Kebebasan Pers yang Diimpikan Camus

Ketika menerima Eduardo Santos di Paris, Albert Camus menyampaikan pidato singkat. Camus berbicara soal kebebasan, kebebasan pers, dan pengasingan. Pidato singkat itu bisa menjadi gambaran mengenai kebebasan yang diidamkan Camus.

Santos adalah pemimpin redaksi surat kabar di Columbia. Korannya dibreidel dan ia “diasingkan” dengan diberi tugas khusus menjadi duta besar Columbia untuk Perancis. Itu bukan sebuah kehormatan bagi Santos. Tapi seperti yang saya katakan tadi: pengasingan.

Dalam pidato menyambut kawan dari Amerika Selatan itu, Camus menyebut bahwa kebebasan pers itu penting. Menurutnya, pers yang bebas mungkin  baik mungkin pula buruk. Tetapi yang pasti, tanpa kebebasan tidak berarti apa-apa selain kebebasan.

Ini ungkapan yang indah sekaligus cermat dari pemikir sohor. Ia tidak melihat kebebasan pers semata-mata akan melahirkan kebaikan. Ada banyak persoalan di belakang kebebasan yang membuatnya tak selalu baik.

Menarik sekali dicermati karena pidato ini disampaikan pada 1955. Di Perancis, negeri yang dicintainya, konsep-konsep kebebasan tentu sedikit labih maju dibandingan negara lain. Tetapi pada tahun itu, adalah tahun ketika kepemimpinan otoriter dan diktator masih begitu pupuler, baik di Asia, Afrika, maupun Amerika Latin.

Kecermatan pembacaan Camus terbukti saat ini. Saat kebebasan pers terwujud, dampaknya ternyata tidak selalu bagus.

Kita memang terbebas dari kontrol informasi mutlak sebagaimana dikhawatirkan George Orwell. Tetapi kebebasan pers membuat ruang demikian gaduh. Ruang tidak menjadi semacam beranda depan sebuah kafe di tepi jalanan Paris. Tetapi telah menjadi ruang pertarungan gulat bawah tanah yang berisik dan pengap. Semua orang bebas meneriakkan dukungan kepada pegulat jagoannya sekaligus memaki pegulat lawan yang tidak diinginkannya menang.

Artinya, kebebasan pers telah menunjukkan watak aslinya yang menyimpan dua kepribadian. Publik memang semakin memperoleh ruang yang memadai untuk mengungkapkan aspirasi politik dan kulturalnya. Tetapi kegaduhan yang berlebih membuat aspirasi itu menjadi tak benar-benar terdengar.

Camus memahami kondisi itu.

Lalu, bagaimana seseorang dan sebuah bangsa harus menyikapi kebabasan? Apakah kebebasan dan penindasan memiliki bobot kebaikan yang sama sehingga bisa diperlakukan secara fakultatif satu sama lain?

Kebebasan, kata Camus, harus berpangkal pada akal budi. Kebabasan, dengan demikian, bukan keniraturan untuk mengungkapkan dan melakukan apa pun, melainkan sebuah pencapaian berpikir.

Sebagai pencapaian berpikir, tentu saja, kebebasan tidak diraih oleh orang per orang atau sebuah bangsa dalam waktu singkat. Ada waktu, semacam penundaan, yang membuat seseorang atau bangsa itu berpikir untuk kemudian menyuarakan aspirasinya. Inilah kondisi yang disebutnya sebagai “jalan memutar” sehingga terkadang lama dan melelahkan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *