SMS Lucu Mahasiswa ke Dosen: Kapan Bapak Bisa Temui Saya?

Hubungan mahasiswa dengan dosennya itu sebenarnya sangat sederhana. Sebab, dua orang beda status itu sudah punya tugas masing-masing jelas. Tugas mahasiswa belajar, dosen mengajari dan membimbing.

Tapi, kadang-kadang hubungan itu jadi rumit karena melibatkan perasaan dan emosi. Tidak jarang,kerumitan hubungan mahasiswa-dosen terjadi karena ada etika yang terlanggar. Akibatnya, salah satu merasa dihargai atau direndahkan.

Nah, yang belakangan ini terjadi, para dosen mengeluhkan kesantunan bahasa mahasiswa. (sebagian) mahasiswa dinilai kurang tata karma ketika berkomunikasi dengan mereka. Apalagi kalau komunikasi itu dikirim via pesan singkat.

Ini nih beberapa buktinya:

Kapan Bapak Bisa Temui Saya?

Mahasiswa yang satu ini barangkalai super sibuk. Entah karena dia sudah kerja atau sedang kerjakan tugas lain. Sangking sibuknya, dia tidak sempat ke kampus untuk menemui dosen.

Nah, barangkali karena itu, dia tidak bisa temui dosen untuk mengurus nilai K. Dia pengin dosen yang datang ke tempatnya. Barangkali, dia juga berharap dosen ini membawakan jus untuk buka puasa.

sms-mahasiswa-lagi

Bapak di Mana? Dengan Siapa? Semalam Berbuat Apa?

Kerinduan mahasiswa pada dosen kadang memang tak terbendung. Sebegitu rindunya, mahasiswa ini pengin segera ketemu, mencurahkan kerinduan.

sms-lucu-mahasiswa

Kami Nunggu di Kelas (Padahal di Kos)

Kadang-kadang mahasiswa perlu memastikan apakah dosennya ngajar atau tidak. Strategi ini perlu diterapkan mahasiswa kalau dosennya tidak selalu masuk kelas.

Untuk mendapatkan kepastian itu, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, tanya ke teman yang sudah standby di kelas. Kedua, langsung konfirmasi ke dosen, hari itu ada kuliah atau enggak.

Tapi, kalau mau konfirmasi langsung sebaiknya jangan bohong. Jangan ngaku sudah menunggu di kelas kalau kamu baru mau mandi di kos.

Screenshoot-3

Email Saja Pak, Irit Kertas

Mahasiswa ini terlambat mengumpulkan tugas. Alasannya: minggu sebelumnya dia tidak berangkat kuliah. Karena itu, dia menyusulkan tugas melaluiemail.

Tapi sang dosen mungkin tak terbiasa membaca paper di email. Dia hanya menerima tugas print out, supaya lebih mudah dikoreksi. Tapi apa jawaban mahasiswa?

screen-empat

Yang Penting Kan Buat Tugas, Paaaaaak…

Mahasiswa ini komplain karena nilainya E saat yudisium. Nilai E adalah “vonis mati” dan sudah tidak bisa ditawar lagi. Apalagi kalau alasannya adalah kehadiran. Biasanya sistem sudah terblokir.

Tapi mahasiswa ini ini pantang menyerah. Baginya, perkuliahan tidak terlalu penting asal dia buat tugas. Selama dia buat tugas, dia berhak memperoleh nilai.

sms-lucu-mahasiswa-10

Facebook Comments

88 Comments

  1. nicho

    June 23, 2015 at 7:39 am

    Lucu apanya sih?? Biasa aja tuh.. ane kalau sm dosen ane juga serimg ky gitu soalnya menurut ane hubungan dosen sm mahasiswa udh gk ky jaman dulu lg, yg kesenjangan stratanya terlalu jauh. Tergantung dr persepsi dosen aja sih.

    • Monita

      June 23, 2015 at 10:43 am

      Hwahahaha. Berarti kamu termasuk generasi kekinian yang juga lucu Mas…

    • dina

      June 23, 2015 at 11:48 am

      Lucu ngebaca komen kamu, yang menganggap sms2 di atas wajar dan ngga lucu..hehe.
      Jaman boleh berubah, tapi sopan santun ya tetap dijaga masbro.

      • utuy

        June 23, 2015 at 12:33 pm

        Jaman boleh berubah sepatu tetap carvile 🙂

    • Kaka

      June 23, 2015 at 1:23 pm

      Haha..kamu itu yg lucu nicho..sopan santun tetap sopan santun..

    • ahmad israfil lubis

      June 23, 2015 at 1:51 pm

      Jaman boleh bergerak dan akan terus bergerak maju, tapi untuk beberapa hal semisal kesantunan bertutur seorang murid kepada gurunya menurut saya adalah hal yang mutlak dan baku, sekalipun kedua belah pihak memiliki hubungan dalam hal lain yang membuat mereka jadi akrab.
      Untuk para pengajar, perlu memahamkan kepada para muridnya, bahwa berbahasa santun, kaku, baku, kolot, kampungan, atau apapaun namanya, bukan berarti tidak akrab.

    • surya

      June 24, 2015 at 12:26 am

      Haahh..?? Gitu loe anggep biasaa??
      Dan eluu bangga sms kayak gtu ke dosen loe…??
      Wkwkwkwkwk…. Lugu banget loe..

    • didik

      June 24, 2015 at 1:55 am

      idup jangan terlalu dibuat serius2 mas bro..
      wkwkwk

    • Rifqi Ikhwanuddin

      June 24, 2015 at 4:28 am

      iya memang tidak lucu, karena menunjukkan perilaku yg tidak beradab dlm berinteraksi dgn orang yg lbh berilmu.

      sebaiknya jangan Anda biasakan model berkomunikasi semacam ini. egaliter itu bisa ditunjukkan dari kedewasaan Anda dlm berhubungan dengan dosen.

    • Asri

      June 24, 2015 at 6:10 am

      Mas Nico, SMS-SMS di atas memang nggak lucu karena selain tidak sopan, ada juga yang tidak jujur. Lebih nggak lucu lagi karena ada orang seperti Anda yang menganggap perilaku seperti ini wajar. Dalam hidup memang ada strata sosial, dan di semua lingkungan ada standar tata krama yang harus dipenuhi, termasuk di lingkungan akademik. Di Amerika Serikat, yang secara umum hubungan antar-manusianya lebih egaliter saja dosen tidak membiasakan komunikasi melalui HP/SMS dengan mahasiswanya. Di tempat kerja, di lembaga internasional atau perusahaan internasional sekalipun, komunikasi yang berhubungan dengan urusan pekerjaan juga sewajarnya dilakukan dengan kalimat-kalimat yang lebih tertata. Karena studi di perguruan tinggi adalah salah satu proses pendidikan yang menyiapkan mahasiswa untuk mampu memiliki kerangka berpikir yang baik, sudah sewajarnya dosen juga memastikan mahasiswanya mengerti standar-standar kepantasan dalam berkomunikasi.

      • Irana

        November 9, 2015 at 2:12 pm

        Well said 🙂

    • Nuwi

      June 24, 2015 at 2:23 pm

      Hihi .. mas nico .. kalau sms kaya gtu dosennya baik enak .. kalai dosennya aku .. mungkin mas nico udah ga boleh ikut mata kuliah dosen tsb .
      Jangan malu2in gelar yah mas ..
      Hehhehe .. piss damai ..

      • lev

        June 24, 2015 at 2:52 pm

        Dosen ngancam udah biasa.apa yg bs dilakukan dosen selain ancaman nilai,skorsing..dgn begitu merasa udah hebat mendidik mahasiswa?
        bnyk sekali guru atau dosen malah berjiwa kerdil..sedikit2 tersinggung..salah tulis nama tersinggung,telat ngumpul tugas,marah.salah bicara,marah,tersinggung,ngambek,,ada mahasiswa yg gak beli diktat atau buku ciptaan dia,mahasiswa diusir dak gak boleh ikut ujian…harusnya kl mahasiswanya salah ya dikasih tau donk yg bener..nak atau mbak..kl sms dosen itu seperti ini yg bener…kan beres..gak pakek ngambek…satu hal untuk dosen2 yg berjiwa kerdil..”HIDUP GAK BUTUH IJAZAH” hidup butuh ilmu pengetahuan,tp kl yg memberi ilmu jya berjiwa kerdil.apa yg bs diharapkan dr dosen berjiwa kerdil…saya sebagai mahasiswa tidak pernah takut dgn ancaman dosen.karena saya tidak butuh nilai.dan tdk takut diberhentikan…

        • Muhammad

          June 24, 2015 at 8:32 pm

          Dgn kata lain anda jga kerdil dalam hal sikap sopan santun dan bagaimana mnghormati guru atau dosen anda..ingat mas..nilai kelunturan moral sopan santun sudah mulai mnjajah pikiran dan sikap anda melalui perktaan yg anda sampaikan lewat tulisan diatas.

        • jack

          June 25, 2015 at 4:00 am

          untuk beberapa hal yang anda sebut saya setuju kalau tidak benar dosen marah seperti : ga beli dikta atau buku ciptaannya karena memang sumber materi bisa dari mana saja asal relevan.
          tapi untuk sebagian besar hal lain yang anda sebut menurut saya dosen berhak 100% untuk marah.
          salah tulis nama (saya asumsikan salah menulis nama/gelar dosen)? : hal ini menunjukan anda tidak peduli, dan hal ini nantinya bisa berbahaya kalau di dunia kerja, bayangkan anda salah menulis nama rekanan nantinya? bisa2 kontrak batal mas.
          telat ngumpul tugas ? : artinya anda tidak disiplin. Untung anda kalau ketemu dosen yang memarahi anda kalau telat ngumpul tugas, bayangkan kalau dosennya cuek saja, akibatnya anda jadi terbiasa cuek dengan deadline, kalo uda kerja yang namanya deadline ga ada perpanjangan2 lagi mas, lewat deadline anda mampus (sesuai judulnya “dead”line)
          salah bicara? bayangkan nanti anda presentasi trus anda manggil calon konsumer anda dengan sebutan “loe” kebayang ga apa yang terjadi, atau mestinya biayanya 100jt anda sebut 10jt, mau nombokin yg 90jt lagi?
          dan terakhir sesuai yang anda sebut “hidup butuh ilmu pengetahuan” sekarang saya tanya yang butuh itu anda apa dosen anda? anda kan yang meminta ilmu ke dosen anda? Kalau anda di posisi meminta wajar ga anda menggunakan kata-kata dan sifat yang sopan?

          • nennung

            October 21, 2015 at 4:58 pm

            Suka dengan penjelasannya…sangat kontekstual. Jarang mhs bs diajak betpikirspt ini…

          • Chell

            February 9, 2016 at 4:38 am

            Good explanation.. Cukup jelas Dan konkrit, kalau pak jack mah:)

        • siapa aja

          June 25, 2015 at 5:55 am

          Hidup gak butuh ijazah yang asli maksudnya ???
          kan sekarang bisa beli ijazah palsu dan abal-abal. Ya iyalah klo orang macam begini ma gak butuh dosen/guru ato ijazah.. dah banyak uang ini..

        • devi

          June 28, 2015 at 9:19 am

          ah kamu alay, nulis panjang tapi kliatan kamu alay. kalo mmg gak butuh ijazah ngapain kuliah. kliatan nulis panjanh tapi gak mutu, jangan jangan kamu mmg gak kuliah :p krn tulisannya gak mutu

        • Xavier

          July 19, 2015 at 3:03 pm

          Ya kayak gini mahasiswa atau yg ngaku mahasiswa yg kayak katak dlm tempurung, gayanya sok tau tapi nol pengalaman, dikira dunia cuma sepengetahuannya saja. Mudah2an anda org kaya tujuh turunan mas, jadi gak perlu repot2 ngerubah ego mu. Luaskan pandangan mas, yg butuh itu siapa? Mau hidup pake ego?

        • Chacha

          March 24, 2016 at 10:46 pm

          Gak usah kuliah aja mas..jualan es aja di pinggir jalan

    • ikhsan

      June 24, 2015 at 2:46 pm

      Saya yakin si Nicho ini generasi cabe-cabean….

    • Septian Dwi

      June 24, 2015 at 6:08 pm

      Jangan jangan itu semua sms di atas itu sms mu ya nicho 😀

    • Yw

      June 25, 2015 at 12:37 pm

      Komen kamu lebih lucu dari cerita di atas. Jaman boleh beda sehh… yg penting lulus pake toga bukan celemek.

    • Redribbon Army

      December 4, 2015 at 9:53 am

      kalo sms gitu sudah biasa aja ditahun 2015 ini.. nanti tahun 2020 mungkin kalo ketemu sama dosennya mungkin kata2 ini yang muncul
      Broo!!!… besok ada kuliah ga? kalo ada ntar kabarin ya gue lagi di kos nih

      Pak… tugas saya kirim lewat BBM ya pak…

      Bapak dimana? gyapa… myapaaah….

  2. Mediawebster

    June 23, 2015 at 11:30 am

    hahaha lucu, patut di coba wwkwk

  3. teguh

    June 23, 2015 at 12:21 pm

    Lucu2 smsnya, dasar unggah ungguh kurang

  4. Nindy

    June 23, 2015 at 2:21 pm

    Wkwkwkwk sumpah ya

  5. mundzi

    June 23, 2015 at 2:23 pm

    lomayan,

  6. Detia

    June 23, 2015 at 3:37 pm

    Klo ini mah ngga lucu, tp kurang ajar, seenak jidat saja mmintanya.

  7. Anastasia

    June 23, 2015 at 3:38 pm

    Dosen-dosen memang friendly krn memang sudah sepantasnya mahasiswa memdapatkan pendidikan dan bimbingan yang layak. Itu sdh hal mahasiswa yg membayar. Tapi mahasiswa harus ingat, dosen itu bukan friend mahasiswa yang lalu bisa diperlakukan seenaknya. Dosen juga punya waktu sendiri, tugas2nya sendiri dan kewajiban2nya yang lain. Sopan santun di Indonesia juga masih kental. Itu yg harus dibanggakan sbg bangsa Indonesia. Terserah saya mau dibilang kuno kek. Tp buat saya resah rasanya kalau kita tdk bisa menjaga sopan santun dengan orang lain. Ingat, kebanyakan dosen itu friendly tapi merek tetap bukan friends.

    • lia

      June 24, 2015 at 11:50 pm

      Sya setuju dg mb anastasia. Dsen memang friendly, tp bkn friend, sehingga sopan santun mahasiswa ke dosen tetap hrs dijaga.

  8. dore

    June 23, 2015 at 4:00 pm

    Satu lagi memastikan dosen ada atau engga, hafal merk mobil warna dan plat nya. Hajaja

    • udeq

      June 24, 2015 at 12:53 am

      heheheh
      bneer juga…
      satu trik yg pling jitu ne bwt tw kehadiran dosen….

  9. dore

    June 23, 2015 at 4:01 pm

    Satu lagi memastikan dosen ada atau engga, hafal merk mobil warna dan plat nya. Hahajaja

  10. arief sasono

    June 23, 2015 at 4:10 pm

    saya setuju dengan mas nicho, seperti di eropa misalnya, hal seperti itu sudah wajar, tapi faktanya orang indonesia kalau dikasih enak dikit lalu keterusan. kakakku yg di swedia ngobrol sama profesor di univ nya juga kaya temen biasa, disana tidak ada diskriminasi kaya di indonesia.

    • yosi

      June 23, 2015 at 5:10 pm

      Kalo mas arief nganggap itu wajar di europe ya wajar, lha wong mmg org2 sana manner nya kurang gk ky di indo yg sdh mmg kulturnya beda..lagian apa hebatnya menuruti sesuatu yg jelek..klo mau ky gt skolah aja di eropah sono

      • Anonymous

        June 24, 2015 at 1:22 am

        Di eropa budaya antri itu biasa, budaya tata tertib di eropa jauh lebih baik dari di indonesia. Sementara orang indonesia sopannya cuma di bibir. Kalo di jalan gak tertib, di tempat umum gak antri, buang puntung rokok sembarangan, merokok ditempat umum seenaknya, lebih banyak gak sopannya daripada sopannya. Kalau kita bangsa Indonesia bangga dengan kesopanan kita, kenapa gak bikin teknologi yang maju, orang eropa yang (menurut anda) kurang sopan malah bisa tuh.

        • Anonim

          June 24, 2015 at 5:59 am

          maaf mas, sopan santun nggak ada sangkut pautnya dengan kecerdasan seseorang, jadi orang yang sopan santun itu nggak mutlak bisa bikin teknologi yang maju karna sopan santun itu sikap/attitude 🙂

      • Rini

        June 24, 2015 at 6:10 pm

        Saya pernah kuliah di Eropa, dan ga pernah ketemu kasus mahasiswa yg spt itu.
        Ada etika, ada pemilihan bahasa yg tepat, ada privasi dosen, dan schedule yg tak bisa kita langgar seenaknya. Kami tak pernah menemui dosen tanpa appointment. tak pernah mengirim mail atau sms di jam istirahat atau sekedar menanyakan tugas pada setiap week end. Sikap friendly yg ditunjukkan dosen adalah bentuk penghargaan mereka thdp mahasiswa sbg pribadi yg dewasa dan berpendidikan.
        Trust me, ga enak nerima sms atau telp dari mhs di tengah malam cuma buat memastikan besok kuliah atau tidak atau kenapa sang mhs ga lulus.

    • Katong

      June 23, 2015 at 10:22 pm

      Waduh belagak diEropa…di Eropa juga nggak kayak gitu mas.. Tetep ada sopan santunnya. Aturannya bahkan lebih tegas dan mahasiswa mematuhi. Kelihatan santai sebab bahasanya ya kayak gitu… Beda dg bahasa Belanda yg ada tata krama berbicara dg yg dituakan. Begitu juga dg bahasa Jawa. Nggak tau kan… Makanya sopan itu penting dan membawa kebaikan. Orang yang nggak peduli dg kesopanan sudah pasti dia nggak peduli dg orang lain. Mementingkan dirinya sendiri.

    • vie

      June 23, 2015 at 11:06 pm

      saya pernah kuliah di Eropa… ga begitu jg…dekat dan akrab dg dosen ga berarti sopan santun dan tata krama dilupakan…
      Di Indonesia diskriminasi? ah…anda kurang referensi mas…..

    • roy

      June 24, 2015 at 5:42 am

      Begini mas,
      kalo sama temen = kamu
      kalo sama org yg lebih tua = anda
      kalo di eropa = you

      kalo sama temen = dia
      kalo yg lebih tua = beliau
      kalau di eropa = he / she

      Sebenernya di eropa juga ada sopan santun dalam berkomunikasi tp mungkin kitanya yg nangkep itu kayak bahasa casual berbeda dengan di sini, di mana kita benar2 paham tentang bahasa kita sendiri. sedekat2nya kita dengan GURU mari kita jaga sopan santun kita dalam bertindak dan bertutur walaupun ada kalanya untuk bercanda 🙂

    • Yosiely

      June 24, 2015 at 12:59 pm

      Klo sy pux mahasiswa kyak gtu,,sy tdk akn luluskan dlm mata kuliah sy… Percuma pintar tp tdk pux sopan santun kyk gtu…

    • Tuti

      June 27, 2015 at 10:05 pm

      Arief Sasono,jangan salah di Eropa memang antara berkomunikasi dengan dosen/supervisor memang seperti teman, kareana tidak ada panggilan bapak atau ibu dosen, yg ada panggil nama, tetapi berinteraksi kesopanan tetap terjaga. Tidak mungkin mengirim sms seperti tsb diatas. Bahkan cara berkirim email saja ada aturannya… jadi jangan salah menginterpretasi.

  11. sahroni marwoto

    June 23, 2015 at 5:08 pm

    ini beneran sms darimahasiswa?, masa tema hpnya sama,

  12. ima

    June 23, 2015 at 5:53 pm

    Jaga slalu tata krama..trutama sm yg lbh tua

  13. Dodol lu

    June 23, 2015 at 7:36 pm

    Wajar tidaknya sms begitu lihat dosennya dulu. Dosen2 sekarang banyak yang minta dihargai tidak dengan sopan santun dan tegur sapa yang baik macam jaman dulu para babe masih kuliah. Jaman sekarang banyak dosen minta dihargai pake materi. Contohnya di salah satu kampus di kampar, riau, tiap kali dosen masuk kelas, mahasiswa di kelas itu harus nyiapin minuman pesanan dosen. Mau teh atau air mineral atau lainnya. Perlu gak dosen2 begitu dihargai dengan sopan santun, nunduk2 pake bahasa lembut2?

    • Anonim

      June 24, 2015 at 7:01 pm

      Perlu banget mas,dosen yg seperti itu dilayani dgn baik,,krn harga segelas teh or air mineral akan jauuuh lebih murah dibandingkan harga ilmu yang beliau keluarkan dr mulutnya..

    • Yantinhd

      June 24, 2015 at 10:08 pm

      Nih ya mas kalo mau hitung2an antara ilmu yang mereka berikan sm materi yg mereka minta, itu gaada apa-apanya sama sekali.
      memang setiap dosen mmpunyai watak yg berbeda, tapi untuk masalah etika, kesopanan kita tak perlu membeda-bedakannya bukan?

    • siapa aja

      June 25, 2015 at 6:05 am

      halah disuruh nyiapin teh botol atau air mineral doang.. paling berapa sih…???

    • Arum

      July 2, 2016 at 1:38 am

      Justru di negara kita masih mending… Pas saya shortcourse ke Taiwan malah semua dosen harus dilayani dengan baik. Misal ia minta siapin air putih, teh atau kopi. Sebetulnya jika cuma disiapin minum itu sih wajar banget. Saya sering ngajar non-stop dari kelas ke kelas selama 6 jam. Kalo yang sudah pernah ngrasain pasti tau rasanya kayak apa… Cuma sih saya lebih milih bawa minum sendiri daripada ngrepotin mahasiswa…

  14. me

    June 23, 2015 at 9:03 pm

    Friendly dosen terhadap mahasiswa adalah contoh menghargai orang lain..mahasiswa yg CERDAS pasti mengerti bgmn cara menyikapi sikap friendly dosennya…

    Suami saya termasuk orang yg cerdas…mengerti bagaimana dirinya harus bersikap di kelas sbg mahasiswa dan mengerti bgmn dirinya harus bersikap sbg suami dirumah… ^_^

    • Bejo

      April 19, 2016 at 11:28 pm

      suamimu mahasiswamu ya mbak? 😉

  15. Majin

    June 23, 2015 at 9:34 pm

    Ini bukan soal budaya eropa atau indonesia, melainkan bagaimana memperlakukan orang lain secara beretika dan proporsional… masak dosen disuruh menghadap mahasiswa, yang benar saja… emang yang butuh siapa?… manja sekali, kalau kata dosen saya, anak jaman sekarang biasa dilayani pembantu jadi tidak mandiri dan kadang tidak punya empati terhadap kepentingan orang lain yang harus dihormati… dikiranya dosen itu seperti pembantunya yang juga bisa disuruh-suruh…

  16. Akrim

    June 23, 2015 at 10:22 pm

    Beneran ini SMS mahasiswa…
    atau buat2an admin…
    kok SMSnya kayak anak SMP saja, apalagi SMS yang terakhir…
    Maaf…
    kalo bisa jangan merendahkan mahasiswa, memang lucu tapi ini seperti merendahkan…

  17. f4rr4

    June 23, 2015 at 10:23 pm

    menurut saya tetap harus ada sopan santun.. paling tidak menghormati ilmu beliau..

  18. Ralphie

    June 24, 2015 at 2:20 am

    Ujung2nya kalo tuh mahasiswa/i ketemu dosen trus dimarahin, tuh mahasiswa/i ngomong : “Mohon maaf Pak, kemarin yang mengirim sms ke Bapak itu teman saya.” 😀 itulah gunanya teman. 😛

  19. MR. E

    June 24, 2015 at 2:52 am

    dosen mana yang mau diperlakukan seperti itu… yang namanya etika dan sopan santun itu wajib hukumnya jika kita ingin menghadap dosen.

  20. mus

    June 24, 2015 at 3:32 am

    Ngelus dodo. Jangankaan mahasiswa, teman saya yang ud jadi guru pun alay, kacau smsnya. Lebih ngenes dari itu
    Entah, karena budaya sopan santun tak pernah diajarkan lagi di lingkungan keluarga , sekolaah mungkin.

  21. Boru

    June 24, 2015 at 3:59 am

    Saya beberapa kali sempat dicurhati dosen terkait sms2 spt itu. Memang ada sebagian dosen yg beranggapan “yasudahlah, dimaklumi saja” tapi ada juga dosen yg kemudian dibawa perasaan, merasa kurang dihargai oleh mahasiswanya. Ya mustinya sebagai mahasiswa, tetap harus ada sopan santun tata krama ke dosen. Sekalipun sudah dekat dan akrab, ttp harus ada batas wajar keakraban, ada koridor yg nggak bisa seenaknya diterabas. mahasiswa cerdas tahu dong gmn menyikapi dosen

  22. indah

    June 24, 2015 at 4:21 am

    SEMAKIN TINGGI ILMU SESEORANG SEHARUSNYA SEMAKIN TINGGI PULA AKHLAQNYA, PUNYA ADAB DALAM BERGAUL,,,

  23. indah

    June 24, 2015 at 4:24 am

    SEMAKIN TINGGI ILMU SESEORANG SEHARUSNYA SEMAKIN TINGGGI PULA AKHLAQNYA..
    PUNYA ADAB DALAM BERGAUL…

  24. Wisata Dunia

    June 24, 2015 at 4:48 am

    saya sangat hobi menjelajah. terutama indonesia. seringkali saya bertemu dengan bule/orang asing. mereka selalu mengungkapkan kesenangannya pada warga sekitar yang teramat sopan santun dan ramah.
    biasanya tempat wisata itu di desa. jarang-jarang saya mendengar ada bule yang mengungkapkan bahwa di kota warganya ramah2. biasanya bule tidak terlalu tertarik bicara itu. mungkin karena memang berbeda, warga kota tidak sesantun dan seramah orang desa. Ya saya tahu, karena para intelektualnya saja begini kelakuannya.

  25. sancoko

    June 24, 2015 at 4:54 am

    barangkali, banyak rekan2 mahasiswa/i kita yang masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi, menyesuaikan berbagai hal yang pasti bakal dibutuhkan dalam kehidupan akademisnya di kampus. banyak yg masih mempertahankan kebiasaan, budaya dan sikap2 yg terbentuk dari lingkungan sebelumnya, seperti semasa sekolah menengah, bahkan ada juga bbrp yg masih manja seperti anak mama, atau anak pembantu…
    disisi lain, sebagian besar dosen2 kita, terutama yg berusia menengah / muda, atau beliau2 yg menurut sy “sudah modern dan tidak kolot”, biasanya menerapkan keluwesan sentuhan personal dalam membagikan ilmunya, sehingga (harapan mereka), dengan kedekatan spt itu akan lebih mudah dipahami oleh para muridnya.
    sedangkan, dari sisi kurikulum, yg sekarang ini menerapkan sisdik yg lebih banyak mengedepankan kerjasama kelompok untuk menyelesaikan permasalahan bersama2 (dlm bentuk study kasus, misalnya), jadi sifat konseling dan arguing (diskusi) bercampur bisitu, menjadikan hubungan antar dosen-murid menjadi semakin dekat layaknya teman dan sahabat.
    nah, kondisi seperti inilah yg, menurut sy, kemudian belum dapat diterima dengan baik oleh bbrp rekan mahasiswa yg masih mengalami kesulitan dlm beradaptasi…sehingga terjadilah bbrp gap dlm bentuk miss komunikasi atau yg tampak oleh kita adalah sikap murid yg kurang santun kepada Gurunya.
    demikian sedikit pendapat sy, barangkali keliru sy minta maaf.

    Salam SUKSES utk semua !!!

  26. juragans

    June 24, 2015 at 9:07 am

    wah paraah… masa kayak gitu lucu
    itu OOn bukan lucu :v LOL

  27. ira

    June 24, 2015 at 12:35 pm

    aku mah mikir 10000000 kali tiap mau sms dosen, bingung juga mulainya dari mana, ya udah ke kampus aja ketemu alhamdulillah ga ketemu juga gak papa ditunggu aja 😀

  28. afif

    June 24, 2015 at 1:54 pm

    Waah.. Alamat bakal bermasalah sama kemahasiswaan tuh bila berani di kampus ane

  29. Eka

    June 24, 2015 at 2:31 pm

    Sebagai dosen jika menerima sms semacam itu biasanya langsung saya koreksi cara dia bersikap dan atau penggunaan bahasanya. Saya tidak terlalu memasukkan ke hati. Kadang mahasiswa begitu memang karena tidak paham etiket, dan memang harus dipahamkan. Pemahaman etiket atau tata krama akan bermanfaat saat mahasiswa terjun di masyarakat. Tugas dosen kan tidak hanya mengajar tapi juga mendidik.

  30. ime

    June 24, 2015 at 3:00 pm

    mas bro nicho…
    saya dosen dan waktu kuliah S2 saya tetap mikir 10 kali mau nulis apa sebelum sms dosen.. meskipun sebenarnya dosen tersebut adalah kolega saya. jika anda ingin dihormatii orang hormati juga orang lain.. tempatkan diri sesuai dengan posisi kita berkomunikasi… taukah mas bro, kesantun berbahasa seseorang cerminan kesantunan sikapnya…. kalau anda pikir seiring kemajuan zaman kesantunan berbahasa bukan sesuatu yg harus di pertahankan, saya yakin anda juga nggak mau nanti anak cucu anda “Bro”

  31. Galih Firmansyah

    June 24, 2015 at 4:02 pm

    Ini beneran? Hahaha kok bisa kayak gitu.
    Waaah kagak mikir apa ya kalo mau sms gitu haha.
    Kocak banget kelakuan mahasiswanya

  32. Herdian

    June 24, 2015 at 4:29 pm

    Orang yang ngomong hal begini biasa saja dilakukan kepada dosen, apakah masih melakukan kepada atasan di tempat kerjanya nanti, atau kepada pelanggan di usahanya nanti, dan menganggapnya biasa saja?

    Jika tidak terbiasa sopan santun di SMA, pasti terbawa saat kuliah.

    Jika tidak terbiasa sopan santun di kuliah, pasti terbawa saat kerja.

    Sampai dipaksa oleh kejadian buruk akibat ketidaksopanannya.

    Bukan soal dosen lebih tinggi dari mahasiswa, tetapi soal 80% penentu keberhasilan seseorang di dunia kerja.

  33. Gordon

    June 24, 2015 at 9:46 pm

    Klo menurut saya, ga usah dibahas lg isi dr masalah sms d atas…yg penting nilai diri masing2 udah pd sopan lum dalam berbahasa n berprilaku…sok2 mnilai prilaku sms diatas pdhal kita sendiri masih sering lebih jelek berprilaku dijalan or keteman2 kita..

  34. Zainal

    June 24, 2015 at 10:54 pm

    Kalau tatakrama di kampus sudah jelek bakalan sulit berkembang di dunia kerja, karena skolah itu tanpa atitude adalah susah, susah dapat promosi, susah dapat kemudahan bekerja, susah dapet temen, Just share pengalaman aja.

  35. ahda sabila

    June 24, 2015 at 11:04 pm

    Sms yg pertama sepertinya salah penempat an kata. Seharus nya ” pbk saya temui ” Bkn” Bpk temui saya”.

  36. iDoeR

    June 24, 2015 at 11:24 pm

    sms yg terakhir kok aneh ya? Sms yg sebelum2nya berjarak paling cepat 1 menit.. yg terahir keliatan banget di buat2 sama penulis… tidak sampe semenit dah minta balesan sms… Pengirim sms sudah berusaha sopan dengan panggilan “Pak” atleast its a manners here tapi siapa tau cerita dibalik sikap ngawur mahasiswa dalam menulis sms diatas. Mohon jangan cuma mahasiswa yg dijadikan subyek tapi dosen juga. “nanti saya sms setelah lihat schedule saya” terpaksalah kirim sms “kapan bapak bisa ketemu saya”
    Think out of the box :
    Mana yg lebih sopan sms atau telpon? Yang pasti ketemu langsung nggak akan salah paham dan paling sopan

  37. Aksanto

    June 24, 2015 at 11:32 pm

    Sebagai dosen, saya sering sedih menerima sms begini. Bukan cuma satu, tpi banyak. Logika kalimatnya agak berantakan, tanda baca digunakan gak pada tempatnya, dan kadang-kadang bernada memerintah. Tapi kalau cuma ngeluh aja ya nggak keren.

    Makanya, yuk, sekarang kita bangun lagi tradisi tata krama di lingkungan kampus. Cerdas, oke. Egaliter, juga bagus. Tapi tata krama adlah soal nilai yang berlaku di komunitas. Itu penting, tidak hanya di Indonesia, tapi di negara-negara lain.

  38. putri

    June 25, 2015 at 12:50 am

    Jadi inget sama salah 1 lagunya oppie andaresta “sekarang jaman internet tapi etika gk jd macet!! Jangan kayak makhluk planet datang dan pergi tanpa basa basi” hukum memang ada yg tertulis dan tdk tertulis. Tata krama,sopan santun salah satu hukum yg tdk tertulis tp itu terjadi begitu saja dan memang hrs dipatuhi. Baik yg muda k yg tua,maupun sebaliknya.

  39. Pingback: SELAMAT DATANG DI BLOG LISA » Blog Archive » ETIKA MAHASISWA ZAMAN GLOBALISASI

  40. indah saraswati

    June 25, 2015 at 4:22 am

    saya sebagai dosen juga pernah terima sms yang tipenya seperti itu. terus terang itu menyebalkan, tetapi langkah yang saya ambil hanya membiarkan sms itu tanpa saya balas sms nya. kalao mahasiswa itu telpon ya sy angkat, kalo tidak ya sy biarkan, sampai dia sms dengan sopan.
    kadar sopan buat saya juga ga tinggi2 amat, mengingat sy juga termasuk dosen mudaaaaaa sekali, yang diluar sana kadang masih dipanggil “mbak”
    tapi kalo menurut sy, mahasiswa seperti itu banyak, tapi tidak semuanya.. dosen yang minta dihargai sampai ga masuk akal juga banyak, tapi juga tidak semuanya.. sekarang kembali lagi saja ke diri kita, kalo kita tidak mau tidak dihargai, ya kita harus menghargai orang lain, siapapun dia. kalo memang pada saat itu kita tidak dihargai atau di sms yang ga sopan, ya anggep aja itu ujian dari Tuhan..

  41. susan

    June 25, 2015 at 4:47 am

    saya sering mendengar cerita ini dari dosen2 saya, jadi saya belajar bagaimana menyusun kata dari pembukaan sampai penutupan yang sopan dari setiap sms konfirmasi yang saya kirim, gunanya apa? Itu bagian kita beretika sebagai akademisi, first attitude.. Bahkan di realita dunia kerja pun begitu.. saya punya 2 jenis hubungan dengan dosen saya, pertama hubungan sebenar-benarnya teman, kedua, hubungan realita dosen dengan mahasiswanya.. Sebaiknya kita memilih bahasa yang tepat tergantung situasi, saat berurusan dgn masalah kampus dan segala atributnya, baiknya kita gunakan bahasa yang sopan tanda menghargai, tapi saat diluar itu semua, saya biasa saja menulis “momsky, laper ni, makan yuk” via bbm.. Jadi memang selalu ada batasan tipis yang harus kita maklumi.. Toh, bertutur sopan via sms kan setidaknya menyenangkan hati dosen kita.. Saya kuliah s2 sambil kerja di perbankan, waktu buat ketemu dosen terbatas, tapi dgn kesabaran dan kesopanan, pertama bisa mengambil hati boss biar bisa curi2 waktu kantor buat ketemu dosen, kedua, dosennya jadi luluh g banyak tingkah padahal sekelas profesor yg sibuk keliling indonesia.. Jadi guys.. First attitude please, yang baik2 pasti ngikutin,. Salam mahasiswa!!!!

  42. ndrembizz

    June 29, 2015 at 3:36 am

    Kalau saya smsnya kayak gini.

    “Selamat siang Pak dosen, untuk skripsi saya sudah saya taruh di Mejanya bapak, skripsinya juga sudah saya coret-coret sekalian. Mohon untuk direvisi ya pak.
    Terima Kasih”

    😉

  43. nov

    August 28, 2015 at 5:56 pm

    Arif…nico….kuno banget sih kalian berdua ini….kyaknya asal kalian dari zaman purba nih…

  44. felline

    November 2, 2015 at 8:44 am

    Hahaha ngakak banget bacanyaaaa…

  45. Arum

    July 2, 2016 at 1:25 am

    SMS tersebut memang nyata. Beberapa mahasiswa saya juga ada yang seperti itu. Tapi alhamdulillah masih lebih banyak mahasiswa saya yang baik daripada yang kayak gitu. Pas masa awal jadi dosen memang sms spt itu langsung bikin saya marah, tapi lama2 udah mati rasa, namun bukan berarti membiarkan. Tetap diingatkan namun memilih cara yang lebih soft. Saya mungkin dosen yang agak rewel dikit2 ngingetin mahasiswa masalah etika, mulai dari cara sms sampai dengan cara berpakaian dan bersepatu. Saya selalu sampaikan bahwa etika adalah salah satu kunci menuju profesionalisme. Itu makanya ada istilah “etika profesi”, karena profesi tertentu pasti punya etika2 yg harus dijunjung tinggi. Lepas dari itu semua, saya juga punya anak yang juga saya sekolahkan di institusi pendidikan. Saya pun berharap jika anak saya salah, gurunya bersedia mengingatkannya dengan cara yang baik.
    Guru/dosen adalah orang tua di sekolah/kampus. Bagaimana kita memperlakukan orang tua, seperti itulah Allah akan memperlakukan kita….

  46. Bogo

    September 21, 2016 at 1:21 pm

    Mau aja dikibulin sama si nicho.

  47. Fardhin

    September 27, 2016 at 2:36 pm

    haha keren… salut tuh sama mahasiswanya

  48. Zanify

    February 27, 2017 at 10:49 pm

    Wah ada-ada aja nih :v
    Sangat menghibur deh…makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *