Menyucikan Diri Melalui Facebook

Kalau Anda pengin jadi orang suci, Anda tak perlu bersusah payah melakukan ritus spiritual. Daftar di Facebook dan beraktivitaslah menjadi Facebooker aktif. Sudah, itu saja.

Ada banyak cara memanfatkan Facebook. Sebagian memanfaatkan jejaring sosial ini untuk menjalin komunikasi. Banyak yang menggunakan untuk berbagi informasi. Tidak sedikit yang menggunakan untuk pamer tampang.

Facebook membuat orang merasa bahwa dirinya patut menjadi pusat perhatian. Untuk itulah, Facebooker berlaku atraktif. Ada yang menulis status pengalaman, merilis pendapat pribadi, atau bahkan berfatwa: ini benar ini salah, ini baik ini buruk.

Bagi makhluk yang tak pintar merangkai kata-kata, bukan berarti mereka tak bisa cari perhatian. Foto bisa digunakan. Tampang sendiri diunggah, di lokasi yang istimewa, bersama orang istimewa, atau dengan editan istimewa.

Baik dan Buruk

Profesor Filsafat Universitas California, Berkeley, John Searle pernah berpendapat, ketika seseorang mengatakan sesuatu, dia sebenarnya sedang melakukan sesuatu. Itulah peristiwa tindak tutur alias speech act.

Analisis ini tampaknya relevan digunakan untuk melihat tingkah laku Facebooker. Ketika dia menulis sesuatu, mengunggah gambar, atau membagikan link berita, dia sedang melakukan sesuatu yang lain.

Ketika mengunggah nasihat bijak, misalnya, dia tidak hanya sedang menasihati orang lain. Pada saat yang sama dia unjuk diri agar pembaca statusnya mempersepsi dirinya adalah orang bijak.

Ketika seseroang membagikan link berita tentang seseorng yang jahat, Facebooker biasanya menambahkan komentar negatif. Dengan cara itu, Facebooker menyampaikan pesan kepada pembacanya bahwa dirinya tidak seperti objek berita yang dibagikannya.

Begitu pula saat seseorang membagikan berita tentang seseorang yang baik. Lazimnya, Facebooker memberi pendapat positif. Pendapat itu, sejatinya sebuah deklarasi, mengidentikkan diri setuju atau sama dengan si objek berita.

Para cendikia, yang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk studi doktor, tampaknya juga tak bisa lepas dari kecenderungan ini.

Dengan pengalaman, keluasan wawasan, dan intelektualitasnya mereka kerap melemparkan pendapat di beranda. Sesuatu yang bagi mereka tampak buruk, mereka komentari buruk. Sesuatu yang bagi mereka tampak baik, mereka komentari baik.

Di balik analisisnya, para cendikia sedang mendeklarasikan dua hal. Pertama, ia mendeklarasikan diri bahwa dirinya memiliki otoritas keilmuan untuk menilai sesuatu. Kedua, ia mendeklarasikan diri bahwa dirinya bukan bagian dari sesuatu yang buruk atau menjadi bagian dari sesuatu yang baik.

Semua Deklarasi

Kecenderungan pamer ala Facebooker inilah yang membuat seseorang di Facebook selalu menampakkan diri sebagai pribadi suci, Di Facebook tiap orang mengutuki keburukan, meski dalam kehidupan rril dirinya adalah bagian dari keburukan itu. Di Facebook setiap orang memuji kebaikan, meski dalam kehidupan riil tak sekalipun ia melakukan kebaikan seperti itu.

Lihatlah ketika ada seorang Facebooker mengunggah foto orang yang tidak tertib berlalu lintas. Seperti dikomando, Facebooker lain akan menghardik. Para penghardik lupa, bahwa dia juga orang yang rajin berhenti di luar garis tunggu saat lampu merah.

Saat ada berita orang tua menelantarkan anaknya, Facebooker sepakat memarahi si orang tua. Padahal saat dia menulis kemarahan di Facebook, anaknya menunggu untuk diajak bermain.

Yang paling konyol ya ketika ada ulama meninggal. Si Facebooker memanfaatkan momentum ini untuk memposting foto ulama sambil menuliskan ungkapan duka cita. Sebagai akhir, ia menulis Al-Fatihah.

Para komentator dengan riang gembira berkomentar dengan menulis “Al-Fatihah” meski ia tak membaca Umul Kitab itu. Begitulah Facebooker.

Heru Ferdiansyah, direktur Sekaran Digital Meeting (SDM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.