Animal Farm: Kekuasaan itu Memabukkan, Kamerad!

Tiap melihat kawan yang berapi-api membicarakan perlawanan, saya selalu teringat Napoleon. Bukan Bonaparte, tetapi babi cerdik dalam novelet Animal Farm rekaan George Orwell. Napoleon bersama Snowball adalah tokoh utama dalam novel satir arya sastrawan Inggris itu.

Orwell yang  tersohor dengan 1984-nya masih mempersoalkan kekuasaan dalam Animal Farm. Namun dalam cerita ini Orwell tidak mempersoalkan secara teoretik bagaimana kekuasaan dikonstruksi dengan informasi. Dengan gaya bertutur yang lebih rendah hati Orwell hanya memeragakan betapa memabukannya kekuasaan.

Napoleon dan Snowball adalah babi yang hidup dalam sebuah peternakan yang memiliki pengetahuan mumpuni, melebihi binatang lain. Keduanya dianugerahi pikiran cerdik. Itulah yang membuat keduanya sampai pada kesadaran kritis bahwa binatang dalam pertenakan telah dijajah dengan sangat keji oleh makhluk berkaki dua bernama manusia.

Kesadaran itu menggerakkan Napoleon dan Snowball merancang pemberontakan. Gerakan itu dilakukan, antara lain, dengan mendoktrin binatang lain bahwa manusia adalah sumber segala penderitaan mereka selama ini. Selain memerah susu para sapi, memakan telur para ayam, manusia juga menyembelih dan memakan babi. Penjajahan itu juga tergambar pada cara manusia mendandani anjing sehingga tampak lucu.

Doktrin Napoleon berhasil. Para binatang di peternakan bisa digerakkan untuk melakukan pemberontakan,  mengusir pemilik peternakan. Dengan begitu, mereka bisa mengatur “roda pemerintahan peternakan” sendiri. Tidak lagi harus menuruti kehendak manusia, binatang kini bisa menentukan jalan nasibnya sendiri. Sebuah masa depan yang gilang-gemilang tampak sudah di depan mata.

Tapi, jauh sebelum impian terwujud penjajahan itu sudah datang lagi. Napoleon dan Snowball mengangkat diri sebagai pemimpin tertinggi peternakan. Dengan manipulasi, mereka mencitrakan diri bahwa keterpilihan mereka adalah kehendak rakyat: penghuni peternakan sekalian. Setelah naik tahta ia membentengi kekuasaannya dengan kekuatan militer: sembilan anjing setia.

Madu kekuasaan membuat duet Napolen dan Snowball harus berkonflik. Dwitunggal itu pecah kongsi dengan cara yang amat tragis. Napoleon mengusir Snowball dengan fitnah yang keji. Itu membuat Snowball yang sebenarnya lebih memiliki komitmen mempertahankan cita-cita  “pemberontakan” harus tersingkir. Dia diasingkan, namanya dipeyorasikan sebagai sumber segala masalah.

Sepeninggal Snoball, praktis Napoleon tidak memiliki kendala apa pun lagi untuk menjadi penguasa tunggal. Selain membentengi diri dengan anjing penyalak, ia mengembangkan mekanisme doktrin. Salah satunya dalah menenamkan kebencian kepada manusia melalui slogan “kaki empat baik, kaki dua jahat.” Dengan slogan itu Napoleon mencegah rakyatnya berhubungan dengan manusia.

Tapi ketika Napoleon berkuasa penuh, dan kenikmatan kekuasaan semakin memabukkan, ia sendiri yang justru membuka pintu doplimasi dengan manusia. Ia mulai menjual telur yang dihasilkan rakyatnya agar ia bisa memperoleh minuman beralkohol. Dengan argumentasi meningkatkan kesejahteraan, ia jua menjual susu yang dihasilkan sapi, rakyatnya sendiri. Bahkan ia mabuk-mabukkan dengan manusia, bermain judi dengan manusia dalam satu meja.

Sebagaimana pada 1984, Orwell tampaknya tidak tertarik membuat ending cerita yang berbahagia (happy ending). Dalam Animal Farm ia tidak mengakhiri nasib penguasa lalim dengan tragis. Bahkan pemimpin lalim dipertahankan tetpa berjaya, menikmati kekuasaannya yang semakin besar, tanpa ada tanda-tanda akan bangkrut.

Di awal, saya katakan Orwell tidak terlau cerewet berteori tentang bagaimana kekuasaan dijalankan. Namun dengan gaya alegori seperti ini, pesan Orwell bahwa kekuasaan itu memabukkan sangat mudah diterima. Melalui binatang yang dipersonifikasinya, ia menunjukkan “siapa yang berkuasa berpotensi menjadi diktator”, terutama jika tidak ada kekuatan penyeimbang.

Kekuatan personifikasi Orwell dalam novelet ini, bagi saya, adalah kekuatan utama novel ini.  Karakter para binatang ia kembangkan sedimikian rupa sehingga cukup representatif mewakili karakter manusia. Napoleon mewakili karakter “pejuang” yang bertranformasi menjadi diktator. Anjing mewakili kekuatan bersenjata yang kuat namun dungu. Adapun anjing mewakili rakyat penakut, yang merasa tidak memiliki alternatif lain selain menerima nasib apa adanya.

Karakteristik yang dikembangkan Orwell tampak didesain untuk menyindir Uni Soviet. Ini sekaligus mewakili sikap politik Orwell yang senantiasa skeptis pada berbagai bentuk kekuasaan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin redaksi PORTALSEMARANG.COM

Sumber gambar: Animal Farm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.