Lima Titik Kegagalan Sinematik Film “Pengabdi Setan”

Film Pengabdi Setan masih jadi box office. Saat saya nonton tadi malam, kursi di bioskop penuh. Saya yang datang mendekati jam tayang kebagian kursi di bari kedua, posisi yang gak nyaman untuk nonton.

Brand Joko Anwar sebagai sutradara hebat agaknya mempengaruhi angka penjualan tiket, selain promosi yang prima tentu saja.

Meski begitu, film ini memiliki sejumlah kelemahan. Saya menyebut kelamahan itu sebagai kegagalan sinematik.

Tukang Pijit Enggak Lucu

Saat Rini dan Hendra berkunjung ke rumah Budiman, ada tukang pijit yang muncul tiba-tiba di depan pintu. Adegan ini agaknya didesain sutradara sebagai twist untuk melahirkan kelucuan. Tapi kelucuan itu tak alami. Sutradara memaksakan twist sehingga terasa tidak logis.

Di awal-awal film sutradara berhasil membuat kelucuan-kelucuan melalui tokoh Ian. Tapi kelucuan yang coba ditampilkan melalui tukang pijit tidak memadai.

Hantu Sumur Tidak Berguna

Saat Ian tercebur ke sumur, ayahnya langsung ikut menyebur untuk menyelamatkannya. Bocah itu bisa ditolong, diangkat dengan tali timba. Saat keduanya ditarik oleh Rini dan Bondi, di permukaan sumur muncul penampakan kepala seorang wanit yang wajahnya tertutup rambut.

Saya mengira hantu ini akan menarik kaki Ian atau ayahnya supaya terjadi ketegangan. Tapi hantu itu hanya muncul di permukaan air. Tidak melakukan apa-apa. Kehadirannya tidak memainkan peran sinematik yang yang berarti.

Ian mendadak Lancar Bicara

Sejak menit awal film, Ian sudah digambarkan sebagai bocah tuli dan bisu. Karena itulah orang-orang di sekitarnya harus pakai bahasa isyarat. Karakter ini secara konsisten hingga tengah film.

Tapi di tengah film, ia digambarkan sedang merapal mantra. Malam hari dia berdiri menghadap jendela. Saat ditanya oleh Bondi, Ia menjawab dengan tuturan yang lancar: sedang bicara sama teman-teman.

Sutradara tak menyertakan penjelasan apa pun kenapa bocah ini tiba-tiba bisa bicara.

Inflasi Hantu

Film ini nyaris jadi ilm zombie ketika di akhir film dimunculkan sejumlah orang mati hidup kembali dan menyerang Rini sekeluarga. Kehadiran hantu yang demikian banyak bukan menambah keseraman suasana.

Seperti mengikuti hukum ekonomi, di sini justru terjadi inflasi. Jumlah hantu yang banyak justru mengurangi nilai kehororannya.

Film Ini Akan Ada Sekuelnya

Di akhir film, muncul sepasang suami istri yang bertetangga dengan keluarga Rini di rumah susun barunya. Sutradara tampaknya ingin menyampaikan bahwa sepasang suami istri ini adalah anggota sekte pengabdi setan. Pesan ini dimunculkan melalui dialog “Sebentar lagi kita akan panen.”

Saya menduga, adegan ini sengaj dibuat untuk memunculkan pesan bahwa bahaya yang mengancam keluarga Rini belum berakhir. Teknik ini serupa dengan memunculkan telur anakonda yang pecah di akhir film Anaconda, setelah anaconda utama berhasil dilumpuhkan.

Sutradana menggunakan film ini sebagai pengait, sekaligus kode, bahwa sekuel film ini akan dibuat (jika film pertama laris).

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *