Cegah Pelecehan Seksual Anak, Mahasiswa Unnes Latih Guru PAUD

Banyaknya kasus penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak membuat Merlina prikhatin. Kondisi itu menggugah mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu memberikan pelatihan kepada guru PAUD cara menghindari pelecehan seksual terhadap anak.

Gagasan itu muncul karena angka pelecehan terhadan anak cenderung meningkat. Dalam catatan Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, pada 2013 terjadi peningkatan yang cukup besar yaitu 339 kasus. Sedangkan pada caturwulan pertama 2014 (Januari-April), terjadi sebanyak 600 kasus dengan korban mencapai 876 anak.

Menurut Merlina, salah satu faktor yang menyebabkan kerawanan pelecehan terhadap anak adalah kurangnya pendampingan dari orang tua dan guru. Guru dan orang tua belum dapat memberikan bekal yang memadai agar anak dapat mengembangkan proteksi diri.

Hal itu terungkap dalam pengabdian yang dilakukan Merlina. Banyak guru PAUD ternyata belum paham cara menyisipkan pendidikan seks kepada anak usia dini. Padahal guru adalah sumber informasi yang sangat diandalkan, selain orang tua.

“Dalam survei awal terungkap bahwa Guru PAUD di Gunungpati membutuhkan cara atau media untuk menyampaikan pengenalan pendidikan seks pada anak didiknya,” kata Merlina.

Untuk mengatasi kondisi itu, Merlina bersama tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menggagas program pengabdian kepada masyarakat. Ia memberikan pelatihan kepada guru-guru PAUD se-Kecamatan Gunungpati.

Program pengabdiannya ini diapresiasi oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat sehingga lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2016 di Institut Pertanian Bogor (IPB), 8 Agustus mendatang.

Untuk mempermudah guru PAUD, ia juga mengembangkan media pembelajaran berupa flashplayer interaktif. Pelaksanaan diawali dengan diskusi guru-guru PAUD untuk menentukan kebutuhan guru PAUD, melaksanakan pretes, merancang dan membuat program, mensosialisasikan kepada guru PAUD di Kecamatan Gunungpati, evaluasi, dan kegiatan lanjutan.

“Data menunjukkan dari sampel 26 anak, 21 anak di antaranya sudah mengetahui dan memahami pesan pendidikan seks disampaikan melalui media interaktif. Anak-anak sudah mengerti tentang cara pencegahan kekerasan seksual atau kejahatan seksual. Hasil tersebut menunjukan bahwa program ini telah berhasil meningkatkan kompetensi bahasa Inggris guru PAUD dan telah berhasil meningkatkan pemahaman seks pada anak usia dini,” terang Merlina.

Untuk menjaga keberlangsungan program ini, Merlina berencana melakukan pemantauan berkala tiap bulan untuk mengontrol penggunaan media yang telah diberikan serta mengontrol transfer ilmu kepada peserta didik dan pemantauan Forum Sirupa (Forum Edukasi Guru PAUD) secara berkala.

“Program ini harus dilakukan secara berkesinambungan karena sangat penting bagi anak usia dini. Diperlukan langkah preventif yang serius agar mereka terhindar dari pelecehan seksual,” katanya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.