Pesan Konsumsi dalam The Supper Club karya Wiwien Wintarto

Membaca teenlit barangkali tampak kegiatan sederhana. Alih-alih dipandang sebagai tindakan dengan motif intelektual, membaca teenlit kerap disebut sebagai kegiatan pengisi luang belaka. Ya, semacam hobi yang dilakukan karena semata-semata kesenangan. Having fun.

Namun demikian, tidak berarti teenlit tidak bisa menjadi media distribusi nilai. Sama seperti karya fiksi lain, media ini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembaca. Pengaruh itu dapat terjadi karena penulis teenlit memiliki kecenderungan melakukan penilaian terhadap sesuatu. Melalui tokoh-tokohnya, si penulis tidak bisa menghindari kecnederungan untuk menasihati pembaca.

Begitu pula yang dapat kita temukan pada novel teenlit The Supper Club (2014) yang ditulis oleh Wiwien Wintarto, penulis idola wanita Indonesia. Ada sejumlah ajaran hidup yang ditawarkan di situ. Salah satunya: ajaran hidup konsumtif. (Wiwien pasti bereaksi: eh, apa iya?)

Saya menduga ajaran seperti bisa ditemukan di teenlit lain karena ada formula yang menunjukkan novel-novel teenlit berkisah tentang manusia urban. Di kalangan komunitas urban, tindakan konsumsi bahkan menjadi ritus pembentukan identitas.

Ciara Cantik, Modern, dan Digemari

Cara paling mudah untuk menyisipkan ajaran adalah melalui karakter tokoh. Itu pula yang dilakukan Wiwien. Penulis memeragakan sejumlah tindakan konsumsi berlebihan yang berelebansi dengan nasib tokoh bersangkutan.

Tokoh Ciara merupakan tokoh sentral dalam The Supper Club. Tokoh ini digambarkan penulis sebagai perempuan cantik, cerdas, dan pintar masak. Dia dicertiakan sebagai staf humen resource development (HRD) pada perusahaan telekomunikasi nasional Helman Comunication. Ciara adalah perempuan urban. Dia lahir dan tumbuh remaja dari keluarga rural di Klaten dan berpindah ke Semarang sejak mulai kuliah. Setelah lulus ia bekerja di Semarang dan tingga di sebuah rumah kos bersama teman-temannya.

Penulis menggambarkan Ciara sebagai pribadi dengan kehidupan ekonomi mapan dan kehidupan sosial baik. Kehidupan ekonominya mapan karena ia bekerja sebagai karyawan perusahaan besar. kehidupan sosialbaik ditandai dengan keberterimaan Ciara di berbagai kelas sosial, seperti lingkungan kos, kantor, kalangan sopir taksi, satpam, dan klub The Supper Club-nya.

Ciara juga perempuan yang cantik dan menarik, tidak hanya dari wajah tetapi juga fisik secara kesluruhan. Deskripsi kondisi fisik Ciara antara lain diungkap dalam dialog Ciara dengan tokoh lain bernama Lala, teman satu kos Ciara, berikut ini.

“Kamu ini cantik, seksi, kulit putih, kulit putih mulus … bertampang metropolitan, pinter masak lagi.” (Hlm. 6)

Nah, prestasi Ciara sebagai perempuan yang berterima secara sosial, cantik, dan bisa mnggaet laki-laki kaya ternyata didukung oleh aktivitas konsumsinya yang agak berlebihan untuk ukuran sosialnya, antara lain (1) berlangganan taksi untuk berangkat kerja; (2) mengisi waktu luang dengan jalan-jalan di mall; (3) makan di restoran mewah; (4) memilih kafe sebagai tempat nongkrong.

Staf HRD Berlangganan Taksi

Kegemaran Ciara naik taksi dari rumah kosnya ke kantornya dapat ditelusuri melalui narasi dari tokoh “Aku” berikut ini.

“Kalau orang berlangganan koran harian tiap pagi, aku berlangganan taksi. …sudah setengah tahun lebih kebiasaan ini berlangsung, dan amat membantu membantu orang seperti aku yang tak punya kendaaraan sendiri, meski sebenarnya aku bisa saja beli..” (Hlm. 19)

Pilihan Ciara menggunakan taksi termasuk konsumsi simbolil, bukan sekadar pilihan atas pertimbangan fungsional. Untuk menuju kantornya yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit, Ciara punya sejumlah pilihan moda transportasi lain seperti angkutan kota dan ojek.

Keputusan Ciara memilih taksi dan mengabaikan angkot serta ojek adalah keputusan yang disertai pemaknaan terhadap simbol. Taksi diidentifikasi Ciara sebagai moda transportasi yang tepat baginya karena kesannya yang mewah dan kelas atas. Taksi dapat membantunya mencitrakan diri sebagai perempuan karier kelas menengah di hadapan teman, rekan sekantor, atau atasannya.

Kesan kelas atas dapat ditampilkan Ciara karena taksi adalah moda transportasi yang ekslusif bagi satu atau hingga empat penumpang. Jenis mobil yang digunakan adalah sedan. Di Indonesia, operator taksi juga tidak menggunakan mobil dari sembarang merk, tetapi merk-merk menangah dan atas seperti Toyota Vios, Chverolet Limo, Holden Gemini, Mitsubishi Lancer, Nissan Suny, Ford Laser, Toyoa Corolla, dan Hyunday Accent. Taksi dengan jenis APV Seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia relatif baru dikenal di Indonesia.

Mengisi waktu luang di mall

Setelah selesai bekerja atau saat libur, Ciara senang mengunjungi mall. Di tempat itu ia tidak selalu berbelanja, tetapi kadang untuk menghibur diri. Dia merasa senang berkeliling dan melihat barang-barang di sana. Mngenai kegiataannya Ciara itu, penulis mendeskripsikan Ciara dalam sebuah dialog dengan tokoh Sena.

“Wah, lha emangnya ini lagi di mana, Mbak?”
“Saya lagi jalan-jalan belanja sendirian di Carefour DP Mall.” (Hlm. 6)

Aktivitas konsumsi Ciara tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomis semata, melainkan juga untuk mengisi waktu luang. Gambaran ini dapat ditemukan dalam deskripsi berikut ini:

“Kadang aku tak tahu juga untuk tujuan mendesak apa aku berkeliaran di tempat ini. kupandangi deretan daging beku disekelilingku. Yang paling menyenangkan sebenarnya berjalansambil berkeliling dan melihat-lihat, bukan ketika akhirnya membeli sesuatu…” (Hlm. 29)

Bagi penduduk perkotaan, mall telah jadi bagian tidak terpisahkan dalam aktivitas konsumsi. Mall tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat kelas menengah dan atas, tetapi juga dikunjungi oleh masyarakat miskin. Mall tidak hanya menjanjikan ketersediaan barang sebagaimana pasar tradisional, tetapi juga kenyamanan, ilusi kebanggan, sekaligus interaksi. Mall menjadi pusat peradaban masyarakat perkotaan karena juga menyediakan tempat makan, mainan, dan pemandangan.

Sari (2010) berpendapat bahwa mal telah berevolusi menjadi tempat yang memiliki apapun yang diinginkan oleh pengunjungnya dari usia anak sampai dengan orang tua.  Di mal aktivitas keluarga dapat berjalan bersamaan, ketika orang tua berbelanja, anak-anak mereka  dapat  bermain di pusat hiburan, menonton bioskop, dan pada saat yang sudah ditentu-kan seluruh anggota keluarga akan berkumpul di food court  untuk makan bersama. Walaupun seringkali mal memiliki  target market pengunjung yang spesifik, tetapi mal tetap mampu mewadahi berbagai aktivitas untuk pengunjung yang berbeda,  kesemuanya menawarkan  kesenangan, kegembiraan dan kemudahan.

Pilihan masyarakat untuk belanja di mall tidak hanya dilandasi pertimbangan rasional terhadap harga, kualitas, dan kegunaan barang, tetapi juga alasan-alasan emosional seperti kebanggaan dan prestise. Pilihan mengisi waktu luang di mall adalah pilihan ideologis untuk mengonsumsi dan melekatkan simbol-simbol tertentu kepada dirinya. Sebagai tempat berbelanja, mall identik dengan tempat belanja masyarakat kelas menengah dan atas. Mall menyediakan ruang yang besar, bersih, dan dingin dengan barang-barang mahal dengan brand terkenal. Mall juga menyediakan layanan pembayaran canggih seperti kartu kredit, kartu debet, atau e-money.

Simbol berperan penting dalam konstruksi mall menjadi pusat kegiatan masyarakat kota. Mall berkembang menjadi pusat pembentukan gaya hidup dengan mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu dan aktivitas masyarakat, sehingga ia menjadi pusat aktivitas sosial dan akulturasi, tempat pembentukan citra dan eksistensi  diri, sumber pengetahuan, informasi, tata nilai dan moral.

Makan di restoran mewah Monsoon

Tempat makan dan minum seperti restoran dan kafe juga menjadi identitas konsumsi tokoh Ciara. Dia menggunakan restoran dan kafe tidak hanya sebagai tempat makan dan minum, melainkan juga tempat sosialisasi dengan teman-temannya. Pilihan pada restoran kafe tertentu yang terletak di kawasan tertentu merupakan pilihan konsumsi yang dilandasi pertimbangan simbol.

Pilihan Ciara pada restoran jenis tertentu digambarkan dalam sejumlah kesempatan. Ciara dan teman-temannya sering betemu di restoran Monsoon, sebuah restoran asia di Jalan Gajah Mada Semarang. Restoran ini digambarkan sebagai salah satu restoran termewah dan bergengsi di Semarang karena dipilih digunakan walikota, pengusaha, dan artis.

“Karena di Monsoon dia berposisi adi Chef de Cuisine atau Executive Chef, tuganya meng-create menu dan melakukan tugas-tugas manajemen kayak jadwal kerja dan pembagian gaji. Danny juga baru akan masak untuk tamu-tamu khusus, biasanya para pejabat, orang-orang kaya atau kalau ada seleb yang berkunjung ke Monsoon.” (Hlm. 73)

Kemewahan restoran ini juga digambarkan melalui citraan chef-nya sebagai chef profesional kelas atas seperti tergambar dalam dialog berikut ini.

“Ra, si Danny itu orang mana sih?” tanya Erfi sambil melompat naik ke kasur dan memeluk guling.

“Orang Semarang juga,” jawabku. “Maksudku, dia memang tinggal di sini. Dulunya di Jakarta, terus pindah menetap di Semarang setelah diterima kerja di Hotel Tower. Habis dari Tower, di kerja di Restoran Monsoon sampai sekarang.” (Hlm. 73)

Restoran pertama di dunia diyakini ada di Pompeii, Romawi Kuno, sejak abad 2 SM dengan nama cauporioe. Namun kata restoran baru dikenal pada abad 16 di Perancis. Restoran berasal dari kata restaurer atau restore yang berarti membangkitkan tenaga. Sebutan ini dipakai untuk sajian sup yang sarat kaldu.

Dalam Encyclopedia Britannica, istilah restoran pertama kali dijelaskan sebagai ”Rumah makan pertama kali yang kemudian dikenal dengan nama restoran didirikan pada tahun 1765, oleh A. Boulanger, yaitu makanan berupa sup sayur di Paris. Keberadaan rumah makan ditunjukkan dengan memberikan tanda pada pintu rumahnya dalam bahasa latin. Datanglah pada saya dengan perut buruk kamu (dalam keadaan lapar dan saya akan menyembuhkan kamu)”. Pada periode inilah restoran naik kelas sebagai tempat makan bagi para bangsawan. Restoran didesain mewah untuk menunjukkan kelas sosial tamunya.

Di Indonesia, restoran beroposisi secara biner dengan warung makan. Warung makan seperti warteg adalah tempat makan harian yang menyediakan menu murah bagi masyarakat kelas bawah. Adapun restoran, karena harga dan pilihan menunya, hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah dan atas. Sebagaimana hotel, restoran juga memiliki kelas-kelas yang berbeda. Untuk menunjukkan kelasnya, restoran diberi label berdasarkan jumlah bintang, dari restoran bintang 3 sampai bintang 5.

Pilihan Ciara untuk makan di Monsoon merupakan pilihan yang disertai pertimbangan simbol. Hal itu tampak pada bagaimana cara Ciara memaknai symbol-simbol di sana, seperti sebutan Chef de Cuisine untuk menyebut  orag yang masak hingga cara dia menyebut pejabat, pengusaha, dan selebiris. Dengan symbol-simbol itu, restoran dianggap Ciara dapat merepresentasikan gaya hidup kelas menengah atas di Semarang. Dengan cara itu, Ciara sedang menunjukkan kelas sosialnya yang tinggi meski di kantor ia hanya staf HRD.

Kongkow di kafe Tea Tale

Menurut Online Etymology Dictionary, café berasal dari bahasa Perancis “coffe” atau “coffeshop”. Kafe atau coffeshop adalah tempat minum kopi atau minuman lain yang hangat. Pada masa kekuasaan Ottoman, konsep coffeshop telah dikenal  pada abad 15. Coffeshop pertama di Istanbul bernama Kiva Han. Pada 1512, konsep kafe yang mirip juga ditemukan di Damaskus sebagai tempat pertemuan para imam.

Di Indonesia, coffe merupakan bentuk mewah dari warung kopi. Jika warung kopi menjual kopi untuk masyarakat bawah, kafe menyediakan menu kopi dan minuman sejenisnya untuk masyarakat kelas atas. Perbedaan kelas antara warung kopi dan kafe dapat diamati pada jenis menu yang tersedia, lokasi dan kondisi tempat, serta harga jualnya. Di warung kopi, kopi dijual bersama jajanan tradisional seperti mendoan, tahu goring, petis, peyek, dan sejenisnya. Adapun di kafe, selain menjual kopi, biasanya juga menawarkan menu kentang goreng, keju, dan semacamnya.

Pria Kaya, Baik Nasib Asmaranya

Tokoh Sena dalam The Supper Club digambarakan sebagai pria kaya dengan kedudukan sebagai direktur utama sebauah perusahaan telekomunikasi. Kekayaaan Sena dideskripsikan penulis melalui sejumlah aktivitas konsumsinya, antara lain (1) memiliki dan menggunakan mobil mewah; (2) tinggal di komplek perumahan elit: (3) tinggal di hotel untuk kesenangan; (4) terbang Semarang-Jakarta hanya untuk menonton film, (4) menggelar acara keluarga di mall; dan (5) memiliki apartemen yang tidak ditinggali.

Menggunakan mobil mewah

Tindakan konsumsi Sena tergambar pada pilihannya terhadap moda kendaraan untuk menunjang aktivitasnya. Dia tidak memilih mobil standar, tetapi mobil yang mewah yang memang menunjukkan kelas kelas sosialnya. Gambaran ini ditegaskan penulis dalam dua bagian sekaligus.

…Akhirnya aku jadi pulang bareng Pak Sena. Aku dimbimbing menuju Misthubishi Pajero-nya. Besar dan jantan sekali…” (Hlm. 56)

Pada bagian lain The Supper Club, Sena digambarkam memiliki mobil Audi seperti dalam dialog Ciara dengannya, berikut ini:

“Trims. Oh, ya, kamu pakai mobil apa? Pajero yang biasanya?
“Bukan. Yang satunya lagi, Audi. Jarang kupakai karena terlalu pamer..” (Hlm. 159).

Dua jenis kendaraan yang digunakan Sena adalah kendaraan kelas atas. Mitsubishi Pajero Sport adalah tipe kendaraan multi purpose vehicle (MPV) bergaya sporty. Citraan mewah tampak dari spefisikasi mesin,  desain interior dan eksterior, serta fasilitas audio video yang tersedia. Di pasaran, harga dealer mobil jenis ini mencapai Rp370 juta. Harga tersebut jauh di atas mobil MPV lain seperti Kijang Innova, Avanza, maupun Suzuki APV.

Jenis mobil lain yang digunakan Sena adalah Audi, merk mobil Jerman. Dibandingkan merk Jepang dan Korea, mobil produksi Eropa dikenal memiliki spesifikasi mesin yang lebih baik. Oleh karena itu, segemntasi pasar Audi adalah masyarakat kelas menengah dan atas. Di Indonesia, Audi antara lain memasarkan jenis mobil mewah seperti Ducati dan Lamborghini.

Menggelar acara di hotel

Tindakan konsumsi Sena juga tergambarkan pada sikapnya terhadap hotel. Baginya, hotel bukan tempat menginap yang diperlukan saat ada perjalanan dinas atau wisata ke luar kota, tetapi juga untuk  keperluan aktualisasi diri dengan teman, seperti digambarkan dalam narasi berikut ini:

Dari pembicaran satu sisi yang aku dengar, sepertinya keluarga Pak Sena akan mengadakan acara keluarga di mall Ciputra, Simpanglima…” (Hlm. 54)

Pada bagian lain The Supper Club, hotel diceritakan menjadi tempat nongkrong Sena bersama teman-temannya.

Bagi tokoh Sena, hotel bukan sekadar tempat bermalam untuk urusan bisnis. Hotel juga tempat untuk menggelar acara-acara keakraban dengan teman, seperti tergambar dalam dialog antara Ciara dengan Sena berikut:

“Halo. Kamu lagi di mana?”

“Novotel. Ada sedikit acara sama teman-teman. Ada apa?”

“Penting nggak acaranya?”

“Mmmm.. nggak juga, sih. Cuma kumpul-kumpul sama teman-teman zaman kuliah dulu. Memangnya kenapa sih?” (Hlm. 159).

Cara Sena menggunakan hotel adalah cara yang khas hanya dilakukan oleh masyarakat kelas atas. Cara konsumsi demikian berbeda dengan masyarakat kelas menengah dan bawah yang menjadikan hotel sebagai tempat bermalam hanya dalam keadaan darurat, wisata, atau dinas.

Touring menggunakan motor besar

            Tindakan konsumsi Sena juga digambarkan dalam pilihannya memperoleh kesenangan dengan hobi mahal berupa touring menggunakan moter gede (moge). Motor gede bukan alat transportasi yang dimiliki seseroang karena fungsinya, melainkan karena simbolnya untuk menyatakan kekayaan dan kelas seseroang. Berikut petikannya:

“Aku ada touring bareng kawan-kawan. Mungkin kamu mau ikut. Asyik lho.”

“Touring?”
“Iya. Berkeliling naik motor gede. Rute minggu depan adalah Solo, Tawangmangu, Ketep Pass, Jogja, Magelang, dan balik lagi ke Semarang.” (Hlm. 97)

Touring menggunakan motor besar dapat dipandang sebagai tindakan sosial yang dilakukan untuk memperoleh penghargaan sosial, baik dari sesama pengguna moto besar maupun masyarakat umum. Para pengguna motor besar tidak menggunakan motor sebagai alat transportasi, melainkan sebagai alat menunjukkan kelas. Jenis motor yang digunakan pun jauh lebih mahal disbanding kendaraan roda dua lain.

Berdasarkan penelitian Krestanto (2003) terhadap konsumen sepeda motor besar di Surabaya, merk motor besar yang paling banyak dibeli adalah Honda, Harley Davidson, BMW, dan Suzuki. Sebagian pengguna sepeda motor besar adalah laki-laki dengan rentang usia 26 sampai 50 tahun dengan rata-rata penghasilan di atas Rp5 juta. Sebagian pemilik sepeda motor besar merasakan kenikmatan memiliki, merawat, dan menggunakan sepeda motor besar.

Menggunakan pesawat untuk perjalanan sepele

Dalam salah satu bagian The Supper Club, diceritakan Sena mengajak Ciara untuk nonton film di Mall Pondok Indah Jakarta. Untuk keperluan itu, mereka sengaja terbang dari Semarang ke Jakarta sebagaimana terlihat pada petikan berikut ini.

Siang tadi aku ke kantornya Sena untuk finalisasi kerja sama antara CP dengan Helman Comms. Ternyata selesainya ceppat, dan aku nggak perlu balik ke Helman, padahal tadi itu belum sampai jam duaan. Terus Sena puny aide, ‘Gimana kalau kita nonoton?’. Aku bilang oke, tentu saja. Dan Sena bilang lagi, ‘Tapi nontonnya di Jakarta’..” (Hlm. 170)

Tindakan Sena terbang dari Semarang ke Jakarta hanya untuk mengajak Ciara nonotn film adalah tindakan yang dilakukan untuk mencari perhatian. Tindakan ini dilakukan untuk menunjukan diri bahwa ia memiliki cukup banyak uang untuk membiayai penerbangan Semarang – Jakarta bahkan untuk hal-hal sepele.

Dalam studi yang dilakukan Herlina (2012), terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi perilaku seseroang dalam memilih film, yaitu pemasaran komunikasi (iklan, publisitas); sumber informasi yang netral (film review, dari mulut ke mulut); karakteristik film (genre, sutradara, produksi remake, negara asal, aktor, karya adaptasi, rumah produksi, judul); konten (cerita, objectionable content, teknologi); dan kemudahan (jadwal pemutaran, judul). Tindakan Sena memilih untuk nonotn di Jakarta adalah tindakan yang tidak lumrah dengan pamrih sosial memamerkan kekayaan.

Tindakan ini efektif karena Ciara kemudian mengiyakan ajakan Sena. Sebagai komunikan, Ciara menangkap pesan yang disampaikan Sena. Ciara tidak dapat menampik kesan bahwa Sena adalah orang kaya yang rela mengeluarkan banyak uang untuk menyenangkannya.

Hubungan Tindakan Konsumsi dan Identitas Tokoh

Dengan profil kepribadian dan  perilaku konsumsinya, Ciara memperoleh penghargaan sosial yang baik. Dia diterima di berbagai komunitas sosial, baik di kos, di kantor, di keluarga, juga komunitas yang strata sosialnya lebih rendah seperti sopir taksi dan satpam. Penulis mendeskripsikan, Ciara tidak hanya diterima dengan baik, tetapi sekaligus memiliki pesona yang lebih baik dibandingkan perempuan lain di sekitarnya. Bagi para laki-laki, Ciara menarik karena kecantikannya. Dengan modal fisik, Ciara bisa membuat laki-laki nekat untuk berkenalan meski harus dilakukan dengan cara yang kurang terhormat. Kecantikan Ciara juga membuat sopir taksi yang mengantarnya setiap pagi selalu mencuri kesempatan untuk mencuri pandang. Kecantikan pula yang membuat Ciara dipilih oleh Sena, rekan bisnis atasannya, untuk menjadi pacar.

Bagi para sahabat perempuannya, daya tarik utama Ciara adalah kemampuannya memasak. Dia dideskripsikan memiliki bakat masak yang diwarisi dari ibunya. Kemampuannya dalam mengolah makanan yang  di atas rata-rata membuat ia disukai oleh sahabat-sahabatnya.

Dalam The Supper Club, penulis menarasikan bahwa penghargaan sosial yang diterima oleh tokoh Ciara disebabkan oleh modal fisik yang cantik dan keterampilannya memasak. Dalam beberapa bagian, Ciara juga digambaran sebagai pribadi yang peduli dengan sesama. Namun, deskripsi ini merupakan deskripsi minoritas yang dituturkan secara sekilas dan tidak cukup memiliki andil menentukan nasibnya.

Dengan narasi dasar demikian, secara implisit penulis hendak menyampaikan kepada pembaca bahwa keberterimaan perempuan di ruang publik dapat diraih melalui dua alat, yaitu kecantikan dan keterampilan memasak. Penulis tidak menceritakan bahwa tokoh utama memiliki prestasi sosial, akademis, maupun profesional yang istimewa.

Hal demikian juga dialami tokoh Sena. Tindakan konsumsi Sena lebih banyak dilakukan sebagai strategi peneguhan identitas sebagai orang kaya daripada untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Dengan identitas sebagai pengusaha kaya, Sena memperoleh penghargaan sosial lebih dari orang-orang di sekitarnya. Dari tokoh Ciara misalnya, Sena diberi kesempatan mendekatinya. Bahkan, Ciara menunjukkan ketertarikan dan bersikap terbuka saat Sena mengajak Sena bicara, makan bersama, pergi, bahkan touring.

Contoh lain keberterimaan Sena adalah saat ia mengajak Ciara melakukan hubungan seksual. Ciara berprinsip untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah karena etika yang diajarkan oleh orang tuanya. Namun, ketika Sena merayu, Ciara tidak kuasa menolak. Penerimaan Ciara berkaitan dengan identitas Sena sebagai orang kaya. Lebih-lebih, sebelum merayu, Sena mengajak Ciara ke apartemennya yang sepi. Apartemen dapat dimaknai sebagai identitas kelas atas.

Nasib berbeda dialami oleh Fendy. Dia telah menunjukkan perhatian kepada Ciara dengan sejumlah cara. Namun karena Fendy hanya staf di salah satu perusahaan event organizer, keberterimaan Fendy di hadapan Ciara tidak cukup baik. Ciara berupaya menghindari pertemuan dengan Fendy. Dia juga membalas pesan singkat Fendy dengan jawaban-jawaban singkat untuk menunjukkan ketidakberminatan melanjutkan obrolan. Puncaknya adalah ketika Fendy mengutarakan perasaan cinta. Ciara menolaknya mentah-mentah.

Bagaimana Penulis Menganjurkan Konsumsi?

Sebagaimana karya seni lain, karya sastra meruakan sebuah karya ideologi yang memuat nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai ini disampaikan pengarang kepada pembaca melalui medium sastra. Nilai-nilai konsumerisme, yakni nilai yang meyakini adanya kepuasan dan kebahagiaan dalam aktivitas konsumsi, disampaikan pembaca melalui beberapa cara.

Oposisi biner

Oposisi biner digunakan penulis untuk membandingkan dua hal yang berbeda secara kontras. Dengan cara ini, pengarang membimbing penulis untuk menentukan salah satu hal yang dianggap baik dan meninggalkan hal lain yang dianggap tidak baik. Relasi oposisi biner dapat diterapkan pada tokoh, tempat, maupun suasana.

Pada tokoh, misalnya, oposisi biner digunakan penulis pada tokoh Sena dan tokoh Fendy.Sena yang kaya dilekati dengan berbagai sifat baik. Dia juga berhasil meraih impiannya untuk memacari Ciara dan kemudian menyebutuhinya. Adapun Fendy yang tidak kaya digambarkan memiliki perangai kurang baik, tidak tahu diri, tergesa, gesa. Nasib asmaranya pun memprikhatinkan karena diabaikan oleh Ciara.

Dengan strategi oposisi biner di atas, penulis membimbing pembaca untuk menyukai tokoh Sena yang kaya, royal, dan tampan. Hal ini berarti, penulis berupaya mengarahkan pembaca untuk meniru perilaku tokoh Sena daripada tokoh Fendy.

Oposisi biner juga dapat ditemukan pada cara penulis dalam mengungkapkan desa dengan kota. Dalam cerita ini, desa yang dimaksud adalah kampung halaman Ciara di Klaten. Adapun kota adalah Kota Semarang, tempat Ciara bekerja sebagai staf HRD sebuah perusahaan.

Kampung halaman Ciara di Klaten diceritakan sebagai kampung yang sepi dan sulit dijangkau. Untuk menuju ke sana, Ciara harus menggunakan bis dan angkutan kota. Waktu tempuh ke sana pun cukup lama, yaitu sekitar 4 jam dari Kota Semarang. Di sanalah Ciara lahir dan tumbuh. Di sana pula orang tua Ciara hidup hingga saat ini. Adapun Kota Semarang digambarkan sebagai kota metropolis yang menawarkan berbagai kemudahan dan kesenangan. Di kota ini Ciara merasakan kebahagiaan karena dapat memperoleh pekerjaan, uang, teman, dan pacar.

Dengan demikian, secara tidak langsung, penulis The Supper Club membimbing pembaca untuk lebih menyukai kehidupan di kota dibandingkan kehidupan di desa.

Narasi nasib tokoh

Pesan ideologis konsumerisme pada novel The Supper Club juga dapat ditelusuri melalui analisis skema narasi dasar (basic narrative scheme). Narasi dasar novel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Ciara bertemu Sena.
  2. Ciara dan Sena saling tertarik.
  3. Ciara dilamar Fendy untuk menjadi pacarnya, tapi menolak.
  4. Ciara dan Sena berpacaran.
  5. Ciara dan Sena memutuskan menikah.
  6. Ibu Sena tidak menyetujui rencana pernikahan Ciara dan Sena.

Skema naratif dasar pada The Supper Club di atas menunjukkan bahwa tindakan konsumsi yang dilakukan oleh dua tokoh merupakan  tindakan yang berpengaruh terhadap nasib tokoh.  Pada skema naratif nomor 2, yakni ketika Ciara dan Sena tertarik satu sama lain, ketertarikan kedua tokoh utama ini disebabkan oleh status sosial dan kepemilikannya. Ciara tertarik dengan Sena karena merupakan pemilik perusahaan yang memiliki kekayaan melimpah. Kekayaan melimpah ini ditunjukkan dalam aktivitas konsumsi Sena, seperti menggunakan mobil mewah, tinggal di komplek perumahan elit, senang menggelar acara di hotel, dan melakukan penerbangan Semarang-Jakarta hanya untuk nonton film. Skema naratif dasar pada nomor 2 ini mempengaruhi skma naratif berikutnya, yaitu ketika Ciara dan Sena berpacaran dan kemudian memutuskan untuk menikah.

Skema naratif ketiga, yakni ketika Ciara menolak Fendy menjadi pacarnya, juga berkaitan erat dengan aktivitas konsumsi. Pada novel tersebut diceritakan bahwa Fedny tertarik dengan Ciara. Pemuda ini melakukan pendekatan bertahap, mulai dari berkenalan, bertukar nomor telepon, apel, hingga akhirnya menyatakan cinta. namun, sejak awal, upaya Fendy mendekati Ciara tidak mulus. Respon Ciara tidak baik.

Selain karena penilaian-penilain personal bahwa Fendy bukan tipe laki-laki yang sesuai dengan criteria Ciara, sikap dingin Ciara juga disebabkan oleh kondisi Fendy yang tidak kaya. Dia hanya karyawan di salah satu perusahaan event organizer. Kendaraan yang digunakan Fendy pun hanya sepeda motor. Fendy tidak membelikan hadiah-hadiah istimewa bagi Ciara.

Rahmat Petuguran
Fans Wiwien Wintarto urutan 325
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.