Apa yang Sebenarnya Menjadi Urusan “Kita”?

Setiap hal yang ramai di internet dan televisi kok mendadak menjadi urusan “kita”, ya? “Kita” menanggapii peristiwa-peristiwa yang jauh demikian serius seolah sesuatu itu terjadi di teras rumah kita.
 
Ada orang yang sex chat, itu jadi urusan “kita”.
Ada orang dipenjara karena salah bicara, jadi urusan “kita”.
Ada orang naik trail, juga jadi urusan “kita”.
 
Padahal, sangat mungkin, orang dan urusan itu “sebenarnya” sama sekali bukan urusan “kita”. Keterlibatan “kita” terhadap peristiwa itu hanya sensasi psikologis semata, sesuatu yang abstrak, bias, atau imajiner.
 
Menurut saya, situasi itu merupakan keganjilan yang perlu dipahami cara kerjanya. Ini diperlukan agar “kita” bisa membedakan mana secara lebih jeli mana “urusan kita” dan mana yang “ditampilkan seolah-olah menjadi urusan ‘kita'”.
 
Amatan saya, ada empat tahapan yang membuat urusan antah berantah bisa segera menjadi “urusan kita”.
 
Publikasi
Peristiwa dikabarkan, disebarkan, melalui berbagai media sehingga diketahui banyak orang.
 
Rekontekstualisasi
Sebuah peristiwa yang terjadi dengan konteksnya yang unik dihadirkan kembali dengan konteks yang berbeda, seolah-olah konteksnya berkaitan dengan kepentingan banyak orang/publik.
 
Simbolisasi
Tokoh atau peristiwa disimbolisasi seolah-olah mewakili masyarakat yang lebih besar, konsep tertentu.
 
Ideologisasi
Tokoh atau peristiwa tersebut didudukkan secara ideologis sehingga bukan tokoh atau peristiwanya yang penting, tapi hal-hal ideologis yang menyertainya.
 
Keempat tahapan itu melahirkan imaji keterlibatan. Seseorang yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tokoh atau peristiwa, tiba-tiba merasa dekat, terlibat.
 
Imaji ini membuat urusan yang amat jauh, tidak ada sangkut pautnya dengan “kita” seolah-olah tampak penting, mendesak untuk diperhatikan.
 
Sementara, pada saat yang sama, “hal-hal yang sebenarnya adalah urusan kita”: tetangga yang sakit, saudara yang butuh uang, atau selokan depan kompleks yang tersumbat, justru “bukan urusan ‘kita'”.
 
Selamat malam.
Rahmat Petuguran
 
 
 
 
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *