Pahit Manis Skripsi Online di Tengah Pandemi Covid-19

Pahit Manis Skripsi Online di Tengah Pandemi Covid-19

 

Jakarta – Sejak pandemi Covid-19 menyerang, pemerintah mulai memberlakukan karantina guna menekan angka penularan virus ini. Akibatnya banyak sekali kegiatan yang harus dikerjakan dirumah. Seperti work from home, pembelajaran jarak jauh, hingga kuliah yang dilaksanakan secara online. Tidak ketinggalan, mahasiswa yang ingin menjalankan skripsi juga harus ditempuh secara online di rumah masing-masing.

Seorang mahasiswa jurusan Manajemen semester 8 di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), Julius (21), menceritakan pengalamannya saat harus menyusun skripsi hingga sidang proposal secara online.

“Jadi agak lebih sulit sih ngerjain skripsi ditengah pandemi, soalnya skripsikan harus banyak cari referensi dari buku, jurnal, dan yang lainnya. Sementara kita tidak boleh kemana-mana, ke perpustakaan kampus juga tidak bisa. Perpustakaan Nasional pun juga ditutup. Walaupun bisa dari internet, tapi kadang tidak ada yang full version jadi materinya susah didapat,” ungkap Julius, Selasa (2/6/2020).

Terbatasnya mobilitas keluar untuk mencari referensi ke perpustakaan kampus, ke perpustakaan nasional dan bimbingan harus online juga, maka yang dilakukan Julius dan teman-temannya adalah dengan bertukar materi, atau informasi dengan mahasiswa yang sekiranya memiliki variabel sama. Selain itu ia juga hanya bisa menunggu jika dosen pembimbing tidak membalas pesannya, karena khawatir akan menjadi masalah jika di chat terus menerus. Sisi positif bimbingan online yang didapat dari adalah ia tidak perlu merasa cemas  karena harus tatap muka dan berbicara dengan dosen secara langsung.

“Kalo masalah mencari materi sih biasanya kita bisa tukeran sama mahasiswa lain yang variabelnya sama dengan kita. Selain itu kita juga bisa tukeran hasil bimbingan dengan yang lain, kalau sekiranya  butuh informasi atau referensi tambahan untuk revisian skripsi. Ya paling yang sedikit bikin kesal ketika dosen pembimbing balesnya lama, kalau dichat in terus takutnya jadi masalah. Alhasil ya kita hanya bisa nunggu sampai direspon sama mereka. Karna mungkin mereka juga punya kesibukan lain. Entah mengisi kuliah online atau kesibukan yang lain,” tambahnya.

Pada tanggal 17 April 2020, Julius dan teman temannya melaksanakan sidang proposal secara online melalui Google Meet. Saat ditanya mengenai kendala saat sempro (seminar proposal), ia menjelaskan bahwa menjalankan sempro secara online tidak terlalu masalah. Karena dirumahnya pun juga memasang wifi, jadi untuk koneksi terbilang aman. Menurutnya akan menjadi masalah ketika tidak memiliki koneksi yang cukup dan peralatan yang menunjang.

UPNVJ sendiri diketahui memeberikan subsidi kuota setiap bulan kepada mahasiswanya sebesar 60.000. Menurutnya subsidi kuota yang diberikan oleh kampus dirasa sudah cukup dalam menunjang mahasiswa tingkat akhir untuk mencari referensi dan melakukan sidang online.

“ Kita setiap bulan dapat subsidi kuota sebesar 60.000. menurutku itu cukup sih untuk mencari referensi online, dan sebagainya. Kemarin juga alhamdulillah sidang proposal lancar tidak ada kendala yang berarti, karena di rumahpun juga memasang wifi. Tapi akan agak sulit juga kalau tidak punya koneksi yang memadai serta peralatan yang menunjang untuk melakukan sidang online. Mungkin yang seperti ini sih yang harus diperhatikan oleh kampus untuk membantu mereka,” tuturnya.

Julius berharap keadaan akan segera membaik agar wisudanya tidak hanya sebatas live di Instagram saja. Dan untuk kedepannya bila memang pandemi ini berlanjut sampai skripsi buat semester yang akan datang, semoga dari pihak pemerintah maupun kampus menyediakan bahan referensi online secara gratis, buku buku juga perlu diperbarui. Hitung-hitung  menggantikan fasilitas yang harusnya bisa didapat selama masa pandemi, jadi tidak hanya sekedar menyediakan kuota.

Jika memungkinkan akan lebih baik kalau mahasiswa yang skripsi dan dosen pembimbing yang sama di buatkan jadwal seperti kelas online, jadi mahasiswa bisa berinteraksi tanpa harus menunggu dosen pembimbing yang lama balesnya. Dengan begitu juga dosen bisa melihat perkembangan skripsi mereka.

 

[Sumayyah Syahidah]

Berita ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah Jurnalistik Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.