Mencontek Adalah Kebutuhan…

Melihat ujian akademik, sebutlah mid semester, ujian semester, bahkan ujian nasional, adalah melihat simulasi kebohongan. Siswa-mahasiswa yang terlibat seringkali terjebak pada rutinitas mencontek. Saya bahkan yakin tidak ada satupun siswa atau mahasiswa di Indonesia yang dalam sejarah karir akademiknya tidak pernah mencontek. Mencontek telah menjadi kebutuhan; menyerupai minyak tanah bagi penjual gorengan yang belum mengenal elpiji.

Kesimpulan demikian barangkali terlalu gegabah, bahkan terkesan seperti syak wasangka belaka karena belum dapat disertai data. Namun jika kita cocokan dengan realitas ketika sekolah menggelar ujian, rasanya tidak berlebih. Jika cermat mengawasi kita akan mendapati berbagai modus mencotek; dari yang paling klasik hingga modern dan melibatkan teknologi mutakhir.

Ada semacam kekhawatiran, kecemasan, ketidakpercayaan diri pada siswa sehingga mereka terdorong untuk melakukannya. Pada tingkat tertentu ekspresi kekhawatiran bahkan menyerupai “pengguna” yang sakau.

Sejak kapan kebiasan mencontek muncul? Barangkali sulit untuk mengendus sejarahnya. Namun jika kita telusuri sebabnya, barangkali kita bisa tahu mengapa mencontek kian menggejala, tidak hanya pada siswa-mahasiswa, tetapi juga peserta tes CPNS, seleksi perangkat desa, atau bahkan seleksi kepala sekolah. “Tradisi” ini menjadi bisul baru yang membikin wajah pendidikan kita kian bopeng dan menjauhi tujuan filosofisnya.

Kita patut menduga, siswa-mahasiswa telah menjadikan mencontek sebagai kebutuhan. Mencontek adalah obat ketidakpercayaan diri yang diidap sebagian besar dari mereka. Mereka (termasuk kita?) merasa tidak yakin dengan kemampuannya menyelesaikan soal sehingga merasa perlu “memantapkan diri” dengan mencari sumber jawaban  lain. Bahkan tidak jarang didapati, siswa yang sebenarnya sudah selesai mengerjakan tugas sebelum waktu tes berakhir bergerilya mencocokan jawabannya dengan jawaban siswa lain. Padahal, tidak ada jaminan rekannya lebih baik. Pengalaman saya sebagai pelaku “kejahatan” mencontek, tindakan semacma itu membuat lega.

 

Bergantung

Hemat saya, peserta didik tidak melakukan tindakan yang salah. Mereka hanya memenuhi kebutuhan. Yang patut kita curigai sebagai bidang mewabahnya kebiasaan ini justru sekolah, termasuk guru sebagai salah satu instrumennya.

Umumnya, sikap minder dan tidak percaya diri muncul karena siswa tidak terbiasa mengandalkan kemampuannya. Mereka tidak mampu (atau diberi kesempatan?)  menampilkan segenap kemampuannya untuk mengatasi sebuah persoalan. Mereka terbiasa di-tetah (dituntut) sehingga tertatih-tatih ketika harus berjalan sendiri. Kemampuan yang mereka miliki tidak tereksplorasi karena ruang gerak untuk mencoba hamper selalu dibatasi.

Coba kita lihat aktivitas di kelas (konvensional). Guru masih saja menjadi pusat aktivitas belajar. Ia menjadi pusat kendali yang menentukan sesuatu yang boleh dan tidak. Bahkan tidak sedikit guru yang merekomendasikan metode tunggal memecahkan masalah. Mereka mengatakan, Surabaya-Jakarta harus ditempuh melalui Semarang, meski bias saja ada siswa yang lebih senang perjalanan udara Djuanda-Banjarmasin-Soekarno Hatta. Lebih ekstrim, bisa saja ada siswa yang lebih cocok menempuh perjalanan laut Pasifik-Amerika-Atlantik-Eropa-Samudra Hindia-Laut Jawa-Selat Sunda-Tanjung Priok.

Kebebasan menentukan sikap memang masih barang langka. Terlalu banyak jawaban definitif yang dipaksakan sehingga siswa tidak berkesempatan merekomendasikan jawabannya sendiri. Akibatnya, ketika hal demikian berlangsung terus menerus siswa terbiasa dengan pilihan. Mereka tidak mampu mengkonstruksi ide baru melalui pengalaman dan imajinasinya. Mereks kesulitan berargumentasi untuk menguatkan sikap dna pilihannya. Ini, tentu saja akan berakibat buruk, karena perkembangan kognisi siswa memerlukan pengalaman yang riil dari satu pengalaman ke pengalaman lain melalui prises dialek situasional (Tilaar, 2009: 66).

Kebenaran defintif yang ditawarkan guru membuat siswa enggan mengeksplorasi dirinya. Lama kelamaan mereka nyaman dengan pilihan-pilihan karena tidak terbiasa mengkonstruksi ide. Akhirnya mereka gagap ketika dituntut menjawab soal dengan caranya. Mereka nyaman dengan model pilihan ganda yang setiap pilihan jawaban memiliki peluang benar 20 persen daripada soal uraian yang kualitatif.

Meski demikian, kekeliruan pola asuh bukan sebab tunggal. Persepsi keliru tentang hasil evaluasi juga menyebabkan mencontek menjadi tren. Nilai yang diperoleh siswa dipersepsikan sebagai prestasi, sebagai pencapaian, sehingga dianggap memiliki bobot prestise. Nilai dijadikan parameter tunggal potensi yang dimilikinya, sehingga ia merasakan kebanggan berlebih jika memiliki nilai tinggi dan minder (berlebih pula) jika nilai ujiannya sedang jeblok.

Hingga saat ini masih saja ada guru dan sekolah yang menggunakan nilai ujian sebagai alat mendikitomikan peserta didik. Peserta didik dengan raihan nilai tinggi dianggap pintar dan sebaliknya. Perlakuan ini membuat siswa terdorong memiliki nilai bagus, apapun caranya. Terlebih jarang sekali guru yang member pengertian kepada siswa bahwa ujian hanya alat evaluasi,. Ujian dilakukan untuk memetakan kemampuan akademik peserta didik, bukan untuk mendikotomikan apalagi memberi label.

Kesalahan mempersepsikan nilai tidak hanya membuat siswa menempuh segala cara untuk meraih nilai tinggi. Kegiatan belajar di sekolah akhirnya tereduksi. Guru dan siswa terjebak pada rutinitas belajar-ujian-nilai sehingga siswa tidak diberi kesempatan mengeksplorasi diri. Seolah-olah proses belajar akan berakhir jika nilai sudah keluar. Nilai menjadi semacam hasil; tujuan akhir.

Melihat realitas demikian, sekolah punya pekerjaan rumah besar untuk kembali merumuskan sistem evaluasi. Sekolah tidak boleh terjebak pada angka, karena berisiko menempatkan siswa sebagai pribadi kuantitatif. Siswa menjadi benda yang diukur menggunakan satuan tertentu.

 

Evaluasi Deskriptif

Maka, hemat saya, ada baiknya jika sistem evaluasi tidak menggunakan nilai. Evaluasi bisa berupa deskripsi perilaku yang menjelaskan kelebihan, kekurangan, potensi, dan kendala belajar siswa. Dengan deskripsi ini siswa tergambar sebagai pribadi yang berwujud manusia. Ia memiliki kegemeran, ia memiliki kelebihan, ia memiliki kekurangan, dan terpenting ia memiliki harapan. Karena ia manusia, maka ia mengalami dinamika psikologis, kapan bersemangat, kapan suntuk, kapan down, dan lain sebaginya.

Alat evaluasi semacam ini tentu lebih detail, meskipun akan sedikit merepotkan karena menuntut guru mengenali pribadi siswa secara dalam. Namun, deskripsi perilaku semacam ini akan sangat membantu orang tua mengetahui kemampuan anaknya. Orang tua bisa menyiapkan strategi lebih tepat agar potensi anak bisa dikembangkan lebih optimal; kelebihannya dikembangkan, kekurangannya dapat diminimalkan.

Evaluasi deskriptif semacam ini juga penting digunakan seorang  guru untuk mengenali siswa baru. Laporan dari SD misalnya, pasti sangat membantu guru SMP saat anak ini baru masuk SMP. Guru bisa segera memetakan minat dan bakat secara lebih cermat dan rinci. Dengan begitu siswa terdeskripsi utuh. Mereka digambarkan sebagai manusia dengan segalanya, bukan benda yang diukur dengan angka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.