Risiko Merayakan Hari Santri

Ada banyak kebaikan dalam perayaan hari santri nasional. Santri dari berbagai daerah saling berkomunikasi mrngartikulasikan kehendak dan pemikirannya. Selain itu, kebanggaan sebagai santri juga tampak menguat.

Meski begitu, saya mengamati ada risiko di balik perayaan itu. Ketika santri mendeklarasikan dirinya sebagai santri, di ruang publik, pada saat yang sama mereka membangun pagar dari liyan yang bukan santri.

Hari santri nasional diperingati pada 22 Oktober, agaknya, diambil dari momentum dikeluarkannya resolusi jihad. Atas dorongan KH Hasyim Asyari, para kyai menggelorakan perlawanan terhadap tentara sekutu. Perlawanan itu dilakukan dengan tujuan: menjaga kedaulatan Republik Indonesia yang masih muda belia.

Pada momentum itu, santri nyawiji dengan para gerilyawan, laskar, tentara republik, juga orang lain yang mungkin tak dapat (atau tidak perlu) diidentifikasi golongannya. Mereka berjuang membela negara.

Kenyawijian itu terbangun karena mereka menanggalkan identitas dan kepentingan sektoral masing-masing sehingga sukses memenangi pertempuran.

Nah, apakah hiruk pikuk peringatan hari santri mewakili semangat zaman pada masa itu? Sy khawatir, bisa jadi ini kekhawatiran yang tak perlu, jika yang peringatan hari santri cuma digunakan santri mereproduksi identitas kesantriannya, idrntitas itu menajamkan identitas dan perbedaan dgn liyan yang bukan santri.

Kekhawatiran inilah yang agaknya disuarakan oleh Amartya Sen ketika menyusun Identitas dan Kekerasan. Dia mengamati, sesama buruh miskin di India bisa saling bunuh. Padahal mereka berasal dari kelas sosial ekonomi yang sama. Kekerasan itu, menurutnya, muncul karena menguatnya idrntitas sebagai Hindu atau Muslim yang membuat mereka merasa hidup pada “kotak” yang berbeda. Ketika perasaan “beda” dari yang lain menguat, muncul perasaan bahwa diri mereka berbeda dengan diri mereka yang lain. Pada tingkat tertentu, imaji itu melahirkan dorongan berkompetisi atau bahkan saling menaklukkan.

Terlalu jauhkah analisis saya? Mari kita survei kepada para santri yang hari ini memasang foto profil kesantriannya? Ketika memasang foto itu, adakah terbersit perasaan unggul diri karena identitas kesantriannya itu? Adakah, meski sekecil biji sawi, perasaan lebih mulia dibanding orang lain yang “bukan santri”?

Mari kita beri kesrmpatan kepada Kakanda Santri Sirun terlebih dulu utk menjawab masalah itu karena dia mungkin adalah santri yang paling konsisten mengaku santri. Hehe.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.