Love Lemonade, Karena Masa Lalu Tak Pernah Benar-benar Berlalu

Orang-orang hidup dalam tegangan antara imajinasi masa depan dan kenangan masa lalu. Dulu saya mempersepsi  masa lalu adalah masa yang pernah dilewati, ditinggalkan. Namun masa lalu ternyata tak pernah benar-benar berlalu. Ia hadir dalam ingatan, ia hadir dalam kenangan, bahkan bisa pula hadir kembali di masa depan.

Kalyana Mitta merasa hidupnya baik-baik saja. Ia punya pekerjaan yang menyenangkan, kekasih yang kaya dan mencintainya. Namun kondisi kemudian berantakan ketika masa lalunya datang kembali. Mendadak kekasihnya menjauh setelah kekasihnya tahu bahwa Kalyana lahir dari keluarga “tidak jelas”.

Kalyana adalah tokoh utama dalam Love Lemonade karya Revalina Ranting. Oleh penulis, tokoh Kalyana dijadikan sarana untuk mengisahkan bahwa masa lalu manusia bisa begitu indah, namun sekaligus merepotkan.

Setelah dituduh sebagai “perempuan sudra” oleh pacarnya, Kalyana menelusuri masa lalunya. Penelurusan itu ia anggap penting, baik untuk memahami konsep sudra, maupun untuk mengungkap jati dirinya. Untuk memulai itu, Kalyana bertemu Rama Brata, seorang pendeta (?) yang ia kenal sebagai sahabat baik mendiang ibunya.

Dari pendeta itu Kalya tahu bahwa Lastri ternyata bukan ibu kandungnya. Lastri adalah ibu angkat yang mengasuh Kalyana sejak beberapa hari lahir, ditemukan terlentar.

Kalyana lalu melanjutkan penelusuran dengan mencari ayahnya yang menurut Romo Brata sedang dipenjara di Salemba. Kalyana ke penjara itu namun mendapati ayahnya yang “divonis penjara seumur hidup” ternyata mendapat remisi dan “telah bebas” (Adakah keanehan di sini). Misinya gagal, Kalya kembali ke Semarang.

Di tengah persoalan masa lalunya, Kalya ditinggalkan Eroz, kakak angkatnya. Itu membuatnya semakin bersedih. Dalam kesedihan itu hadirlah Bara, teman lama Eroz, yang menawarkan lemonade kepada Kalya.

Bara membuat metafora “lemonade” untuk mengungakkan kondisi kehidupan Kalyana. Hidup itu asem, tapi bisa nikmat, asal kita bisa meraciknya. Jangan lupa tambahkan “gula”.  “Gula” itulah yang ditemukan Kalyana pada sosok Bara. Ending cerita ini sangat bahagia dengan peristiwa tunangan antara Bara dan Kalyana.

Formula Populer

Saya menikmati cerita Love Lemonade sekaligus menikmati cara penceritan penulisnya. Dari aspek cerita, tema ini memang tidak betul-betul baru, yakni seputar pencarian jati diri seseorang. Pencarian jati diri dikisahkan dalam balutan asmara. Di toko buku ada lusinan novelpop yang mengangkat hal yang sama. Kisah serupa juga bisa kita temukan dalam film-film pendek yang tayang di televisi.

Jalan cerita Love Lemonade juga serupa dengan novel pop kebanyakan. Formula yang digunakan adalah: hidup baik-baik saja, masalah muncul, ketegangan memuncak, masalah terselesaikan, dan: bahagia.

Meski dituturkan dengan formula pop, Revalina bisa membuat saya sebagai pembaca tetap menikmati cerita. Ini karena keterampilan penulis membuat jalan zigzag sehingga pembaca tidak bosan. Dia menggiring pembaca untuk memperhatikan nasib tokoh lain, tidak terfokus pada Kalyana. Struktur zigzag ini dilakukan penulis dengan memenggal-menggal cerita ke dalam beberapa babak-babak singkat dengan penanda alineasi tiga bintang (***).

Yang membuat saya sangat enjoy saat membaca novel ini adalah cara Revalina membuat cerita ini berkembang dengan cepat, lincah. Di bab-bab awal dia langsung memperkenalkan tokoh sekaligus memunculkan sumber konflik . Tidak seperti penulis novel pop lain yang kerap berpanjang lebar di awal, Revalina lebih memilih alur cepat. Deskripsi latar untuk mendukung penokohan juga dilakukan dengan seperlunya. Dengan begitu, Revalina menghindarkan saya (dan mungkin pembaca lain) dari kejenuhan yang ditimbulkan oleh deskripsi panjang tentang latar.

Sayangnya, keenjoyan saya di awal-awal bab terganggu dengan ketidakhati-hatian penulis mengurusi detail. Ada inkonsistensi yang menunjukkan bahwa penulis menyelesaikan tugasnya dengan agak tergesa.

Di antara sekian inkonsistensi itu, yang fatal adalah tentang cerita tentang Rudi. Pada bagian awal Rudi diceritakan dipenjara seumur hidup (lihat hlm. 124). Tetapi saat Kalyana ingin mencarinya ke rumah tahanan, ternyata Rudi sudah bebas karena mendapat remisi . Ini bertolakbelakang dengan logika hukum di Indonesia (latar cerita ini terjadi) yang mendefinisikas hukuman seumur hidup diberikan hingga narapidana meninggal.

Masih tentang Rudi, Revalina juga tak cermat ketika menceritakan penyebab ia masuk penjara. Pada halaman 142 Reva menceritakan bahwa Rudi dipenjara karena merampok bank dan membunuh salah satu nasbah, tetapi pada halaman 181 justru diceritakan bahwa Rudi menembak direktur bank.

Bentuk inksonsisteni lainnya dapat ditemukan pada cara Revalina menggambarkan kondisi psikologis tokoh. Ada perubahan psikologis tokoh yang demikian drastis sehingga sulit diterima akal sehat. Misalnya, saat Kalyana baru kehilangan kakak angkatnya, Eroz, meninggal dunia. Ia merasa sangat sedih dan terpukul, namun di situasi yang tidak jauh berbeda dia bisa bercanda dengan Bara.

Saya berharap Revalina memiliki penyunting yang lebih baik, yang rajin mengingatkannya untuk menghindari kesalahan seperti ini, pada penerbitan buku berikutnya.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.