Membaca “Sastra Agama”, Memahami Ekspresi Religius dalam Sastra

UMAT Islam wajib berdakwah sepanjang hayat. Umat dapat menunaikan kewajiban itu dalam berbagai bentuk aktivitas. Itu relevan dengan firman Tuhan yang menyatakan manusia akan merugi dalam hidup manakala tidak beriman, beramal saleh, dan mengajak orang lain berbuat kebaikan.

Tidak hanya dakwah dalam bentuk formal seperti pengajian, umat juga dapat berdakwah melalui aktivitas seni, termasuk bersastra.

Buku Sastra Agama: Teks, Spiritualitas, dan Keindahan ini berisi pembacaan praktik bersastra dalam kaitan dengan aktivitas dakwah oleh komunitas sastra terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena (FLP).

Rahmat menggunakan pendekatan sosiologi sastra untuk mengaitkan hubungan keyakinan keagamaan para pengarang, konsep estetik yang mereka yakini, dengan karakteristik karya sastra yang mereka lahirkan.

Pilihan dia untuk mengulas FLP berdasar asumsi FLP merupakan agen yang sangat berperan mewarnai kesusastraan Indonesia modern, khususnya awal 2000-an.

Asumsi FLP berperan penting di dunia sastra Indonesia terbukti oleh betapa banyak anggota, produktivitas karya, serta keberterimaan publik atas karya sastra para pengarang yang terhimpun dalam FLP. Komunitas itu telah menjadi kawah candradimuka bagi penulis kondang seperti Habiburahman El-Zhirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Tasaro GK, dan Afifah Afra.

Dari para penulis itulah lahir karya laris seperti Ayat- Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Surga yang Tak Dirindukan, dan Ketika Mas Gagah Pergi. Dalam ukuran kuantitas, karya-karya itu sukses karena berhasil mencetak angka penjualan sangat besar dan bahkan telah dialihwahanakan pula.

Rahmat membaca, keberhasilan FLPmenjadi agen sastra yang berpengaruh sebagai sebuah keganjilan. Sebab, saat didirikan pada 1997, komunitas itu sebenarnya didirikan oleh tokohtokoh yang tidak memiliki modal kultural kuat.

Sang pendiri, Helvy Tiana Rosa, saat itu bukanlah nama besar. Saat itu, dia hanya aktivis biasa. Meski punya pengalaman menulis sejak kecil dan berteater saat kuliah, dia tidak memiliki kapital budaya yang kuat.

Dalam keterbatasan itu, dia justru berhasil melahirkan gerakan kreatif yang sangat sukses, setidaknya dalam ukuran kuantitas. Keganjilan itulah yang Rahmat Petuguran baca dengan pendekatan sosiologi sastra.

Dia menyelidiki praktik budaya FLP, ideologi yang menopang, serta bagaimana organisasi berkontestasi dengan agen lain di arena sastra. Salah satu temuan menarik yang dia uraikan adalah keberadaan konsep syumuliyatul Islam. Secara sederhana, syumuliyatul Islam berarti keyakinan bahwa Islam merupakan agama universal.

Islam mengatur segala bidang kehidupan, manusia dari suku apa pun, sejak Islam turun hingga kiamat. Bagi pengarang yang berhimpun di FLP, ideologi itulah yang membuat mereka yakin sastra merupakan bagian dari bidang kehidupan yang diatur Islam.

Keyakinan itu melahirkan militansi berkarya. Sebab, pada saat yang sama, ideologi itu melahirkan keyakinan bahwa karya sastra mereka merupakan sarana berdakwah, sarana beribadah.

Sastra dan Masyarakat

Rahmat membuka uraian kaitan sastra dan agama dengan memberi prolog cukup panjang. Prolog teoretik itu berisi, antara lain, uraian bahwa sastra dan masyarakat tidak bisa dipisahkan.

Memanfaatkan teori produksi Robert Escarpit, dia menguraikan bahwa pengarang sebagai anggota masyarakat merupakan pribadi kompleks. Di sisi lain, sastra tidak dapat lahir dari kekosongan budaya dan realitas sosial tertentu.

Sastra hadir berkat situasi sosiokultural tertentu, yang mengendap dan membentuk imajinasi dan pengalaman keagamaan pengarang dapat merupakan satu hal yang menarik untuk dituangkan dalam bentuk karya sastra (halaman 3-4).

Berdasar penjelasan itu, dia menganalisis keyakinan para pengarang bahwa karya sastra merupakan sarana dakwah sangat memengaruhi karakteristik karya sastra. Kesadaran itu memengaruhi praktik berkebudayaan para pengarang. Bersastra berarti mengajak sebanyak-banyak orang dengan perbuatan dan perkataan yang indah untuk berbuat dan berkata-kata yang baik.

Sanggup bersastra berarti sanggup memulai dari diri sendiri dan selanjutnya mengajak sebanyak-banyak orang untuk senantiasa berlaku dan berkata-kata baik. Meski berjudul Sastra Agama, hal yang dia uraikan dalam buku ini bukanlah nilai spiritual dalam karya sastra tertentu, melainkan gejala kesusastraan di luar teks sastra.

Artinya, dia tidak mengkaji muatan nilai agama dalam karya sastra tertentu. Hal yang jadi pusat perhatian dia adalah praktik budaya para pengarang FLP berkait dengan keyakinan keagamaan mereka sebagai ideologi berkarya.

Karena itulah, dalam buku ini dia membentangkan penjelasan sistem produksi dan jaringan bisnis FLP berkait dengan pembumian nilai-nilai agama dalam karya sastra di tengah masyarakat pembaca (halaman 110).

Buku ini semula merupakan tesis dia saat menempuh studi S-2 ilmu susastra di Universitas Diponegoro. Dia mengembangkan dari penelitian kualitatif, sehingga buku ini menawarkan data yang padat dan detail.

Kepadatan dan kedetailan data dapat membuat pembaca awam mblenger. Namun jika pembaca bersabar dan telaten memahami paragraf demi paragraf, kekurangan itu akan sirna dan mungkin justru berubah menjadi kelebihan buku ini. (44)

– Dr Imam Baehaqie MAdosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber: Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.