Tri Aulat: “Internet Sehat” untuk Masyarakat

BEKERJA sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan membuat Tri Aulat Junarwoto paham betul dengan internet. Bukan hanya soal teknisnya, ia paham manfaat dan risikonya.

Internet, memang, bisa berakibat buruk terutama karena dapat menyebarkan konten-konten pronografi dengan sangat cepat. Namun menurutnya, kendala itu jangan sampai membuat masyarakat anti internet. Sebab, selain kerugian itu internet memberi banyak manfaat jika digunakan dengan tepat.

Keyakinan itulah yang mendorong guru SMK Negeri 7 Semarang ini menggagas program “Internet Sehat”bagi warga RW 04 Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur. Pria kelahiran 28 Juni 1962 ini bahkan bersikeras membuat hotspot area meski awalnya tidak terlalu didukung warga. Pasalnya, warga masih menganggap internet sebagai “virus” yang menularkan konten-konten pornografi.

“Saya memaklumi cara pandang semua orang, tapi tekad saya bulat dan positif ingin merubah cara pandang mereka menjadi positve thinking. Menurut saya, masyarakat Indonesia harus melek internet. Karena wawasannya bisa lebih luas dan lengkap,” katanya.

Argumen Tri Aulat tak lantas diterima warga. Banyak warga yang menganggap tawaran itu hanya angin lalu.Tetapi semangat Tri tak kendur. Melalui pengajian ta’mir masjid Baitul Makmur yang berada pada kampungnya ia mempresentasikan kembali program “Internet Sehat” pada warga. Saat itu dua-tiga orang mulai setuju, namun warga lainnya masih kuekeuh.

Internet Sehat, bagi Tri Aulat, memang dijadikan proyek sosial. Saat mulai dibuka, ia mengaku harus nombok. Dana Rp 12 juta yang diterima dari pemerintah melalui program SBP Invest pada Januari 2011 lalu hanya cukup untuk proses awal.

“Dulu saya sering tombok untuk membayar bulanannya. Tapi tekad saya sudah bulat. Eman kalau berhenti di tengah jalan,” ujar Tri.

Supaya program itu tersosialisasi ia tak segan menyambangi rumah-rumah warga untuk memperkenalkan internet. Lamban laut banyak warga yang tertarik untuk mengikutinya. Namun ada saja kendala yang di alami oleh bapak dua anak ini. Sinyal wifi di wilayah itu ternyata tidak cukup kuat.

Sinyal lemah karena terhalang oleh bangunan di sekitarnya. Akhirnya Tri menambah repeater pada empat titik yang lemah sinyalnya. Itu ia pinjamkan kepada warga secara cuma-cuma.

Biaya Rp 50 ribua yang dikenakan pada pelanggan terhitung murah. Apalagi, misalnya, kalau dibandingkan dengan biaya warnet Rp 5 ribu per jam. Karena itu, lambat laun banyak warga yang berminat.

Hingga pekan pertama April saja, sudah sekitar 60 persen warga yang menjadi member. Anak-anak di kampungnya pun sekarang dapat belajar dengan media pembelajaran online didampingi oleh orang tuanya.

Menurut Tri, semakin lebar akses warga terhadap internet, peluang berkembang SDM akan semakin luas. Karena itu, ia berharap akan lebih banyak lagi warga yang terkoneksi dengan internet.

”Harapan saya seluruh rakyat Indonesia dapat terlayani internet. Dengan begitu mereka jadi tahu ini-itu, ya I?” ujar pria ramah kelahiran Magelang itu. Ia bahkan bermimpi, di kemudian hari Indonesia dapat bersaing dalam dunia tekhnologi dengan negara-negara lain di dunia. Fatoni Kurniawan

1 Comment

  1. Tri Puas Restiadi

    April 8, 2011 at 1:32 am

    setiap perubahan menuju ke arah kebaikan, niscaya akan membawa keberkahan. kerikil tajam senantiasa menemani didalam perjalanannya. selamat berkarya, semoga mampu mewujudkan impian Indonesia lebih berkualitas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.