Jelang Lebaran, Orang-orang Perlu Menjadi Kaya atau Menjadi Filsuf

PENCURIAN sepeda motor di kampus tempat saya bekerja meningkat drastis pada paruh kedua Ramadan tahun ini. Meski harus diuji, ada analisis sederhana yang cukup logis untuk menjelaskan gejala ini: mau lebaran, orang butuh uang.

Jika analisis itu tepat, berarti ada hubungan yang terang antara pencurian dengan datangnya lebaran. Ada hubungan antara tindak kejahatan dengan hari besar umat Islam.

Dalam takaran tertentu, hubungan antara keduanya terjalin secara kausalitas. Ada kejahatan karena ada lebaran. Karena ada lebaran maka ada kejahatan.

Bahkan lebih jauh lagi, lebaran adalah sebuah kejahatan. Cara orang-orang (kita?) memaknai lebaran demikian urakan, ugal-ugalan, bahkan “kriminal”. Akibatnya, hari besar umat Islam itu juga sebuah kriminal.

Paradoks Ramadan-Lebaran

Banyak orang menganggap lebaran sebagai perayaan atas perjuangan selama Ramadan. Tetapi perayaan itu sendiri kerap dilakukan dengan cara yang sama sekali berbeda atau bahkan bertentangan dengan semangat Ramadan.

Saat Ramadan orang-orang mendidik diri untuk menahan nafsu, meningkatkan kepedulian sosial, dan menjalankan lebih banyak ibadah. Tetapi ketika lebaran datang, orang-orang justr bersikap dan bertindak kebalikannya. Pada mementum itu, orang-orang justru berlomba melampiaskan nafsunya, memperbanyak belanja konsumtif daripada belanja amalnya, membeli sesuatu melebihi kebutuhannya.

Gejala yang kontraproduktif itu muncul karena kesalahan tafsir. Idul Fitri yang (mestinya) sakral telanjur dimaknai sebagai perayaan, semacam festival. Akibatnya, selebrasi spiritual itu tak ubahnya seperti festival jalanan yang mengutamakan kesemarakan daripada keheningan.

Lalu, dari mana kekeliruan tafsir itu bermula? Maksud saya, bagaimana bisa perayaan atas penaklukan hafa nafsu justru dirayakan dengan mengumbar nafsu?

Mari kita lacak bagaimana pikiran itu bisa muncul dan bersemayam dalam benak begitu banyak orang.

Pertama-tama, kita perlu konfirmasi, adakan anjuran dalam Islam yang membuat orang betingkah berlebihan saat lebaran?

Sependek pengetahuan saya, perayaan semacam itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah. Sepanjang hidupnya, Rasulullah secara konsisten meneladankan gaya hidup sederhana. Tidak logis jika Rasulullah menyerukan (apalagi mencontohkan) tindakan boros sebagaimana kerap dilakukan banyak orang saat lebaran seperti sekarang.

Konon, tradisi berhura-hura seperti yang didapati saat lebaran juga tidak ditemukan di negara-negara Arab. Konon, tradisi semacam itu cuma muncul dalam tradisi umat Islam di Indonesia dan Malaysia.

Maka, yang patut dicurigai sebagai penyebab munculnya lebaran bukanlah variabel Islam dan Arab-nya, melainkan variabel tradisinya.

Kumpul dan Pamer

Sangat mungkin, asal muasal kejahatan lebaran adalah tradisi berkumpul. Mayoritas umat Islam Indonesia menilai lebaran sebagai momen sakral yang harus digunakan untuk berkumpul dengan keluarga. Kesakralan itu barang serupa dengan kesakralan Imlek bagi orang Tionghoa atau Thanksgiving bagi orang Amerika Utara.

Pertemuan antaranggota selalu membawa banyak konskuensi, baik psikologis, sosial, maupun finansial.

Secara psikologis, pertemuan dengan keluarga (terlebih yang lama tak jumpa) ternyata menimbulkan kenikmatan.  Pertemuan semacam itu memungkinkan rindu dapat ditumpahkan. Perjumpaan membuat kerinduan terobati.

Secara sosial, pertemuan memungkinkan hubungan sosial yang renggang tekat kembali. Pertemuan membuka kemungkinan aneka pembicaraan dan aktivitas yang tak direncanakan sebelumnya.

Nah, di sisi lain, pertemuan selalu membutuhkan biaya. Selain keperluan transportasi, biaya diperlukan untuk membeli buah tangan dan mendandani diri agar tampak seperti pribadi yang diinginkan.

Dari segi tuan rumah, pertemuan juga memerlukan perngorbanan finansial karena dibebani kewajiban menyediakan jamuan.

Citraan dan Identitas

Kebutuhan biaya sebenarnya bisa dihitung secara rasional ketika barang-barang itu dipandang semata-mata sebagai barang. Tetapi ketika barang-barang itu berubah menjadi identitas, hitung-hitungan rasional tidak lagi memadai.

Sebagai identitas, aktivitas ekonomi manusia didudukkan sebagai strategi membentuk citra diri di hadapan orang lain. Citra diri inilah yang membuat kebutuhan menjadi tidak terbatas. Terlebih jika muncul pula semacam ego superlatif untuk tampil menjadi yang tampak paling kaya, paling sukses, paling patut dihormati.

Para sosiolog lazimnya sependapat bahwa aktivitas konsumsi manusia selalu berdimensi kultural. Dalam setiap aktivitas konsumsi, manusia menyimpan dorongan untuk menunjukkan identitas diri.

Kecenderungan ingin tampil dengan identitas yang ideal telah jadi kecenderungan purba, bahkan mungkin instingtif. Kecenderungan itu menjadi-jadi ketika ditangkap oleh kapitalisme sebagai peluang.

Maka, munculah aneka cara yang membuat kecenderunagn purba itu meenjadi semakin kuat, bahkan berkali-kali lipat menjadi lebih kuat.

Kapitalis tahu bahwa orang-orang ingin tampil cantik dan gagah ketika menghadiri prtemuan dengan keluarga, maka mereka merancang pakaian lengkap dengan citraan artifisialnya. Yang dijual oleh kapitalis bukan hanya pakaian, tetapi justru – bahkan terutama – adalah citraannya.

Tuan rumah selalu punya dorongan menyajikan hidangan yang baik tamunya, maka kapitalisme menyediakan produk sekaligus citraan artifisial yang memungkinkan kebutuhan untuk tampak layak, wah, dan bahan mewah terpenuhi.

Citraa-citraan yang ditawarkan kapitalisme itu membentuk kesadaran palsu karena disampaikan dengan teknologi doktrin yang canggih. Citraan-citraan itu dikampanyekan di ruang yang sangat privat, terus-menerus, dan massif.

Pada tingkat tertentu, teknologi citraan itu membuat citra menjadi jauh lebih bermakna daripada objeknya. Orang tidak lagi mendiskusikan realitas yang melekat pada objek, tetapi citraan artifisalnya. Simulakra.

Dari situ, lahirlah kegilaan-kegilaan yang telanjur dinormalisasi menjadi kenyataan. Agar tampak salih dan salihah, ada yang lebaran dengan stelan lengkap muslim-muslimah meski saat Ramadan tak sekalipun salat jamaah. Agar telihat kaya ada yang menyediakan makanan aneka rupa meski dengan kesadaran penuh tak akan ada yang bisa menghabiskannya. Agar tampak dermawan ada yang membagikan angpao meski tahu si penerima tak pernah benar-benar membutuhkan bantuan.

Bagi orang-orang kaya, lebaran hanyalah salah satu kesempatan membenamkan citra bahwa dirinya memang kaya. Tetapi bagi orang miskin atau jelang kaya, itu bisa melahirkan masalah. Terutama ketika mereka memaksakan kondisi yang masih berjarak dengan citraan yang diidamkannya.

Kekacauan tafsir inilah yang melahirkan kekacauan berpikir. Kekacuan berpikir itu melahirkan kejahatan berpikir.

Kaya atau Filsuf

Kini, kekacauan berpikir telanjur menjadi sebuah kernormalan karena dikukuhkan oleh lembaga-lembaga sosial yang mapan. Berlebih-lebihan dalam lebaran adalah ritus yang – bahkan – dianjurkan oleh institusi kapital.

Mereka memasuki ruang kesadaran dengan sangat intensif, mengampanyekan “lebaran bukanlah lebaran tanpa berlebih-lebihan.”

Varian dari kampanye itu demikian banyak. Produsen sarung memoles kampanye: salat Ied bukanlah salat Ide tanpa sarung baru. Seruan dismabut perusahaan mobil: mudik bukanlah mudik tanpa mobil baru. Juga perusahaan sirup: jika lebaran tanpa sirup, apa maknanya?

Kegilaan yang telanjur jadi kenormalan tidak akan disadari sebagai kegilaan.

Maka, cuma ada dua pilihan untuk menghadapi situasi itu. Pertama, larut dalam kegilaan dan menjadi pemenang dalam kegilaan itu. Orang yang mengambil jalan ini sebaiknya adlah orang kaya. Kalau sudah kaya, meneguhkan identitas sebagai orang kaya adalah sebuah kenikmatan.

Tetapi bagi orang yang tidak kaya, sebaiknya mengambil jalan kedua: menjadi filsuf. Dengan jadi filsuf, orang-orang (kita?) kita bisa temukan bahwa kegilaan lebaran adalah sama dengan kegilaan duniawi lain. Kegilaan itu semarak di luar, tapi keropos di dalam. Tanpa makna.

Dengan jadi filsuf, orang-orang punya argumentasi yang menenteramkan. Ia tak lagi terteror oleh perasaan bersalah karena “gagal” membeli baju, kendaraan, atau hidangan lebaran.

“Kuwi kabeh ki kanggo opo?”

Rahmat Petuguran
Filsuf

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *