Ranu Wijaya, Pemain Ketoprak Itu Meninggalkan Kita…

Suasana haru mewarnai tahlil dan doa yang dilantunkan puluhan dosen dan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes), Selasa (26/2) sore, di lobi jurusan itu. Acara ditujukan untuk salah satu dosen yang telah pergi untuk selamanya.

Sosoknya mudah diingat. Berperawakan gemuk dan murah sapa, ia gampang ditemui di kampus. Dikenal sebagai aktivis ketoprak semasa mahasiswa, banyak prestasi yang ia persembahkan untuk kampus ini. Namun Minggu, 24 Februari 2013 pukul 8.00 pagi, ia telah berpulang.

Dialah Sidiq Ranu Widjaya. Semasa menjadi mahasiswa, ia mengabdikan diri untuk kampus tercinta, Universitas Negeri Semarang. Setelah terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes tahun 2006, aktivitasnya dimulai sebagai pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ketoprak. Menjadi pemeran utama dalam lakon Ranggalawe Bakti, ia terpilih sebagai aktor pria terbaik pada Festival Ketoprak Se-Kota Semarang 2010. Unnes pun kemudian menjadi peserta yang selalu diperhitungkan dalam acara yang rutin digelar oleh Dewan Kesenian Semarang itu.

Semasa mahasiswa, selain menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa (Hima) Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes, ia yang akrab disapa Ranu, juga menjadi salah satu penggagas berdirinya Badan Semi-Otonom Kridhamadu. Sebuah organisasi yang memfasilitasi mahasiswa Unnes untuk belajar kepewaraan berbahasa Jawa.

Berbagai kegiatan, terutama yang berhubungan dengan kesenian Jawa, hampir selalu melibatkannya. Pada Paguyuban Seni Karawitan Dosen dan Mahasiswa (Sekar Domas) Unnes, ia acap dipercaya ngegong.

Tahun lalu, ketika Unnes melakukan lawatan kesenian ke Prancis, ia juga dipercaya untuk membantu, sebelum akhirnya Tuhan punya rencana lain. Ia terjatuh saat mengendarai sepeda motor, sebulan sebelum tim berangkat ke negara di benua Eropa itu. Ketika itu, ia telah tercatat sebagai dosen kontrak di jurusan yang sama dan menjadi mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Unnes.

Tim kesenian berangkat tanpanya. Semenjak itu, hampir setahun belakangan ini, ia keluar-masuk rumah sakit atas sakit yang diderita. Ternyata tak hanya cidera pada kaki kanan. Perkembangan medis berikutnya, Ranu juga menderita beberapa penyakit lain. Mungkin juga karena kondisi psikis yang kian menurun. “Mas Ranu down dan tidak segemuk dulu,” kata Heri Purnomo, mahasiswa Jurusan Bahasa Jawa FBS Unnes yang menggantikan posisinya pada lawatan itu.

Pantang Menyerah

Setelah beberapa saat dirawat, ia masih saja beraktivitas dan berkesenian di kampus. Berjalan menggunakan penyangga di kedua tangan, Ranu tetap penuh semangat menjalankan kewajiban. Sebelum akhirnya ia menyerah pada keadaan.

“Ia pekerja keras dan pantang menyerah. Apa yang sudah dilakoni semasa hidupnya patut menjadi teladan bagi mahasiswa lain,” ujar Widodo Brotosejati, Pimpinan Paguyuban Sekar Domas, yang juga dosen di Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) FBS Unnes. Para dosen dan aktivis yang mengenalnya melakukan selamatan memperingati tiga hari kepergiannya, sesaat sebelum Sarasehan Selasa Legen, Senin (25/2) di serambi auditorium kampus Sekaran.

Selain pada bidang seni dan keaktivisan, di bidang akademik, Ranu juga rajin menorehkan prestasi. Pada wisuda periode I tahun 2010, ia tercatat sebagai wisudawan terbaik dari jurusannya. Tak hanya itu, bersama teman-teman aktivis, ia rutin menggelar kegiatan serupa seminar maupun sarasehan yang bertujuan meningkatkan kemampuan akademik mahasiswa.

“Ranu telah banyak berbuat di kampus ini. Namanya patut dikenang sebagai lambang kegigihan seorang aktivis kampus,” kata Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes Yusro Edy Nugroho MHum, seraya memintakan maaf kepada siapa pun, jika semasa hidup almarhum pernah berbuat hal yang kurang berkenan.

Direncanakan, untuk mengenang 40 hari kepergiannya nanti, akan diluncurkan buku berisi kumpulan karya serupa geguritan, tembang, cerkak, maupun esai. “Siapa pun yang merasa kenal dan dekat dengannya dapat mengungkapkan ekspresi melalui beragam moda ungkap itu,” kata Sucipto Hadi Purnomo, dosen di jurusan yang sama yang juga Kepala UPT Humas Unnes.

Selamat jalan, sahabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.