Lima Hal Paling Mengkhawatirkan di Kabupaten Kendal

Seperti daerah lain, Kabupaten Kendal akan mengadakan pemilihan kepada derah. Ada dua calon yang berlaga merebut jabatan sipil tertinggi di kabupaten yang terletak di barat Kota Semarang ini. Widya Kandi Susanti yang petahana ditantang sesama dokter: Mirna Anisa.

Sebagai warga saya tidak ambil pusing siapa yang akan menang. Bagi saya, kedua calon itu sama-sama baik tetapi juga sama-sama kurang baik.

Oleh karena itu, perhatian saya tidak pada siapa yang akan menang. Jauh lebih penting memastikan bahwa apa yang mereka lakukan untuk Kendal adalah kebaikan.

Dalam penilaian pribadi saya, ada lima hal yang harus menjadi perhatian bupati terpilih nanti. Sepuluh hal ini patut mendapat prioritas karena kondisinya urgent (mendesak) dan mengkhawatirkan. Berikut lima hal itu.

1. Kerusakan Infrastruktur

Kondisi jalan di sepanjang Pantura memang baik. Tapi kondisi jalan di pedesaan banyak yang rusak. Kondisi demikian terutama terjadi di daerah-daerah selatan.

2. Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

Seperti warga Kendal lain, saya memiliki trauma dengan tindakan korupsi. Hendi Budoro yang pernah menjadi bupati di daerah ini terbukti melakukan korupsi. Baru-baru ini mantan wakil bupati Siti Nurmarkesi juag terjerat kasus korupsi. Apakah korupsi di Kendal demikian parah?

3. Pelayannan Publik

Salah satu hak warga adalah memperoleh pelayanan publik yang cepat, tepat, dan berkualitas. Menurut saya itu belum terpenuhi. Lihatlah pelayan publik, misalnya, di Kantor Catatan Sipil. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada petugas yang telah bekerja keras, saya merasa pelayannya belum cepat, tepat, dan berkualitas.

4. Ancaman Pengangguran

Banyak tetangga saya yang khawatir setelah selesai sekolah dan kuliah akan nganggur. Kalaupun dapat kerjaan, mereka biasanya lari ke Semarang, Jakarta, atau malah luar Jawa. Dengan potensi yang dimilikinya Kendal mestinya memilih lahan pekerjaan yang produktif bagi tenaga kerja muda.

5. Alih Fungsi Lahan Produktif

Sejak beberapa waktu lalu saya melihat ada pembangunan kawasan industri di dekat jalan arteri Kaliwungu. Lahan yang digunakan adalah sawah yang selama ini produktif.

Saya melihat itu sebagai kebijakan yang agak kewanen. Sayang sekali lahan produktif harus dihilangkan untuk ditutupi dengan pabrik. Padahal tidak mudah mengalihfungsi lahan agar bisa menjadi sawah produktif.

Itu menurut saya, bagaimana menurut Anda?

Irma Erfiana Zulianti, warga Cepiring, kuliah di Fakultas Psikologi Unissula

 

6 Comments

  1. khasaniali

    November 11, 2015 at 10:53 am

    itu hanya opini publik saja, banyak hal yang masih dalam konteks privasi yg justru lebih penting,sehingga Anda kurang tahu menahu kenapa dan bagaimana 5 point tersebut hanya berjalan kurang efektif.

  2. Baim

    November 11, 2015 at 11:02 am

    Seppp dah

  3. rudi

    November 11, 2015 at 1:06 pm

    Problematika dilapangan memang susah untuk dimengerti. Trimakasih sudah berpendapat.

  4. Bunda nya yulis

    November 11, 2015 at 2:00 pm

    Semoga terlaksana thn kdepan..
    kendal bersolawat…tambah mju kendal keren.

  5. abeb

    November 12, 2015 at 2:46 pm

    Kurangnya investor asing yg mau dikendal, padahal jika peduli, pabrik akan di bangun, mall,dll. jdi semua menguntungkan bagi rakyat atas maupun bawah, tpi nyatanya banyak warga kendal hampir 80% pd merantau dan.pulang balik kampung, semua harus jd kaya, rakyat harus kaya,sejahtera,aman,damai secara positif dan alami…

  6. unnamed

    November 12, 2015 at 8:15 pm

    bener tuh kendal selatan jalan juga udah parah
    ehhh …..denger kabar malah mau dipolitisasi
    huhhh…. kebangetan
    pake kemaren mantan bojone kandi kampanye disini
    dasar ga punya malu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.