Pendidikan Bak Eskalator Kehidupan (Sebuah Kisah Hidup Sudirman Said)

Kumparan

Sudirman Said, mengutip orang bijak, bilang:

“Pendidikan itu ibarat eskalator kehidupan. Karena pendidikan maka harkat kita terangkat”.

Mungkin tak persis mirip. Tapi sebuah eskalator dapat membawa kita bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Saat seorang berilmu, berpengetahuan, dia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menyikapi dunia ini. Ilmu pengetahuan membuka cakrawala pikirannya. Jadilah ia melihat dunia dengan cara yang tak sempit. Jadilah ia melihat dunia dengan cara yang tak pesimis. Ia memandang dunia ini sebagai memiliki banyak jalan untuk ia tempuh.
Perumpamaan itu memang tak persis. Tapi, bagi Sudirman Said secara pribadi, kalimat itu seolah memberi pembenaran pada pengalaman hidupnya. Ia seolah menemukan ikatan makna dari kata bijak itu dengan pengalaman personalnya. Ia merasakan begitu bermanfaatnya pendidikan. Ilmu pengetahuan membawanya bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Dia mengakui melalui pendidikan dia bisa berdiri seperti sekarang ini.

Barangkali ungkapan “banyak jalan menuju roma” tak dapat sungguh-sungguh ia mengerti tanpa ia memiliki kesempatan memasuki dunia pendidikan.

Sudirman Said mengakui bahwa melalui dan karena pendidikan maka harkat seseorang terangkat. Seseorang mungkin saja terus-menerus berada dalam posisi status sosial tertentu. Tapi, pengalaman hidupnya mengajarkan lain: melalui pendidikan, ia merasakan status sosialnya bergerak. Harkat dan martabatnya terangkat.

“Nabi bilang, siapa yang berilmu maka derajatnya akan ditingkatkan berlipat-lipat. Dan itu memberi bukti bagi saya secara pribadi”, ujar Sudirman Said suatu kali di sela-sela waktu senggangnya di Yogyakarta sehabis olah raga pagi (16/07/2017).

Tentu kita tak sedang membeda-bedakan harkat martabat seseorang, tapi sebuah pendidikan telah ia rasakan secara pribadi membawanya kepada keadaan hingga saat ini. Dia selalu bilang bahwa dia tak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika negara tak memberinya peluang baginya menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Administrasi Negara.

“Saya itu anak yang lahir dan besar di desa. Tinggal di desa dan sekolah di Kabupaten di Brebes. Kemudian oleh negara dientaskan, dibiayai. Sekolah di STAN”.

Maka betapa bersyukurnya dia kepada Tuhan atas diberikan nikmat melalui kesempatan menimba ilmu di STAN. Betapa dia merasa begitu berartinya kesempatan belajar yang difasilitasi oleh negara. Apa yang dia rasakan dari sebuah pendidikan: ia mampu membawanya dirinya berubah menjadi lebih baik. Pendidikan memperbaiki hidupnya secara pribadi, keluarganya. Selain itu, dia merasa dengan pendidikan dia mampu berperan untuk masyarakatnya.
Itulah yang dia rasakan betapa pendidikan, meskipun tak persis, ibarat sebuah eskalator kehidupan. Melalui pengalaman hidupnya ini, dia menarik kesimpulan penting: “pendidikan adalah alat yang baik untuk kita bebas dari kemiskinan”. Apa yang dia bayangkan sebagai sebuah kemiskinan tentu bukan dalam pengertian yang sempit, yang lumrah sebagai kemiskinan harta.

Lebih dari itu adalah kemiskinan hati, kemiskinan pikiran atau kemiskinan wawasan. Melalui pendidikan, seseorang menjadi terbuka lebih luas cara memandang dunia. Dia semakin luas memandang harapan. Bisakah dia membayangkan bagaimana hari depannya bila dia akhirnya putus sekolah sehabis SMA?

Sudirman Said kecil memiliki cerita menarik perihal pendidikan. Saat itu, usianya belum lagi cukup untuk standar sekolah. Selain standar usia, di masa dia kecil, sekolah juga menerapkan standar boleh sekolah kalau tangannya sudah bisa memegang telinganya. Sudirman Said kecil belum memenuhi aturan itu.

Tetapi dia tertarik begitu melihat teman-temannya (tentu kebanyakan lebih tua setahun darinya) berangkat sekolah. Dia akhirnya ikut-ikutan masuk kelas.

“Saya dua tahun tidak punya rapor. Ikut-ikutan. Kelas satu, mungkin setengah tahun tidak menulis, ya sekedar duduk”, kenangnya.

Sebagai anak kecil yang sekedar ikutan masuk kelas, Sudirman Said tidak terdaftar secara resmi. Selama dua tahun dia tidak punya rapor. Baru kelas dua di semester akhir, dia diresmikan dan diberi rapor. Kemudian hari, ini menjadi persoalan. Sudirman Said kecil digugurkan sebagai pemenang lomba cerdas tepat atau cerdas cermat dan dialihkan kepada yang lain. Sebabnya dia tidak memiliki rapor pada saat kelas satu dan dua.

Cerita masa kecil Sudirman Said adalah juga cerita tentang prestasi. Berkali-kali dia memperoleh rangking kelas sewaktu duduk di bangku SD. Tetapi prestasi di SD tak selalu mampu dia pertahankan sejak dia duduk di bangku SMP. Terutama dalam ilmu pasti, dia mengakui begitu lemah dan jeblok di sana.

“SD menonjol. SMP biasa-biasa saja. Saya jeblok di ilmu pasti. SMA saya sadar dan akhirnya milih IPS. Saya lebih nyaman di ilmu-ilmu sosial”.

Baru di tingkat SMA, Sudirman Said muda kembali menemukan prestasinya.

Sehabis SMA, dia hampir putus harapan untuk sekolah. Dia mendaftar di Universitas Negeri Solo (UNS) dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Dari kedua kampus itu, dia tak memperoleh kabar apa-apa selain ‘keberhasilan’ yang tertunda. Dia tak diterima. Beruntung, akhirnya dia diterima Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Kuliah tiga tahun. Kerja tiga tahun di ikatan dinasnya, BPKP. Dia masuk lagi periode dua tahun.

Begitu dia memilih menjadi dosen di kampusnya, rejeki yang lain datang: Sudirman Said muda memperoleh beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri.

sumber: kumparan.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *