Menyoal Ruang, Menyoal Pergaulan

 

RUANG tak hanya berdimensi tempat, lokasi, spasial. Ruang juga memiliki dimensi sosiologis yang kental. Itu lantaran ruang, utamanya di permukiman, mempengaruhi pola relasi penghuninya. Penghuni tak terbatas manusia melainkan juga makhluk lain. Tipikal relasi itu kemudian menciptakan tipe lingkungan sosial, seperti kota dan desa juga formal dan informal.

Di desa, jangakaun pergaulan penghuninya masih luas. Orang satu dusun misalnya masih saling kenal meski berjarak puluhan kilometer. Ini mengindikasikan bahwa ruang pergaulan masyaraat pedesaan meliputi ruang sosial yang cukup jauh. Hal ini berbeda dengan pola relasi warga kota. Warga perkotaan memiliki jangkauan lebih sempit. Kalau pun pergaulan itu terbenatng luas itu dilakukan melalui ruang-ruang maya teknologi informasi.

Pendapat demikian dikemukakan  Bernardus Andang Prasetya Adiwibawa, pengajar tidak tetap pada Progdi Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang dalam diksusi “Rebo Legen” di Mangunsari, Gunungpati, Selasa (27/3) malam tadi. Puluhan pegiat budaya, termasuk Sedulur Sikep dari Blora, terlibat dalam acara ini.

Persoalan ruang diakui Andang tak bisa dipisahkan dengan persoalan pergaulan. Oleh karena itu, menyoal ruang juga berarti menyoal pergaulan. Masyarakat Jawa contohnya memiliki tiga ungkapan untuk menggambarkan pola relasi antarmanusia. Srawung berarti bergaul atau berinteraksi, tepung berarti mengenal, dan dunung berarti memahami. Soal apakah ketiganya merupakan sebuah kronologis, sejumlah sosiolog berbeda pendapat.

Guru besar FIB Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc., misalnya percaya tepung ada sebelum srawung. Namun ada pula yang percaya bahwa srawung adalah landasan untuk tepung.

Andang juga mengungkapkan, ruang punya dimensi sosiologis yang mempenagruhi terbentuknya kelompok-kelompok sosial. Anak-anak memiliki ruang sosial yang lebih luas karena tidak dibatasi klaim kewilayahan, etika, dan adab. Mereka bisa bemrain menjelajahi berbagai tempat sesuai yang mereka suka. Pada usia yang lebih tinggi (baca; remaja) mereka juga memiliki temat-tempat favorit.

“Ruang-ruang pergaulan juga ditentukan oleh kelompok-kelompok gender. Para Bapak cenderung menghabsikan waktu bergaul di ruang-ruang publik, seperti gardu ronda, balai RT/RW, pelataran rumah, tempat ibadah, atau lapangan. Berbeda dengan itu, kaum ibu kebanyakan lebih suka bergaul di rumah yang menjadi favorit merek berkumpul,” lanjut Andang.

Dalam kondisi inilah, arsitektur menjadi terang perannya. Arsitektur memang hadir menawarkan ruang bagi berbagai fungsi. Akan tetapi bukan faktor tunggal yang menentukan berhasil tidakny suatu fungsi berlangsung. Kegiatan, kreatifitas, dan proses sosial-budaya adalah faktor yang lebih besar pengruhnya.

Teori itu barangkali terbuktikan dalam diskusi yang rutin digelar tiap kapatsasur dina itu. ada ruang gagal dan ada ruang berhasil. Deretan kursi yang agaknya disiapkan supaya membikin peserta lebih fokus berinteraksi, tampaknya justru memisahkan. Akibatnya, forum kemudian terpecah dalam kelompok yang lebih kecil. “Iki enake nek lesehan kabeh owk. Rak usah enek kursi wae,” seloroh salah seorang hadirin, menyoal “ruang”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.