Ekranasi, Cara Gampang “Menonton” Buku

Film Indonesia pada 2013 adalah parade film buku. Sebab, sebagian besar fil yang sukses dan menjadi box office diadaptasi dari buku. Seperti hendak mengulang sukses Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi, hadirlah Habibie dan Ainun, 5 CM , Ronggeng Dukuh Paruk, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Edensor, dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Fenomena kebudayaan apa ini?

Dalam dunia keratif, adaptasi buku ke dalam bentuk audiovisual disebut ekranasi. Ekranisasi semakin marak akhir-akhir ini, baik di luar negeri ataupun di luar negeri. Hollywood juga memiliki box office yang lahir dari buku, seperti Harry Potter, Narnia, dan The Old Man and The Sea. Maka tidak heran, kini, kalau ada novel fenomenal ataupun novel best seller, pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah “Kapan novel tersebut difilmkan?”.

Proses ekranisasi bisa dikatakan gampang-gampang susah. “Kegampangan” ekranisasi tampak dari ketersediaan “skenario unggul”. Tanpa harus menyusun script dari awal, para penulis skenaria tinggal mengadaptasi novel yang telah ada dengan penyesuaian di bagian-bagian tertentu.

Predikat best seller novel juga diyakini menjadi “iklan terselubung” sekaligus dongkrak bagi kesuksesan film yang akan dibuat. Hal ini terbukti dari banyaknya film-film sukses yang diadaptasi dari novel-novel best seller. Sebut saja Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, serta film-film lainnya. Film-film tersebut kebanjiran penonton karena novelnya sudah populer terlebih dahulu.

Ketersediaan bahan unggul tersebut sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja film. Kepiawaian mereka diuji dalam menginterpretasi dan mentransformasikan “dunia kata” menjadi bentuk audio isual. Konteks yang diimajikan pada tataran film diharapkan tidak berbeda jauh dengan imaji penulis novel. Akibatnya, ruang kreasi para pekerja film pun dibatasi oleh “pakem” yang sudah dibuat penulis novel. Disinilah para pekerja film dituntut untuk lebih mengekplorasi kedalaman novel demi memperoleh hasil terbaik. Tuntutan tersebut semakin tinggi manakala novel yang diadaptasi sudah dikenal masyarakat luas.

Beratnya mengikuti proses ekranisasi juga diakui oleh Pevita Pearce. Dara tomboy ini berperan sebagai Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang bersetting tahun 1930-an. Ia mengaku mengalami shock culture saat harus memerankan Hayati, si gadis Minang yang lemah lembut dan taat adat.

“Aku nggak pernah merasakan hidup di tahun 1930-an. Untukku yang dari kecil besar di Jakarta, ada sedikit culture shock,” aku Pevita pada yahoo.com. Sebagai bagian dari persiapan, selain membaca novelnya, Pevita mendalami karakternya dengan melakukan berbagai riset. Dia mengobrol dengan masyarakat Minang, termasuk datuk penghulu adat yang menceritakan adat-istiadat setempat. Hasil riset ini jadi pijakannya untuk membentuk karakter Hayati ala Pevita.

Plus-Minus Ekranisasi

Sebagai bentuk ekspresi, film hasil ekranisasi tetap patut diapresiasi. Diakui atau tidak, upaya menginterpretasi sekaligus mentransformasi gagasan tulis menjadi sajian audio visual yang sesuai/mendekati imaji penulis novel bukanlah pekerjaan mudah.

Dengan sajian audiovisual, gambaran latar, wujud tokoh, dan suasana tidak perlu lagi dideskripsikan. Dengan demikian, cerita yang hemat latar (tak jauh berpindah-pindah) pun bisa dinikmati. Misalnya, film Night at the Museum yang kebanyakan berlatar museum. Ada yang mengatakan picture speaks thousand words “gambar berbicara ribuan kata”.

Berbagai upaya juga dilakukan agar film adaptasi novel tidak membosankan. Misalnya, film disajikan dengan laju alur yang berbeda dengan novel. Jika dalam cerita aslinya beralur maju, dalam film beralur mundur. Begitu juga sebaliknya.

Film sangat dibatasi oleh durasi. Novel panjang harus dirangkum dalam durasi film yang terbatas. Hal tersebutlah penyebab terjadinya pemangkasan cerita pada film adaptasi novel yang bersetting kompleks. Pemangkasan tersebut tentunya dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pihak pembuat film dan pengarang novel.

Pemangkasan cerita menyebabkan novel dan film adaptasi menjadi tidak identik. Akibatnya, ada penonton yang kecewa karena film itu dirasa kurang sesuai dengan isi novel. Hal inilah yang harus diwaspadai. Pemangkasan cerita hendaknya jangan sampai merusak esensi cerita. Eman apabila hasil olahan bahan unggul hanya menuai celaan.

Di sisi lain, para pembaca novel yang ingin menonton film adaptasi diharapkan dapat memahami perbedaan tersebut. Jika berharap film adaptasi identik dengan cerita asli, sebaiknya jangan menonton. Pembaca hanya akan mendapatkan berita buruk. Bagaimanapun, celetukan akan perbedaan film dan novel akan selalu ada.

Selain diapresiasi, maraknya ekranisasi juga perlu diwaspadai. Sulitnya mencari naskah-naskah berkualitas untuk menghasilkan film berkualitas sudah menjadi rahasia umum. Tidak heran jika film berkelas festival jarang sekali lahir dari tangan sineas Indonesia. Padahal, pasar menginginkan karya-karya tanah air. Akhirnya produser film memilih jalan aman dengan mengekranisasi novel-novel best seller. Kesuksesan ekranisasi akhirnya membuat para pekerja film yang lain “latah”. Mereka pun berduyun-duyun ber-ekranisasi. Akibatnya, kualitas film kurang diperhatikan. Hal ini jelas memasifkan sinema pada konten yang serupa.

Fenomena ekranisasi juga memanjakan masyarakat Indonesia yang tidak suka membaca. Masyarakat Indonesia cenderung lebih suka menonton dibanding membaca. Berdasarkan data Center for Social Marketing (CSM) tahun 2010, perbandingan jumlah buku yang wajib dibaca siswa SMA yakni di Amerika Serikat sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Di saat budaya baca-tulis masih lemah, Indonesia sudah diserang dengan berbagai produk elektronik dengan visualisasi yang lebih menarik sehingga terbentuklah “budaya menonton”. Dewiyani Mulyaningtias

Sumber: Majalah Merah Putih
Foto: Solo Pos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.