Catatan 6 Harjanto Halim: Fearless Female

Kakak perempuan saya datang menjenguk Mama yang kini tinggal bersama saya. Saat pulang, saya dan Isteri mengantarnya sampai ke pagar. Ternyata kakak saya naik mobil Fortuner, padahal biasanya ia naik Kijang. Saya menatap mobil yang berukuran ‘raksasa’ dibanding tubuh kakak saya yang cenderung mungil.

“Kamu nyetir sendiri, Cik?,” tanya saya.

“Ya,” jawab kakak saya santai, padahal rumahnya di kota Ungaran. Tiap minggu ia ke gereja di dekat rumah saya, sekalian mengajar Sekolah Minggu.

“Ini ada rujak kecombrang mau?,” kakak saya menawarkan sambil membuka bagasi mobil.
Saya mengangguk. Saya paling suka rujak sambal kecombrang. Rasanya pedes-wangi-gurih gimana gitu.

“Tapi tinggal timune tok…,” kata kakak saya.

“Gak papa, Cik…,” sahut saya sambil menerima wadah berisi rujak dari kakak saya.

Saat mobil kakak saya beranjak pergi, saya menoleh ke arah Isteri. “Koe yo wani nyetir Fortuner?”

Isteri nyengir. “Wani wae!”

Saya menatap sosok mungil di samping saya. Mosok?

“Lha wong dulu di UCD (kampus dimana kami kuliah di Amerika dulu) aku wae pengin jadi sopir bis…”

Mata saya tambah ombo. Hahhh??? Sopir bis???

“Ya. Tiap hari aku naik bis, lihat sopirnya cewek… Tak bathin, ‘O, nek ngono wae aku ya iso’…,” ujar Isteri kalem.

“Cuman whut, whut, whuddd…,” imbuhnya menirukan gerakan sopir bis memutar kemudi bis nan ‘super’ besar.

Saya tertawa. Tiba-tiba saya teringat, dulu Isteri pernah membawa truk berisi mebel dari kota Davis ke kota San Fransisco yang berjarak kurang lebih 3 jam. Ia mengantar mebel untuk kakaknya yang menetap di sana. Saat itu, entah mengapa saya tidak ikut menemani. Isteri malah ditemani seorang sepupunya yang barusan datang dari tanah air. Di tengah perjalanan pulang, saat mengisi bahan bakar, si sepupu, yang notabene masih ‘baru’, salah mengisi jenis bahan bakar; harusnya premium diisi solar. Akibatnya saat di tengah freeway, mesin truk mulai ngadat, “Brrrtttt…, brrrttt…”

Tak lama kemudian truk mogok total. Jegleg.

In the middle of nowhere.

Mobil dicoba distarter, “Ceng-ngeng-ngeng….”

Gagal.

“Ceng-ngeng-ngeng…”

Gagal.

“Ceng-ngeng-ngesan…” Gagal!

Terpaksa harus cari bantuan. Freeway nampak sepi, tak sebuah kendaraan pun lewat. Isteri yang bertubuh mungil dan berwajah imut terpaksa berdiri di pinggir jalan sambil ngacung-ngacungkan jempol. Waktu itu belum tahun 1990, belum ada handphone. Tak lama kemudian sebuah sedan Ford warna biru metalik terlihat di kejauhan. Mobil Ford berhenti. Seorang pria kulit hitam, gede dan brewokan berada di dalamnya.

“You need a ride?,” tanya si pria dengan suara serak.

Isteri ketakutan, langsung gedhek kencang. “No, thank you…”

Bukannya rasis, tapi insting layak didengar. Akhirnya sebuah mobil yang dikemudikan seorang wanita berhenti. Isteri diajak naik dan diantar ke pom bensin terdekat. Isteri segera menelpon ‘Triple A’ (sebuah pelayanan untuk mobil mogok). Masalah teratasi, Isteri kembali utuh.

Tiap kali teringat cerita ini, saya merasa bersalah, kenapa waktu itu saya tidak ikut menemani. *Piye to kowe???* Mungkin itu sebabnya, kini saya selalu (berusaha semaksimal mungkin) mendampingi kemanapun ia pergi. Whuidiannn…

Mau ke dokter?

-Tak antar!

Ke super-market?

-Siap laksanakan! Jalan-jalan?

-Ayo!

“Papa doesn’t let me drive…,” ujar Isteri kepada si Sulung suatu ketika.

Waktu itu saya manthuk-manthuk. Your wish is my command. Tapi kini mendengar Isteri pernah bercita-cita jadi sopir bis kampus, saya kembali menatap tubuh Isteri yang mungil.

Dan saya percaya di balik tubuh wanita mungil yang telah mendampingi saya selama hampir dua puluh lima tahun – mendampingi dan menemani saya, menghadapi berbagai masalah dan persoalan, besar maupun kecil, menjadi tempat curhat dan berteduh, menjaga dan merawat serta mengayomi keluarga, tanpa lelah atau gerutu – tersimpan nyali seorang pejuang yang tak mengenal rasa takut. Saya tersenyum; saya sungguh beruntung. Isteri saya seorang wanita pemberani – a fearless female – yang suka nonton Srimulat!

Oktober 2015

Sumber gambar: di sini.

Facebook Comments

1 Comment

  1. Tandiyo Rahayu

    October 12, 2015 at 1:58 am

    Jd inget.. jaman kuliah di Jakarta,
    . Awalnya mondar mandir naik KA, setelah itu ganti bus. Dan kecanduan duduk di belakang pak Supir. Semalam suntuk sy menikmati si supir memainkan stir, dan 3 pedal dikakinya, serta persneling di sisi kirinya.. hahaha..saat itu.. sy sungguh ingin jd supir bus malam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *