Budaya NYAMPAH pada Mahasiswa

Oleh Reni Mujenab

Tidak mengherankan apabila masyarakat umum tidak memiliki kesadaran bahaya sampah. Tapi akan janggal apabila kaum terpelajar seperti Mahasiswa yang semacam itu. Sekarang, bukan lagi gerakan membuang sampah pada tempatnya. Tapi menumbuhkan kesadaran untuk mengurangi sampah dari hasil perilaku konsumsi sehari-hari.

Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari memang tidak bisa diukur secara kuantitas. Sebagai contoh apabila disuatu wilayah kampus ada kurang  lebih 20.000 mahasiswa dan tiap mahasiswa mengahasilkan minimal satu sampah plastik dalam sehari maka bisa dibayangkan seberapa besar pencemaran yang bisa terjadi apabila tidak diolah dengan benar.

Sayangnya, tidak banyak dari tipe mahasiswa yang sadar bahwa perilakunya menghasilkan banyak sampah. Sampah tersebut berupa jenis sampah organik dan anorganik. Sebagian besar sampah yang dihasilkan dari perilaku konsumsi tersebut adalah sampah dalam bentuk plastik, kertas dan sisa limbah rumah tangga.

Mahasiswa cenderung mengalami ketergantungan terhadap barang-barang sekali pakai khususnya plastik. Hal ini terjadi karena alasan kebiasaan, kepraktisan dan kemudahan dalam mendapatkannya.

Ketergantungan penggunaan barang-barang plastik merupakan pengaruh habituasi. Dari kecil para mahasiswa sudah dikenalkan dengan plastik. Jadi, kebiasaan secara tidak sadar berpengaruh pada ketergantungan pada plastik. Sementara sisi bahaya dari plastik dan pengelolaan limbah plastik sangat jarang disosialisasikan.

Dilansir dari kompas.com (24/07/2019) Juru Kampanye Urban Green Peace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengungkapkan yang menjadi catatan adalah memulai secara perlahan untuk meninggalkan ketergantungan pada plastik sekali pakai dan berlatih penggunaan kembali. Serta membangun mindset meninggalkan plastic sekali pakai.

Faktor lainnya yaitu pola perilaku hidup bersih dan sehat yang belum menjadi budaya. Mahasiswa masih berpikir jangka pendek dan berorientasi pada diri sendiri. Pengetahuan menentukan perilaku seseorang. Ada hubungan erat antara pengetahuan lingkungan dengan perilaku memelihara lingkungan (Frick, 2004).

Berbagai cara yang dilakukan Lembaga Pendidikan  untuk mensosialisasikan Gerakan Peduli Lingkungan,seperti mengadakan mata kuliah umum Pendidikan Konservasi, seminar,  penyuluhan dari komunitas peduli lingkungan, dan masih banyak lagi.

Secara formal mahasiswa sudah cukup mendapatkan Pendidikan lingkungan, tapi perilakunya belum ramah lingkungan. Karena dalam diri mahasiswa belum ada prioritas untuk menerapkan pengetahuan/pengalaman belajar dikampus dalam kehidupan.

Muhaimin (2015;49) mengatakan kegagalan ecopedagogi disebabkan karena guru kurang mengembangkan pendekatan yang mengeksplorasi peserta didik untuk menemukan informasi, menganalisis, dan membuat keputusan berdasarkan inkuiri,sehingga materi yang diberikan tidak menjadi perilaku yang ditampilkan sehari-hari. Seharusnya pengetahuan yang dimiliki menjadi cerminan kualitas diri dalam kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup dan kurangnya kesadaran untuk turut serta dalam pengendalian sampah semakin menyulitkan untuk menerapkan perilaku nol sampah (zero waste) atau menekan produksi sampah seoptimal mungkin. Bukan berarti menyingkirkan penggunaan barang plastik 100%, tetapi harus mengubah cara berpikir dan perilaku buruk yang serba instan.

PERILAKU

Tiga komponen dalam pembentukan perilaku ramah lingkungan yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku itu sendiri. Ketiganya membentuk pola saling mempengaruhi, dimana pengetahuan akan melahirkan perasaan, dari perasaan kemudian terlahir dorongan untuk bertindak.

Permasalahan utama sampah adalah bukan me-recycle barang-barang yang sudah tidak digunakan, melainkan melakukan efisiensi penggunaan sampah itu sendiri karena penggunaan barang-barang secara tidak efektif dapat menimbulkan sampah yang semakin besar.

Membiasakan untuk menggunakan barang-barang yang reusable. Hal ini dapat menekan jumlah sampah plastik yang di hasilkan setiap hari. Seperti dalam kegiatan jual beli, harus diimbangi dengan meningkatkan kesadaran dari para pedagang dan pembeli untuk menjaga lingkungan.

Mahasiswa juga dapat mengelola sampah secara mandiri di kos seperti pemanfaatan limbah kertas untuk media pembelajaran kreatif ecogreen dan pemanfaatan sampah dapur menjadi pupuk kompos. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan kesadaran pribadi mahasiswanya, hal ini disampaikan dalam mata kuliah Pendidikan konservasi atau belajar secara mandiri melalui rumah kompos dan komunitas peduli lingkungan.

Sampah merupakan persoalan sederhana yang sangat mungkin menjadi kompleks. Perilaku konsumerisme yang menghasilkan banyak sampah memang tidak bisa dirubah secara instan. Dengan memperluas pengetahuan dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan maka akan menjadi  patokan untuk beraktivitas dan membangun kerjasama yang sinergis untuk menekan jumlah sampah seoptimal mungkin.

 

[Reni Mujenab]

Artikel ini merupakan hasil latihan peserta mata kuliah jurnalistik dari Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.