Tren Baru di Tengah Pandemi

Tegal – Kenaikan harga sepeda yang signifikan di Tegal akibat tren baru berolahraga dengan bersepeda. Meskipun kegiatan ini merupakan kegiatan positif namun dapat menimbulkan dampak negatif karena kurangnya kesadaran masyarakat akan penerapan keselamatan berkendara sepeda maupun protokol pencegahan covid-19 (17 Juni 2020).

Animo masyarakat untuk sehat di masa pandemi membawa dampak positif untuk rajin berolahraga, salah satunya bersepeda. Tingginya animo masyarakat membeli sepeda, membuat toko-toko sepeda di beberapa wilayah dipadati pembeli. Seperti yang terjadi di Kalom toko sepeda Jl. AR Hakim Tegal, pembeli ramai-ramai mengunjungi toko sepeda untuk memilih dan membeli sepeda favorit mereka. Rata-rata para pencari sepeda ingin mengikut tren sehat dengan berolahraga sambil bersepeda. Salah satu pengunjung toko bernama Ridwan mengaku telah lama memiliki keinginan membeli sepeda, ia sengaja membeli sepeda karena olahraga dengan bersepeda sedang menjadi tren saat ini.

Tingginya minat pembeli sepeda membuat harga sepeda pun mengalami kenaikan 30% hingga 50%. Melonjaknya harga sepeda baru membuat penjualan sepeda bekas di media sosial mulai diminati, salah satunya di marketplace aplikasi facebook. Banyak pengguna facebook yang mencari postingan jual beli sepeda bekas demi memiliki sepeda untuk mengikuti tren olahraga bersepeda di tengah pandemi.

“Sepeda saya sudah lama nganggur, pas lihat banyak yang menggunakan sepeda, saya berinisiatif memposting dan menjual sepeda ini di facebook,” kata Rusminto saat diwawancara, Rabu (17/06/2020).

Bertambahnya jumlah pengguna sepeda rupanya membawa keuntungan sendiri bagi Slamet pemilik bengkel sepeda di jalan Ahmad Yani Tegal. Ia menyatakan bahwa kini bengkelnya ramai, biasanya dalam sehari ia memperbaiki 7-15 sepeda, kini melonjak menjadi 15-30 sepeda sehari. Lelaki berumur 50 tahun itu tentunya sangat senang dan mendukung tren berolahraga menggunakan sepeda di tengah pandemi.

Namun amat disayangkan, tren bersepeda ini membawa dampak negatif, di mana pengguna sepeda tidak mengindahkan keselamatan bersepeda dan protokol pencegahan covid-19. Pasalnya, pengguna sepeda seringkali tidak menggunakan helm keselamatan dan tidak menggunakan masker serta tak menerapkan jaga jarak.

“Helm pengendara sepeda kan tidak diwajibkan seperti helm pengendara motor, jadi saya lebih memilih tidak memakainya. Lagian harganya pun mahal,” kata Radit saat diwawancara, Rabu.

Pria yang ditemui sedang asik bersepeda di alun-alun kota Tegal itupun tak mengindahkan aturan jaga jarak. Terlihat ia bersepeda bersama teman-temannya sehingga menciptakan gerombolan yang dapat memicu penyebaran virus corona.

Pengguna sepeda lain, Nadila (17) mengaku tidak menggunakan masker karena lupa akibat terburu-buru bangun pagi untuk bersepeda.

“Tadi bangunnya buru-buru karena ingin bersepeda pagi-pagi, jadinya kelupaan gak pake masker,” ungkap Nadila saat diwawancara, Rabu.
Kutipan pada laman tegalkota.go.id, Rabu (17/06/2020), Kota Tegal berstatus New Normal di mana seluruh kegiatan masyarakat akan berjalan seperti biasa namun dengan tetap mengindahkan protokol pencegahan covid 19.

Pemerintah Kota Tegal menghimbau masyarakat untuk tetap menjalankan protokol pencegahan covid 19 di manapun dan kapanpun. Gugus tugas bersinergi dengan TNI dan Polri untuk tetap memberi edukasi pada masyarakat akan pentingnya penerapan protokol pencegahan covid 19 tersebut.

(Difah Alfinsa Ta’zim)
Berita ini hasil latihan mahasiswa mata kuliah jurnalistik
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Univeritas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.