Prokrastinasi di Tengah Pandemi

Oleh : Irvan Syarul

Hadirnya pandemi corona di tengah kehidupan kita membuat banyak hal berubah mulai dari berubahnya sistem pendidikan, ekonomi sampai aktivitas sehari-hari kita pun ikut berubah seperti bekerja yang dulu bisa dilakukan di luar rumah sekarang dilakukan sebisa mungkin di rumah seperti anjuran pemerintah yaitu work from home.

Ketika aktivitas yang biasa kita lakukan berganti menjadi dilakukan di rumah maka hal tersebut menimbulkan banyak masalah salah satunya yaitu kita menjadi sering menunda-nunda pekerjaan atau istilah lainnya prokrastinasi, seperti yang disampaikan oleh Ferrari (2010) bahwa 20% masyarakat dunia merupakan pengidap kronis prokrastinasi.

Penyebab prokrastinasi sendiri ada berbagai macam hal seperti merasa memiliki banyak waktu luang, merasa mampu mengerjakan hal tersebut sehingga meremehkannya, tergoda melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan seperti menonton film, bermain sosial media, serta berbagai alasan untuk menunda pekerjaan lainnya.

Apalagi ditambah sekarang dalam keadaan pandemi yang membuat kita harus di rumah dan kurang bersosialisasi secara langsung yang membuat peluang kita melakukan prokrastinasi lebih besar lagi seperti yang disampaikan Gafni dan Geri (2010) bahwa seseorang lebih sering menunda pekerjaan individu daripada pekerjaan kelompok.

Padahal Eka Putri (2019) mengatakan bahwa perilaku prokrastinasi mampu meningkatkan stres, yang mana dari laman antaranews.com (23/06/2020), Psikolog Wiene Dewi mengungkapkan bahwa stres mampu menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit termasuk terinfeksi virus corona. Jadi sudah seharusnya kita dalam menghadapi pandemi ini selain melakukan physical distancing juga menghindari perilaku prokrastinasi yang bisa menyebabkan kita rentan terkena corona.

Lantas bagaimana cara kita agar terhindar dari perilaku prokrastinasi?

Pertama, rancang tugas yang harus dilaksanakan, perilaku prokrastinasi terjadi karena kita tidak mengorganisir dan merancang tugas yang harus kita kerjakan sehingga kita cenderung lalai, yang mana menyebabkan kita akhirnya menunda pekerjaan tersebut.

Kedua, buat skala prioritas, setelah merancang tugas selanjutnya kita pilih tugas yang mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu berdasarkan kepentingan dan prioritas kita dan apabila kita memiliki beberapa tugas yang harus dikerjakan dalam waktu bersamaan pilihlah tugas yang terberat dahulu untuk dikerjakan karena apabila tugas yang terberat itu selesai maka ketika mengerjakan tugas yang lainnya kita merasa mudah dalam pengerjaannya.

Ketiga, mulai sekarang juga, setelah merancang dan membuat skala prioritas langkah selanjutnya agar terhindar dari prokrastinasi yaitu mulai kerjakan tugas tersebut sekarang juga, jangan ada alasan menunda lagi, untuk melakukan hal tersebut tentu awalnya  pasti akan susah tapi apabila kita paksakan untuk disiplin dan menjadikannya kebiasaan maka hal tersebut akan berasa mudah dan ringan.

Selain menghindarkan diri dari stres, menghindari prokrastinasi juga memiliki banyak manfaat yang bisa kita rasakan contohnya kita bisa mengerjakan tugas dengan lebih maksimal seperti  yang dikatakan Tani (2017) bahwa mereka yang mengumpulkan tugas lebih awal cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik daripada yang mengumpulkan tugasnya telat.

Selain itu dengan kita menghindari prokrastinasi kita juga akan memiliki banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan lain yang bermanfaat seperti olahraga, membaca buku dan lain sebagainya, karena ketika kita melakukan prokrastinasi kita cenderung akan memikirkan tugas tersebut jadi kita selalu merasa terbebani dan akan merasa tidak punya waktu.

Jadi sudah seharusnya kita hindari perilaku prokrastinasi apalagi di tengah pandemi yang mana kita memiliki banyak waktu luang untuk bisa kita manfaatkan agar kita tidak menyesal setelahnya, seperti kata-kata dari Windry Ramadhina (2013) yaitu “Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal”.

 

[Irvan Syarul]

Opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa matakuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.