Dilema Jurnalisme Bermutu

Banyak pelaku industri media gamang. Mereka dalam dilema. Harus milih antara jurnalisme berkualitas atau menguntungkan.

Pilihan itu harus dihadapi. Pilihan yang sebenarnya paradoksal. Kalau memilih jurnalisme yang jelek, media mungkin akan bertahan. Tapi kalau memilih jurnalisme yang bermutu, bukan main sulitnya.

Di Indonesia, iklan masih jadi nutrisi utama perusahaan media. Eksperimen konten berlangganan belum banyak yang berhasil. Model pers publik yang disokong dana publik seperti BBC juga belum berkembang. Crowdfunding journalism juga masih konsep. Belum ada yang sukses mempraktikannya.

Karena nutrisi utama media adalah iklan, perusahaan media terikat pada hukum-hukum dunia iklan. Di satu sisi dia harus melayani pembaca alias pemirsa. DI sisi lain perusahaan harus memiliki portofolio yang meyakinan calon pengiklannya.

Masalahnya: media yang orientasinya cuma melayani selera pasar, cenderung mengabaikan nilai-nilai jurnalisme. Namanya aja jualan, yang penting laku.

Sebaliknya, kalau jualan berita bagus, segmen pembacanya relatif sedikit. Pemasang iklan ogah bayar slot di ruang yang sepi.

Lihatlah laporan mengenai media daring dengan angka kunjungan terbesar. Yang memuncaki daftar ini adalah T*********.com.

Dari sisi bisnis, perusahaan ini mungkin sehat. Banyak iklan, banyak pemasukan. Tapi kualitas jurnalismenya nauzublilah. Itu bahkan diakui sendiri oleh para jurnalisnya.

Jurnalisma yang buruk (karena menjual berita receh dan bombastis) justru disukai banyak orang.

Sebaliknya, media dengan kualitas jurnalisme baik seperti T****id tidak banyak diminati. Meskipun protofolio visitornya terus naik, segmen pembaca media ini tidak terlalu menarik pengiklan.

Persoalannya: jurnalisme baik lazimnya dibaca masyarakat terdidik. Melek informasi dan kritis.

Justru karena mereka, kelompok ini tidak mudah dieksploitasi. Dirayu pakai iklan gak mempan, ditawari giveway gak tertarik, dikasih diskon besar pun masih pikir-pikir.

Pembaca jenis ini tidak diminati pengiklan.

Bagi pengiklan, lebih baik beriklan di media receh dengan pembaca sedikit bodoh (apalagi sekaligus berduit) daripada beriklan di media dengan pembaca kritis (apalagi sekaligus kere).

Kondisi inilah yang melahirkan paradoks: semakin baik kualitas jurnalismenya, perusahaan media justru dalam menggali kuburnya.

Aneh, kan?
Tapi ini beneran terjadi lho.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Sumber gambar: https://careers2030.cst.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.