Triana, Menikmati Kuliah Sembari Jualan Jus di Kampus

TIGA pekan terakhir, Triana Marwati punya kesibukan tambahan sebelum berangkat kuliah. Tiap pagi pada hari kerja mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini memasukkan sejumlah gelas jus dalam termos.

Termos  itu kemudian ia ikat di bagian belakang sepedanya untuk dibawa ke kampus. Di sana ia akan menjual jus itu kepada teman-teman kuliahnya, juga siapa pun yang menginginkannya.

Termos berisi jus itu biasanya Triana letakkan di Gazebo B8 tidak jauh dari tempatnya kuliah di gedung B3. Termos ia tinggal kuliah. Siang atau sore hari baru ia akan tengok kembali. Ia akan tahu seberapa banyak jusnya yang laku.

Jus yang Triana jual adalah milik Ibu Latifah, ibu kosnya. Ibu kos Triana ini memang sudah lama berjualan jus dan buah segar di rumah yang juga disewakannya sebagai rumah kos di Jalan Cempakasari, Sekaran, Gunungpati, Semarang.

Dari obrolan ringan antara Triana dan Latifah pada suatu hari, munculah gagasan berpartner. Sejak saat itulah Triana menjadi reseller jus buatan Latifah. Kesepakatannya: Triana menjualkan jus Latifah dengan harga Rp6 ribu per gelas. Untuk setiap gelas jus yang terjual, Triana berhak mendapat keuntungan seribu rupiah. Jika jus tidak laku, jus dikembalikan Latifah untuk disimpan dalam mesin pendingin.

Dari kosnya di Gang Cempaka, Triana akan mengayuh sepedanya ke Fakultas Bahasa dan Seni. Ia menggunakan sepeda kumbang Phoenix yang sudah dimilikinya sejak masih sekolah dasar (SD). Termos jusnya diikat di jok belakang, tas kuliahnya ia taruh di keranjang depan.

Karena jalan dari kos ke kampus menurun, perjalanan berangkat tidak berat. Tapi saat pulang, Triana sering tidak kuat. Ia akan menaiki sepedanya sampai pertigaan Setanjung, Sekaran. Dari situ ke kos ia akan mendorongnya.

Berapa banyak yang dapat dijual Triana? “Kadang hanya dua, kadang hanya tiga. Tapi kadang-kadang delapan yang saya bawa terjual habis,” kata gadis asal  Purworejo ini.

Diakui Triana jualan jus memang caranya menambah uang jajan. “Kalau sehari dapat 3 ribu, lumayan bisa buat makan sekali,” katanya. “Di Sekaran, seberangnya Mantu Lanang ada warung yang jual makan 3 ribu,” katanya seraya tersenyum.

Namun demikian, keuntungan bukan tujuan tunggal. Selain keuntungan ekonomis, ia mengaku menikmati aktivitasnya itu. Toh, ia tidak pernah kekurangan uang saku.

Tiap bulan mendapat uang Rp800 ribu dari orang tuanya sebagai uang saku. Uang itu sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan, akunya, kadang lebih dan bisa ia sisihkan untuk ditabung. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil yang bekerja sebagai staf tata usaha di SMP Negeri 18 Purworejo.

Lalu kenapa jualan segala? “Nggap apa-apa,” jawabnya.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *