Catatan Harjanto Halim: Mencintai Indonesia dengan Sederhana

Saya ikut memberi paparan di acara seminar dan peluncuran buku ‘Tionghoa Dalam Keindonesiaan’. Buku yang terdiri dari 3 bagian setebal lebih dari 1200 halaman, berisi 120 tulisan yang ditulis oleh 73 penulis, adalah sebuah bunga rampai yang merangkum peran dan kontribusi etnis Tionghoa di Indonesia semenjak jaman Kemerdekaan hingga masa kini, dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga, kesenian, kemiliteran, pers, kuliner, hingga batik, jamu, sastra dan teater.

“Bukan untuk menepuk dada sendiri, atau ‘self glorifying, bukan untuk menepis peran etnis lain, tapi untuk menempatkan peran dan kontribusi etnis Tionghoa di tempatnya yang layak…”

Demikian pesan dari penyusun buku, sebuah yayasan sosial yang bertujuan merekatkan hubungan antar anak bangsa melalui prinsip ‘penyerbukan silang antarbudaya’.

Saya memberi paparan soal kehidupan di Pecinan Semarang, yang sudah semenjak dahulu kala, telah menjalani proses penyerbukan silang antarbudaya secara alamiah. Lunpia, lontong capgomeh, cakwe dan wayang potehi adalah contoh-contoh kecil bagaimana makanan dan kesenian hasil penyerbukan silang antarbudaya atau akulturasi telah membentuk sebuah tatanan perilaku yang humanis dan harmonis di dalam komunitas yang beragam.

“Bahkan Sekolah Karangturi, dua tahun lalu membuat kreasi yang unik: lunpia capgomeh; bukan lontong, lunpia. Lunpia yang biasanya diisi rebung, kali ini diisi lontong capgomeh. Rasanya bagaimana? Silahkan order ke Sekolah Karangturi…”

Peserta seminar tertawa.

“Ini foto bu Surip, penjual pecel paling enak sedunia di Gang Baru…,” tutur saya sambil memperlihatkan foto seorang ibu berusia setengah baya yang rambutnya telah memutih semua sedang meraup sejumput bayam atau daun pepaya godhok.
Peserta seminar kembali tertawa.
“Penjualnya Jawa, pembelinya Tionghoa…, tidak ada masalah….,” sambung saya.

Saya menunjukkan foto dimana saya pernah mendatangkan ‘warak’, sebuah simbol Islam sebagai dimulainya Bulan Puasa di Kota Semarang, ke Pecinan, dan menyandingkannya dengan barongsai, sebuah simbol Tionghoa. Dua ikon dari dua budaya berlainan, dari dua agama berbeda, bersanding bersama di depan sebuah kelenteng dalam paduan warna warni yang apik. Penyerbukan silang antarbudaya bisa terjadi secara alamiah.

Sayangnya, sayangnya kondisi tenteram yang sudah terbangun baik itu, menjelang pilkada, diusik oleh isu-isu primordial. Isu ras, agama, etnis dipakai sebagai senjata ampuh untuk menuduh dan menista lawan politik. Hoax keji penuh fitnah bertebaran di laman-laman media sosial tanpa saringan. Ironisnya, di negeri yang, konon, masyarakatnya dikenal santun dan senantiasa meng’Allah’, ternyata mudah dipengaruhi dan dikibuli oleh lontaran cethek dan plintiran sesat. Percikan emosi fanatik buta dan konflik horisontal mulai menyelimuti lembah hati yang na’if.

Saya menunjukkan foto Gus Dur saat dinobatkan menjadi ‘Bapak Tionghoa Indonesia’ oleh komunitas Tionghoa di Semarang. Gus Dur semasa hidupnya tak pernah lelah memperjuangkan dan melindungi hak-hak kaum minoritas, termasuk Tionghoa. Dan kini papan arwah bertuliskan nama ‘Gus Dur’ berdiri di antara papan arwah tokoh Tionghoa di altar sebuah perkumpulan Tionghoa tertua di Semarang. Bagi orang Tionghoa, peletakan papan arwah di altar adalah simbol penghormatan tertinggi terhadap seorang tokoh.

“Gus Dur adalah orang yang cerdas beragama, juga biarawati ini…” Saya menunjuk foto seorang biarawati dengan jubah dan penutup kepala lengkap sedang duduk di lantai sambil memotong daging di sebuah acara Idul Qurban.
“Tidak perlu menutupi identitasnya sebagai seorang biarawati Katholik saat membantu acara Idul Adha. ‘Saya Katholik, saya mau membantu’. Niat baik adalah jubah terbaik…”

Saya melanjutkan, “Seorang kawan saya, muslim, pernah tinggal di rumah Presiden Menonnite Dunia saat mengambil gelar S3 nya di Amerika Serikat. Bayangkan seorang Muslim tinggal di rumah petinggi Nasrani. Kawan saya tidak pernah luntur keislamannya. Ia tetap menjadi seorang Muslim…”
Saya mengedarkan pandangan.
“Negara kita, butuh orang-orang yang cerdas semacam mereka…”

Slide berganti foto seorang wanita berkulit hitam berambut ikal, di bawahnya nampak sederet diagram balok dengan prosentase angka di sampingnya.
“Ini adalah hasil ‘DNA Ethnicity Test’, dimana ‘kemurnian’ DNA etnis bisa dilacak…” Saya menjelaskan.
Ternyata DNA etnis si cewek hitam berambut ikal tidak murni. Ternyata gen etnisnya adalah campuran: 33% Nigeria, 3% Native American, 28% East Asian, 13% Ireland, 6% West Europe, 1% Pacific Islander. Ternyata gen etnis nya tidak murni!

Apakah gen etnis anda murni Jawa? Murni Sunda? Atau murni Tionghoa? Pasti tidak! Ironisnya, meski kita semua tahu – tak ada gen etnis murni dan bahwa keberagaman adalah sebuah keniscayaan tapi, “Isu primordial masih sangat laku…,” tutur saya.
“Agama, ras dan etnis laku diperjualbelikan untuk menggaet simpati publik dan memenangkan sebuah pemilu…”
Saya menarik napas sebelum melanjutkan, “Buktinya Trump menang di Amerika. Masih banyak ‘silent majority’ yang menyukai isu ‘white supremacy’…”
Saya menunjukkan foto sekelompok orang mengenakan kostum ‘Klu Klux Klan’ menunjukkan poster dukungan terhadap Presiden Trump.

Sedih.

Saya menunjukkan foto lain.
“Siapa kira-kira yang bakal menjadi the next ‘Prime Minister’ of Singapore?,” tanya saya.
Di foto nampak 4 anak tengah berdiri sambil mengibarkan bendera Singapura; satu anak India, satu anak Malay, satu anak Eurasia, dan satu anak Chinese. Semua peserta tertawa. Di Singapura semua orang tahu, Presiden bisa digilir antara orang India atau orang Malaysia, tapi Perdana Mentri pasti orang Chinese!

“Atau ini…,” tunjuk saya pada foto berikutnya, “apakah suatu hari orang yang berdiri di sebelah pak Jokowi bisa jadi presiden?”
Berdiri di sebelah Pak Jokowi, seorang pria dari Papua. Semua orang nyengir. Sebuah pekerjaan rumah yang masih panjang buat kita.

“Saya tidak pesimis terhadap bangsa kita. Saya yakin akan makin banyak orang-orang yang cerdas, yang tahu bagaimana berbangsa…”
Saya menunjukkan foto seorang wanita sepuh yang telah beruban rambutnya.
“Teman saya ini usianya delapan puluh satu tahun. Beliau tinggal di Amerika. Lebih dari lima puluh tahun yang lalu beliau berimigrasi ke Amerika dengan penuh kebencian karena Bung Karno telah melarang penggunaan Bahasa Belanda, bahasa ibunya. Ia merasa seperti diberangus dan dilecehkan. Belum lagi ia pernah berperang mulut dengan seorang penjual keliling di rumahnya dan di’cina-cina’kan. Ia pergi dengan sangat marah…”

Saya menarik napas dalam-dalam, semua peserta diam menanti.

Beberapa tahun yang lalu ia kembali ke Indonesia untuk mempromosikan novel yang ia tulis. Dan ia terkejut. Ternyata Indonesia yang ia lihat bukanlah Indonesia yang ia kenal dan pahami dulu. Ia kaget melihat betapa indahnya Indonesia. Ia pun sadar bahwa selama ini ternyata ‘indoktrinasi kolonial’ telah membutakan matanya hingga, waktu itu, ia tidak bisa ‘melihat’ Indonesia dengan jujur.

“Di atas tubuhku, saya Chinese…,” ujarnya perlahan, “tapi di bagian bawahku, kedua kakiku mencengkeram tanah dan lumpur Indonesia yang telah menghidupiku…”
Tatapannya sayu.
“You know what, one day I have to apologize to Bung Karno…”

Dan ia menepati janjinya saat berkunjung kembali ke Indonesia tahun lalu. Ia mengunjungi makam Sang Proklamator di Blitar. Ia terdiam dan terpekur di depan nisan – meminta maaf. Ia membuat penerbitan di rumahnya di San Mateo, Amerika Serikat dengan nama ‘Dalang Publishing’. Ia menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam Bahasa Inggris dan mengirimkan buku-buku tersebut ke perpustakaan-perpustakan di universitas bergengsi di Amerika. Ia mengerjakan semua pekerjaan itu seorang diri. Sesederhana itukah (cara) mencintai tanah air?

Saat ia mengunjungi seorang penulis yang bukunya ia terjemahkan, di Kepulauan Tidore, saya bertanya, “Kenapa kamu ingin kesana?” Wong saya saja belum pernah kesana sama sekali. Kepikir saja tidak.
“I want to feel the warmth of Indonesian sunshine, while swimming in the sea. Just like the book describes…,” tuturnya tulus.
Saya terdiam.

Seorang wartawan bertanya, “Kalau ibu begitu mencintai Indonesia, mengapa ibu tidak pindah kesini saja?”
Teman saya terdiam, lalu menggeleng, “I can not. I have been living in America for such a long time. I can not…”
Ia berkata sejujurnya. Tidak mudah bagi orang yang telah berusia lanjut untuk pindah dan menyesuaikan diri di tempat baru.
“But if I die…,” ia melanjutkan dengan suara parau, “I might…”
Suaranya terputus, mengambang; tatapannya sendu.

Sesederhana itukah mencintai tanah air?

Harjanto Halim
April, 2017

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *