Parade Try Out yang Menjenuhkan

TRY out menjenuhkan! Try out bikin boring. Itulah yang kini dirasakan dan diungkapkan oleh sebagian peserta didik yang duduk di kelas IX (3 SMP/MTs) dan kelas XII (3 SMA/ SMK/ MA). Bukankah try out  itu untuk membekali mereka agar lebih siap menghadapi UN? Faktanya, yang muncul justru kejenuhan. Ekpresinya, mereka menuliskan kembali pertanyaan dan tidak menjawabnya. ’’Jenuh,’’ katanya singkat seperti dituturkan salah seorang guru pengawas.

Ujian nasional yang kini telah mengalami perubahan dengan adanya ujian sekolah atau ujian madrasah sebagai komponen yang ikut menentukan kelulusan, tampaknya sudah telanjur menjadi momok. Tidak hanya bagi siswa, namun juga bagi pengampu dan penyelenggara unit-unit pendidikan. Kiranya, try out yang berlebihan dapat menjadi salah satu indikatornya.

Try out yang diartikan secara kreatif dengan uji coba tampaknya telah mengalami pergeseran fungsi. Di beberapa daerah, ada sekolah/madrasah mengadakan try out sampai 4 atau 5 kali. Pertama try out UN mandiri oleh sekolah atau bekerja sama dengan lembaga bimbel, dan kedua, try out UN yang diadakan oleh Disdikpora tingkat kabupaten/kota.

Kemudian, ketiga (khusus untuk madrasah) ada try out Pendididikan Agama Islam (PAI) dari KKM Kemenag kabupaten/kota; keempat, try out UN yang diadakan oleh KKM Kemenag kabupaten/kota; dan kelima, try out UN yang diadakan oleh Kemenag Kanwil Jawa Tengah.

Lazimnya, dalam suatu unit pendidikan atau instansi, try out cukup diadakan sekali atau dua kali. Jika sampai berkali-kali, 4 atau 5 kali, perlu dipertanyakan efektivitasnya. Fenomena ini tentu mengusik nurani dan menggelitik kesadaran kita. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sepertinya ada yang kurang beres.

Bagaimana implikasi bagi siswa dan orang tua. Pertama; efek psikologis. Upaya untuk mempersiapkan mental dan membiasakan menghadapi UN itu ternyata berujung kejenuhan. Ini efek psikologis yang akan memengaruhi semangat anak didik. Bisa jadi lebih parah jika kejenuhan itu justru terjadi ketika menghadapi UN sebenarnya.

Lebih Efektif Try out beruntun itu dapat pula menambah beban psikologis karena yang terbayang ujian yang makin berat. Kejenuhan kian bertambah dengan adanya les/ drill/ pemadatan/ penambahan latihan di luar jam sekolah, yang biasanya diadakan sore hari atau seusai sekolah atau try out.

Kedua; berkurangnya alokasi waktu belajar mengajar untuk semua kelas. Bagi kelas yang akan menghadapi UN itu sendiri secara otomatis berkurang beberapa hari atau minggu untuk mendapatkan pendidikan dari sekolah.

Memang, try out itu bisa dianggap sebagai kompensasinya, namun tetap saja nuansanya berbeda. Selain itu, juga terganggunya kegiatan belajar mengajar bagi kelas-kelas di bawahnya.

Ketiga; hampir pasti, biaya try out tidak ditanggung oleh sekolah tetapi oleh siswa. Artinya, wali murid yang harus mengeluarkan lagi tambahan biaya.

Adanya beberapa kali try out beruntun (baik mandiri, kerja sama dengan lembaga swasta, maupun oleh instansi di atasnya yang bertingkat-tingkat) itu kiranya dapat menjadi indikasi tersendiri akan lemahnya manajemen pendidikan. Setidaknya menunjukkan lemahnya perencanaan dan koordinasi, baik secara horizontal (antarkementerian) maupun secara vertikal.

Selain itu, parade try out tersebut juga menunjukkan kelemahan psikologis sekolah/madrasah. Mereka merasa belum cukup untuk try out sekali atau dua kali saja. Merasa proses pendidikan yang telah dilakukan selama 2 tahun 6 bulan  belum cukup untuk membekali siswa guna menghadapi ujian.

Fenomena parade try out kiranya dapat menjadi pengetuk hati dan pikiran kita. Jangan sampai ada try out try out (menguji coba try out). Jangan sampai terulang kembali kebijakan yang asal-asalan, baik oleh sekolah/madrasah maupun oleh gugus dan kantor kementerian. Adakan koordinasi sebaik-baiknya agar try out itu lebih fungsional dan efektif. (10)

Parjono, alumnus IKIP Yogyakarta, guru MA Aliyah Ma’ahid Kudus, anggota DPRD Kudus 2004-2009
Lihat Sumber tulisan di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.