Pikiran Menyederhanakan, Pemikiran Menjadi Sederhana

Ternyata (ini pengakuan bahwa saya kuper) ada kekeliruan berlogika bernama kesalahan penuturan (narrative fallacy).

Konsep ini, konon pertama kali dikemukan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam The Black Swan. Tapi saya mendengar pertama kali justru dari The Everything Store yang ditulis Brad Stone.

Manusia, secara biologis, cenderung membuat penyederhanaan terhadap realitas yang dihadapinya. Strategi yang niscaya ini dilakukan supaya otak bisa memahami sesuatu.

Hubungan yang absurd, oleh otak, dilogikakan seolah-olah memiliki hubungan logis satu sama lain. Karena dengan begitulah otak bisa memahaminya, bisa pula mengingatnya.

Penjelasan ini saya kira cukup memuaskan, setidaknya untuk menelaah mengapa memahami sesuatu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bisa melakukannya.

Teori kewirausahaan adalah penyederhanaan dari kerumitan berwirausaha. Karena itu, beraharp jadi mahir berwirausaha hanya melalui teori wirausaha (tanpa mencoba) adalah sebuah kesalahan pula.

Kalau jangkaunnya diperluas, kesalahan penuturan hampir terjadi dalam setiap peristiwa bahasa. Siapa pun yang menuturkan sebuah peristiwa, pada dasarnya, hanya menyederhanaknnya. Ada kerumitan yang diabaikan.

Karena pikiran manusia pada dasarnya disusun dengan bahasa, maka realitas pikiran sebenarnya juga produk dari kesalahan penuturan. Karena itulah, pikiran kita hampir selalu terjebak pada aneka bias.

Sampai di sini, saya dihadapkan pada pertanyaan: kalau sandarannya hanyalah pikiran kita, apakah berarti konsep benar dan salah dalam kepala juga demikian rapuhnya?

Salam.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *