Fathur Rokhman, Berani Beda Adalah Niscaya

Banyak hal berubah pada diri Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman. Namun, pada saat yang sama, banyak hal yang tak berubah pada dirinya. Karirnya melesat cepat. Karya-karyanya juga semakin banyak. Namun ia tetap rendah hati dan menyukai humor. Bagaimana perjalanan hidup beliau?

***

Anak muda itu termenung. Dari balik salah satu ruang kuliah di IKIP Bandung, ia memandangi hujan. Mahasiswa baru itu tengah mengenang rumahnya yang jauh di Sokaraja, Banyumas sana. Di awal masa kuliah ia memang kerap merindukan kampung halamannya.

Asyik termenung, tiba-tiba dosen menyuruhnya maju untuk membacakan puisi. “Ya, kamu yang sedang melamun, ayo maju dan bacakan puisi ini,” pinta seorang dosen kepada Fathur Rokhman, mahasiswa itu.

Belum juga sadar, Fathur dicolek temannya, “Hai Fathur, kamu disuruh maju.” Fathur kaget tapi ia segera bangkit dari tempat duduknya dengan tenang dan membacakan puisi berjudul “Balada Atmokarpo” karya WS Rendra. Ketika ia membaca puisi, teman-teman sekelasnya langsung bersorak. Rupanya saat itu Fathur tak bisa membedakan cara membaca puisi dan cara membaca teks Pancasila. Maklum saja, di SMEA tempat sekolahnya dulu, ia tak pernah diajari membaca puisi. Ia lebih sering menjadi petugas upacara yang lantang ketika membaca.

Pengalaman itu sempat membikin Fathur malu. Tapi, ia tak patah arang. Ia justru menjadikan kesalahan itu untuk mencuri perhatian teman dan dosen-dosennya. Ia yakin setiap orang pernah membuat kesalahan, tapi tak boleh terpuruk karena kesalahannya itu.

“Pada hakikatnya kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran. Semangat untuk tidak putus asa dan terus maju harus selalu digenggam erat agar senantiasa menjadi orang yang lebih baik,” kenangnya.

Sikap itulah yang membuatnya dikenal bahkan berkawan dengan banyak mahasiswa. Ia juga dipuji dosen-dosennya. Pada 1988 ia bahkan menjadi mahasiswa teladan IKIP Bandung. Bahkan saat wisuda pada 1990 ia mendapat penghargaan khusus sebagai wisudawan terbaik kampus itu.

Dunia Santri

Fathur Rokhman lahir di Banyumas, 12 Desember 1966. Masa kecilnya laluinya seperti kebanyakan anak desa. Ia kerap bermain sepak bola, hujan-hujanan, juga ngaji di langgar dekat rumah. Bersahabat adalah salah satu kegemarannya, dengan siapa pun, dari latar belakang sosial apa pun.

Kebiasaan ini terbawa saat kuliah. Di kota kembang ia membentuk banyak kelompok belajar. Fathur berinisiatif untuk mengumpulkan kawan-kawannya, lalu mengadakan penugasan untuk membaca buku. Setelah buku selesai dibaca, ia wajib memaparkan isi buku itu di depan teman-temannya.

“Sungguh asyik belajar seperti itu, kadang selepas belajar kita memasak dan makan bersama, itulah yang menjadi kenangan tersendiri,” kenang Fathur. Kebiasaan itu terus dilakukannya hingga lulus.

Petualangan akademik Fathur berlanjut di di Jurusan Linguistik, Universitas Indonesia. Lulus pada tahun 1996 ia kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 2003. Hingga ia sukses mencapai guru besar termuda di usia kurang dari 40 tahun pada tahun 2006.

Berani Beda

Tahun 1992 ia mulai mengajar di IKIP Semarang dan membawa banyak pembaruan. Itu sikap yang pada masa itu bukan tanpa risiko. Karena gagasannya dinilai kelewat maju, ia kerap mendapat kritik. Tapi, lantaran yakin pilihan yang dibuatnya demi kebaikan, Fathur tak surut langkah.

Bidang sosiolinguistik saat itu belum menjadi kajian yang populer. Itu terlihat dari penelitian yang dihasilkan mahasiswa yang jumlahnya tak banyak. Fathur sengaja mengambil bidang kajian yang tak populer itu supaya ia memiliki keahlian berbeda dengan para senior-seniornya.

Sikap berani beda itulah yang membuat karirnya berakselerasi. Di usia relatif muda ia dipercaya memimpin Kepala Pusat Penelitian Sosial Humaniora Lembaga Penelitian (Lemlit) Unnes pada 1998. Tahun 2004 ia memimpin lembaga riset itu. Posisi ini membuat kegemarannya meneliti makin menjadi. Tidak heran jika dalam waktu relatif singkat ia menjadi peneliti “ternama”. Berbagai penelitian di bidang sosiolinguistik dan humaniora banyak dihasilkannya. Proses itu membuatnya memacahkan rekor sebagai profesor termuda Unnes pada 2006 di usia di bawah 40 tahun.

Sampai saat ini, Fathur masih aktif meneliti fenomena yang berkaitan dengan Sosiolinguistik. Ia menyoroti bahwa banyak kesalahpahaman yang terjadi karena komunikasi yang kurang baik, apalagi jika penutur dan mitra tutur menjunjung kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, perlu adanya pemahaman yang mendalam tentang multikulturalisme berupa bentuk kesadaran pada keberagaman.

Lantaran sejak kecil menyukai dunia santri, Fathur tetap aktif di dunia pesantren hingga kini. “Dari dulu saya menyukai dunia pesantren, itulah yang membuat saya ikut membesarkan Pondok Pesantren Az Zuhri,” ucapnya. Sejak berada di Semarang pada tahun 1990 pun, ia sudah mengaji di sana. Saat ini posisi Fathur adalah sebagai pengurus dan kadang juga mengajar di sana,” katanya.

“Hobi” itu sekaligus dijadikannya sarana untuk menyeimbangkan hidup antara dunia dan akhirat. Baginya, betapa pun padatnya urusan dunia, urusan akhirat harus digapai. Betapa pun sibuknya pekerjaan, keluarga harus dijaga. Karena itu, pehobi tenis dan golf ini, hampir setiap pekan ia selalu menyempatkan diri berolahraga bersama istri dan ketiga buah hatinya, M. Arkan Zaky Rahman, Fidyana Kamala Rahma, dan M. Akmal Fahri Rahman.

 

1 Comment

  1. Pingback: Fathur Rokhman Menang Pemilihan Rektor Unnes - PortalSemarang.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.