Dengan CDA, Berpikir Melampaui Kuasa Bahasa

Manusia berpikir dengan bahasa. Realitas objektif disimplikasi dengan kata-kata. Karena itu, gagasan apa pun yang lahir dalam pikiran manusia senantiasa takluk dengan aturan semantik dan gramatik bahasa.

Di sisi lain, bahasa ternyata berfungsi sangat pragmatis. Ketika digunakan oleh pengguna bahasa (bahasawan?), bahasa didesain agar memberi sebanyak mungkin keuntungan bagi penuturnya. Kecenderungan ini membuat bahasa cenderung manipulatif. Bahasa, dengan demikian, selalu cemar oleh motif penuturnya. Tidak adil, tidak jujur, dan, yaitu tadi: manipulatif.

Apakah berarti pikiran manusia harus selalu takluk dengan kuasa bahasa? Maksud saya, apakah berarti pikiran manusia harus ikut aturan main yang manipulatif tersebut?

Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) menawarkan pendekatan yang memungkinkan pengguna bahasa mengenali ketidakberesan dalam bahasa. Tidak hanya mengenali, CDA menawarkan sejumlah cara yang memungkinkan pengguna bahasa menggugat dan melawan manipulasi bahasa. (Baca: Membaca Gagasan Sapir-Whorf, Memahami Relativitas Bahasa)

Sebagai sebuah pendekatan terhadap bahasa, CDA mulai dikenal berkat sumbangan pemikiran ilmuwan Inggris seperti Norman Fairclough dan ilmuwan Belanda, Van Dijk. Keduanya memiliki gagasan yang mirip, meski tidak serupa.

Buku Critical Discourse Analysis karya Haryatmoko berusaha merangkum pemikiran-pemikiran para perintis CDA dan menghadirkannya sebagai sebuah metoda analisis yang praktis.

Dibanding buku-buku lain tentang CDA, buku karangan Haryatmoko ini lebih operasional karena dilengkapi contoh-contoh kajian, baik pada naskah berita, iklan visual, buku, maupun film.

Dengan contoh-contoh itu, kerja CDA sebagai strategi mengungkap ideology di balik teks menjadi terasa betul fedahnya. Empat metode CDA sebagaimana disampaikan Fairclough diperagakan secara runtut dan telaten.

Meski demikian, penulis juga memberi gambaran yang cukup mengenai asal usul pemikiran ini. Misalnya, penulis mengaitkan kaitan CDA dengan teori-teori kritis, baik teori yang disampaikan Marx, Antonia Gramci, Michele Foucault, hingga Pierre Bourdieu.

Sebagai pembaca pemula, saya merasakan buku ini relatif mudah dipahami dibandingkan buku-buku sejenis.

Saya merekomendasikan buku ini kepada teman-teman yang ingin belajar kajian bahasa.

Rahmat Petuguran
Dosen bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.