Begini Cara Menulis Artikel yang Baik Menurut Rahmat Petuguran

cara menulis artikel

Bagi dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, Rahmat Petuguran, cara menulis artikel adalah sesuatu yang mudah. Itu ia buktikan dengan ratusan artikel yang telah ia tulis di berbagai media, baik regional maupun nasional, sejak usia relative muda.

Kepiawaian dan ketekunan menulis artikel itulah yang membuatnya sering diminta melatih mahasiswa, guru, dan dosen dari berbagai daerah cara menulis artikel yang baik.

Awal Januari lalu, misalnya, ia melatih ratusan guru se-Karisidenan Kedu. Tak berselang lama, ia juga melatih guru dari berbagai organisasi profesi di Semarang, Kendal, dan Klaten.

Ia membuat formula yang membuat para peserta pelatihannya bisa mempraktikkan cara menulis artikel dengan baik.

Lalu, bagaimana tips cara menulis artikel yang baik?

Pertama-tama, dia menyodorkan tiga tahap kriteria tulisan yang berhasil. Tahap pertama, tulisan yang berhasil adalah tulisan yang terpublikasi. Melalui media apa pun, tulisan yang terpublikasi bernasib lebih beruntung daripada tulisan yang ditinggal penulisnya di folder komputer. Jika terpublikasi, “nasib baik” tulisan itu terbuka.

Kriteria kedua, menurut Rahmat, adalah tulisan itu terbaca. Untuk membuatnya terbaca, tulisan harus ditulis dengan siasat tertentu sehingga memikat calon pembaca. Siasat ini berkaitan dengan penulisan judul, penulisan lead, penggunaan kalimat efektif, kelancaran bernarasi, dan sebagainya.

Kriteria ketiga adalah mencerahkan dan menggerakkan. Menurut Rahmat, tulisan yang baik harus memberi wawasan baru kepada pembaca. Bukan sekadar wawasan baru, akan lebih baik jika tulisan itu juga memberi energi kepada pembaca sehingga menggerakkannya melakukan kebaikan tertentu.

Agar cara menulis artikel berhasil pada level ketiga, Rahmat melanjutkan, ada dua modal dasar yang harus dimiliki penulis atau siapa pun yang ingin belajar menulis.

Pertama, pengetahuan yang memadai terhadap objek yang ditulisnya. Memadai, berarti, memiliki pengetahuan yang lebih mendalam dibandingkan rata-rata pembaca.

Kedua, memiliki strategi bertutur yang baik. Strategi bertutur bisa berkaitan dengan pilihan gaya bahasa, kemampuan menulis kalimat secara singkat, dan membangun narasi yang logis dan memikat.

Untuk mencapai titik itu, tentu saja penulis harus sering berlatih. “Latihan terberat penulis adalah menjaga kebiasaan membaca,” katanya.

Meski begitu, ia mengembangkan sejumlah formula agar penulis pemula tahu cara menulis artikel dan mempraktikannya dengan mudah. Di berbagai pelatihan, formula itu ia adaptasi untuk dipraktikkan peserta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.