yang saat ini ada tidak cukup untuk mencegah gerak tanah. Selain jarak antar tanaman masih terlalu renggang, pemukiman membuat air tidak dapat diserap optimal.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.