Mimpi Kaya Tanpa Kerja

Kuis di televisi memang bukan jenis acara baru. Acara yang biasanya berisi game, lomba, dan adu pengetahuan itu telah muncul sejak televisi swasta nasional mulai muncul pada tahun 1990-an. Namun belakangan, acara itu berevolusi dengan menghadirkan hadiah-hadiah yang fantastis. Tidak hanya menjadi hiburan, perlahan kuis menjadi trendsetter pola pikir masyarakat yang berpikir serba praktis, termasuk praktis untuk menjadi kaya.

Saat ini hampir seluruh stasiun televisi menghadirkan kuis pada jam-jam utama menonton. ANTV misalnya, hampir setiap hari jam ketika masyarakat memiliki waktu menyaksikan televisi sehingga ratingnya menayangkan kuis Super Family dan Super Deal 2 Milyar. Keduanya menyapa masyarakat pada terhitung tinggi. Tidak hanya menjadi sarana hiburan, kuis yang menjanjikan hadiah-hadiah fantastis itu memantik imajinasi kaya masyarakat kita. Melalui kuis mereka berimajinasi agar segera kaya, meski kenyataan hidup yang dihadapi justru sebaliknya.

Bayangkan, di tengah kondisi serba kekurangan, ada program kuis yang menjanjikan hadiah uang dua miliar. Di luar hadiah utama itu, beragam hadiah mewah yang mencolok mata seperti mobil, peralatan elektronik, dan uang tunai puluhan juta rupiah, dihadirkan. Yang membuatnya tampak menarik, atau janggal, adalah hadiah itu dapat diperoleh hanya dengan memilih amplop, kotak, atau tirai. Tidak diperlukan pengetahuan mumpuni untuk memperolehnya, karena hanya asal tebak.

Kuis memang bukan jenis acara baru yang tampil di layar televisi. Jauh hari sebelumnya telah ada puluhan kuis yang menjanjikan hadiah besar bagi pesertanya. Namun, sebutlah Who Wants To Be a Millionaire yang juga telah tayang di puluhan negara, menuntut peserta bekerja keras supaya bisa memperoleh hadiahnya. Tidak hanya pengetahuan umum yang harus dimiliki, peserta juga harus cerdik mengalahkan ribuan kompetitor.

Kondisi ini berbeda dengan kuis yang belakangan ini marak ditayangkan televisi, Super Deal 2 Milyar contohnya. Pengelola acara mengumbar hadiah besar sekadar memenuhi “lapar mata” pemirsanya. Mereka mencoba membangun ilusi bahwa televisi bisa menyediakan segala-galanya, termasuk harta melimpah yang bisa diperoleh tanpa kerja keras.

Mimpi
Televisi memang tidak bisa diperlakukan sebagai khotbah (Rakhmat, 2009). Kebenaran yang dimunculkannya hampir selalu berisi klaim yang lekat dengan interest komersial. Namun, karena televisi memiliki intensitas kemunculan yang sangat tinggi, efek psikologis kepada masyarakat tidak bisa ditampik. Bahkan perspektif publik terhadap persoalan sering kali berasal dari doktrin televisi.

Jaya Suprana dalam Bercinta dengan Televisi (1997) mengungkapkan, kini kotak ajaib bernama televisi telah menjadi kawan jutaan orang di seluruh dunia. Doktrinasi berjalan intens dan terus menerus karena televisi mampu menerjang batas wilayah dan waktu. Ia mampu menyusup ke ruang paling privat seseorang selama 24 jam sehari dalam tujuh hari sepekan.

Pada satu sisi, televisi menjadi agen perubahan sosial yang sangat andal. Nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan sebagai identitas lokal masyarakat dapat dijaga dan disebarkan melalui media tersebut. Namun karena televisi dibangun dengan tujuan komersial, agenda melanggengkan nilai-nilai kamanusiaan yang mestinya dialokasikan secara proporsional, justru kerap diabaikan. Maka yang terjadi adalah pembodohan, penipuan, dan ilusi yang dibungkus dalam berbagai acara hiburan.

Doktrinasi halus televisi yang dilancarkan melalui kuis contohnya, berjalan mulus karena masyarakat tidak memiliki resistensi, menolak atau setidaknya menelaah ulang nilai-nilai yang menyebar melalui televisi. Di tengah kondisi serba terbatas, jangankan mobil baru atau alat elektronik bernilai puluhan juta, nominal ratusan ribu saja sudah bisa membuat mereka ngiler. Akhirnya mereka tersugesti untuk percaya sambil berimajinasi supaya bisa ikut dan mendapatkan hadiahnya.

Bagi masyarakat pedesaan dan kaum miskin kota, hadiah ratusan juta rupiah yang dijanjikan kuis adalah solusi paling praktis keluar dari penjara kemiskinan. Kuis menjanjikan jalan tol saat mereka mulai putus asa menghadapi realitas hidup yang serba sulit. Kuis menjanjikan harapan dan diam-diam menjadi tujuan.

Putus Asa

Sekilas kuis bisa memantik optimisme karena menyediakan jalan alternatif hidup secara layak. Namun pada titik di mana realitas hidup dan keglamoran kuis justru hitam putih, masyarakat justru akan menjadi semakin putus asa. Apalagi jika harapan bisa kaya melalui kuis tidak pernah menjadi nyata, masyarakat akan frustrasi oleh ilusi yang muncul tanpa disadari. Bukan tidak mungkin, energi mereka justru tersita untuk terus berharap sehingga energi kreatif yang bisa menjembatani mereka pada kerja intelektual terkuras.

Akibat psikologis ini bisa terjadi karena jalan lari dari kemiskinan yang disediakan pemerintah tidak dapat mereka akses. Modal usaha misalnya, hingga saat ini tidak ramah bagi masyarakat miskin karena birokrasi yang berbelit. Selain karena memerlukan agunan, masyarakat miskin tidak diuntungkan oleh iklim pasar yang hampir selalu memenangkan pemodal besar.

Ekspektasi tinggi masyarakat terhadap pemerintah pada satu sisi, dan kebuntuan melakukan mobilitas sosial pada sisi lain, juga turut mendorong masyarakat menempuh cara-cara irasional untuk menjadi kaya. Dulu, sebelum teknologi mendominasi masyarakat mengekspresikannya melalui klenik. Kini ketika teknologi menjadi episentrum peradaban, masyarakat berharap bisa kaya mendadak melalui kuis berhadiah. Keduanya, baik klenik maupun kuis toh sama-sama menjanjikan kemudahan.

Doktrin yang dilancarkan televisi sebenarnya menyerang secara personal. Sugesti yang ditanamkan kemudian diyakini sebagai kebenaran oleh pribadi yang tidak memiliki resistensi menolak kebenaran versi televisi. Namun karena proses tersebut berlangsung terus menerus, akibat yang ditimbulkannya juga dirasakan secara massal. Ideologi televisi kemudian diakui sebagai kebenaran konvensional yang diakui khalayak sehingga mempengaruhi jalan berpikir dan tingkah laku kita.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.