Renungan, Kaya Kualitatif dan Kaya Kuantitatif

Kemajuan sebuah negara selama ini diukur dengan pertumbuhan ekonomi. Dalam pertumbuhan ekonomi, ada berbagai variabel yang diukur seperti pendapatan domestik bruto, cadangan devisa, dan produktivitas warga negara variabel ekonomi lainnya. Agar sebuah negara dianggap maju, indikator-indikator ekonomi itu harus terus dipacu.

Belakangan alat ukur seperti ini mulai goyah dan dipertanyakan. Oleh ekonom seperti Amartya Sen, alat ukur pembangunan diubah dengan kualitas kehidupan manusia. Dari situlah lahir konsep indeks pembangunan manusia (IPM) yang kini telah dipakai berbagai negara sebagai alat menggukur kesuksesan pembangunan. Di sini, kemajuan sebuah negara tidak melulu diukur dari ekonominya, tetapi pengaruhnya terhadap kualitas hidup manusia.

Belakangan, pertumbuhan ekonomi dirasa tidak cukup relevan. Indikator itu bahkan cenderung merusak karena mendorong manusia menumpuk kekayaan sehingga berlomba-lomba mengeksploitasi alam. Oleh karena itu, sekarang mulai dikenal indeks kebahagiaan sebagai indikator kesuksesan pembangunan. Negara kecil yang dulu hanya antah berantah bernama Bhutan adalah pelopor untuk ini. Meskipun hidup dalam kesederhanaan, warga Bhutan adalah warga paling bahagia di dunia.

Pergantian indikator ini diterima sebagian besar orang karena kekayaan sebuah negara tidak menjami warganya berbahagia. Itu pula yang terjadi pada seseorang. Jumlah harta yang dimilikinya tidak menjamin dia berbahagia. Oleh karena itulah, kini adalah istilah kekayaan kualitatif dan kuantitatif.

Di India, ada seorang wanita kaya pergi ke toko sari (pakaian khas perempuan India). Dia berkata kepada penjaga toko. “Tolong tunjukkan beberapa sari murah. Ini untuk pernikahan anak pembantu saya.”

Selang beberapa waktu, pembantu wanita India itu juga datang ke toko sari yang sama. Dia berkata kepada penjaga toko. “Tolong tunjukkan beberapa sari yang paling bagus? Saya ingin memberi hadiah kepada Nyonya saya pada pernikahan anaknya.”

Dari kisah itu, kita bisa mempertanyakan, di antara keduanya siapa yang lebih kaya? Apakah majikan yang memiliki rumah dan penghasilan besar atau si pembantu yang penghasilannya kecil dan selama ini harus hidup menumpang?

Ada kisah lain. Seorang wanita dengan keluarganya menginap di sebuah hotel bintang 3 untuk piknik. Dia memiliki bayi berumur 6 bulan yang saat itu menangis karena mulai lapar. Stok yang disiapkan ibu ternyata sudah habis.

“Bisakah saya memperoleh 1 cangkir susu?” Dia meminta kepada seorang yang kebetulan pemilik hotel bintang 3 tersebut.

“Bisa Bu,” jawab pemilik hotel itu, “Tapi itu akan dikenakan biaya tambahan.”

“Tidak ada masalah,” kata wanita itu.

Setelah check out, wanita dan keluarganya melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Anaknya kembali merasa lapar. Mereka berhenti di sebuah kedai minuman di sisi jalan dan bermaksud membeli susu.

“Apakah Ibu menjual susu? Anak saya menangis, mungkin merasa lapar,” kata ibu kepada ibu penjaga kedai.

“Berapa banyak bu?” tanya pemilik kedai.

Setelah memperoleh susu dan bermaksud membayar, ibu pemilik kedai justru menjawab “Kami tidak mengenakan biaya untuk susu anak,” kata orang tua itu sambil tersenyum. “Beritahu saya jika ibu membutuhkan lebih banyak susu untuk bayi ibu selama perjalanan.”

Ibu dari bayi itu mengambil satu cangkir lagi sambil bertanya-tanya dalam hati, “Siapa yang lebih kaya? Pemilik hotel bintang 3 atau pemilik kios teh itu?”

Secara kuantitatif, pemilik hotel jauh lebih kaya. Dia memiliki aset miliaran. Dari hotelnya ia memperoleh penghaslan rutin jutaan rupiah. Tetapi jumlah kekayaan itu tidak selalu membuatnya merasa cukup, bahkan mungkin terus merasa kekurangan, sehingga harus mengenakan biaya untuk segelas susu.

Sementara ibu pemilik kedai, mungkin hanya memilikk sedikit uang. Tetapi dengan uang yang sedikit itu ia merasa sudah cukup, bahkan berlebih. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak keberatan jika adaorang yang meminta beberapa gelas susu darinya. Ia bahkan menawari lebih banyak susu jika orang lain memang membutuhkannya.

Diolah dari berbagai sumber.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *