Cangkem Wadon, Lambe Lanang: Pembacaan Sosiolinguistik

sosiolinguistik

Salah satu faedah yang saya peroleh saat belajar sosiolinguistik adalah sikap maklum terhadap perilaku bahasa orang lain. Sikap ini muncul karena sosiolinguistik punya “doktrin” bahwa tidak ada perilaku bahasa yang salah. Yang ada hanyalah keunikan berbahasa.

Jadi, kalau ada orang yang perialku bahasanya cenderung kasar, sosiolinguistik berusaha menghindari justifikasi bahwa itu kasar. Sosiolinguistik justru berusaha menemukan latar belakang sosiologis yang membuat perilaku bahasanya demikian.

Demikian pula kalau ada orang yang cenderung heboh dan berlebihan saat bicara, sosiolinguistik tak berminat menjustifikasi ke-lebay-an penutur. Fokus sosiolinguistik adalah menemukan latar sosiologis yang membuat perilaku berbahasa itu muncul.

Latar belakang sosiologis itu beragam. Bisa berkaitan dengan variabel tetap seperti keluarga, agama, komunitas, gender, pendidikan, dan sebagainya. Bisa juga berkaitan dengan variabel dinamis, misalnya pengalaman spesifik yang baru saja dialami.

Di kelas sosiolinguistik, saya mengajak mahasiswa untuk menghubungkan variabel-variabel itu dalam perilaku bahasa yang konkret. Konsep-konsep dasar seperti dialek, idiolek, sosiolek, akrolek, basilek, dan sebagainya dibuktikan dengan menemukan representasinya dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan terdekat.

Dengan cara seperti itu, saya dan mahasiswa semakin yakin bahwa bahasa tidak soal benar dan salah, tapi soal representasi lingual produk budaya si penutur.

Dalam komunikasi digital seperti sekarang, kemampuan untuk memaklumi perilaku bahasa orang lain adalah sikap yang penting.

Sikap itu menghindarkan saya pada dorongan untuk mengoreksi orang lain (sambil bersikap seolah-olah sayalah yang paling benar). Kemampuan untuk memaklumi orang lain juga bisa menghindarkan diri dari perdebatan yang tidak perlu.

Dalam banyak hal, perdebatan di media sosial itu sama sekali tidak perlu. Banyak sekali pertengkaran di sana yang sebenarnya tidak penting. Karena yang dipersoalkan, biasanya, bukan substansi, tapi bagaimana orang menuturkan persoalan substantif itu.

Meski sosiolinguistik baru diajarkan di perguruan tinggi, kesadaran sosiolinguistik sebenarnya telah hidup sebagai bagian dari nilai masyarakat. Kesadaran sosiolinguistik itu bisa kita lihat pada sesanti, peribahasa, atau bahkan humor masyarakat setempat.

Di subkultur Banyumas tempat saya dibesarkan, misalnya, ada ungkapan “Cangkem wadon, lambe lanang”.

Ungkapan ini kurang lebih bermakna, bahwa tindak tutur orang itu dipengaruhi oleh gendernya. Atau lebih jauh dari itu, bukan hanya gender, tapi latar belakang sosiologis lainnya.

“Cangkem wadon” biasanya diungkapkan untuk merujuk pada perilaku berbahasa orang yang cenderung cerewet dan ember. Adapun “lambe lanang” biasanya ditujukan untuk perilaku bahasa yang gombal dan cenderung bohong.

Meski bernada olok-olok dan mengandung stereotip, ungkapan ini mengandung kearifan. Di dalamnya ada nasihat bahwa ucapan seseorang eprlu disikapi dengan mempertimbangkan latar sosiologisnya.

Jadi, kalau Anda menemukan teman yang ceriwis bukan main, dia sebenarnya tidak salah. Dia cuma dianugerahi “cangkem wadon”.

Sebaliknya, kalau ada teman yang suka nggombal, tidak berarti dia salah. Dia cuma dianugerahi “lambe lanang”.

Rahmat Petuguran
Bukan pengikut Lambe Turah

Gambar: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.